Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Tentang Kecurigaan Plagiat

oleh Herman RN


maaf puasa telah pun dilisan
maaf lebaran segera tiba
sungguh bijak sebuah pembelaan
terlampau tafsiran bersuka kata

Agaknya tulisan saya yang berkelakar tentang cinta di bulan damai, yang saya sarikan dari amatan terhadap Soneta Soneta Neruda di Serambi Indonesia telah membuka gelisah segenap pembaca sastra. Akibatnya, penikmat dan pemikir sastra saling curiga bahwa “Ada apa antara saya dan Fozan Santa”. Tuding menuding hingga usaha pembelaan pun berseliweran, dari meja warung kopi hingga laman Serambi Indonesia (SI) dan Aceh Institute (AI).

Tak ada yang salah dari sebuah diskusi, baik yang berpihak maupun tidak. Namun, kecurigaan banyak penafsir menggelitik saya harus menuliskan kembali cerita tentang kata “plagiat dan penerjemahan” terhadap sebuah karya sastra di ruang ini. Apalagi, tatkala saya dituduh sangat sinis, mengepul api, dengan menuduh Fozan sebagai plagiat atas sajak-sajak Neruda. Maka, izinkah saya meluruskan resah gelisah itu sehingga rindu-dendam saling hantam dapat dinetralisir, dengan tanpa menafikan bahwa kita sedang berdiskusi, memberi ruang pada ingatan yang menjadikannya barisan kata penuh makna. Sungguh beruntung kita, ternyata dunia sastra belum mati di gampông ini.

Sebelum bertutur panjang, mari kita membetulkan dahulu penulisan nama “bintang” yang jadi pembicaraan. Nama aslinya Ahmad Fauzan, namun ia lebih suka menggunakan gelar pena Fozan Santa. Ingat, Fozan, bukan Fauzan, kecuali memakai nama sebenarnya, baru ditulis Fauzan (Ahmad Fauzan). Terhadap penyebutan ini, Fozan sendiri yang mengatakan pada saya bahwa dia lebih senang disebut Fozan Santa daripada Fauzan Santa. Adapun tentang siapa dia selengkapnya, saya kira ruang ini bukan tempatnya kita bergunjing lepas, kendati ada penikmat sastra yang telah membongkar “aib” Fozan saat mencoba menghujat tulisan saya. Itu akibat pembelaan penuh emosi.

Sebagai sebuah karya sastra, melakukan interpretasi terhadapnya sangat dibutuhkan kontemplasi dengan meninggalkan segenap emosi dari dalam diri. Nah, ini yang menurut saya masih rabun tangkap oleh sejumlah pembaca terhadap “Epigram untuk Fozan Santa”, termasuk penikmat yang mencoba menanggapi Epigram tersebut di SI dan penikmat yang berujar di AI.

Sudahlah dengan penikmat di SI itu, yang manakala ditelisip dengan seksama, tulisan dia memang penuh sangat emosi dan caplok sana-caplok sini. Namun, bagaimana dengan penikmat di AI? Saya tidak mengatakan pembelaan seorang antropolog terhadap Fozan juga berlapis emosi, tapi pengantar tulisan dia dalam “Soal Plagiat dan Karya Sastra”, hemat saya masih perlu diluruskan. Betapa dia mengklem isu plagiat dalam sastra Aceh baru menyeruak di daerah ini dipicu dengan terbitnya dua sajak Neruda yang diterjemahkan oleh Fozan. Padahal, perkara ini sudah lama ada, sejak seniman musik (lagu) Aceh kehilangan estetika kreativitas orisinilnya, dengan menerjemahkan lagu dari luar bahasa Aceh—misal bahasa Indonesia dan India. Penyaduran tersebut bukan haya pada kata dan bahasa, juga berlaku pada irama dan pukulan genderangnya (baca: musik).

Hal ini sejatinya bukanlah kreativitas, melainkan kebutan ide, gagasan, dan proses kreatif sehingga hanya mampu melakukan penggiringan bahasa (juga irama) dari lokal pertama ke bentuk lokal kedua. Saya misalkan begini: dalam bahasa Indonesia ada lagu SMS yang bunyinya “Bang, SMS siapa ini Bang” (sebut saja lokal pertama). Kemudian digiring ke dalam bahasa Aceh secara utuh, “Bang, SMS Seupoe nyoe hai Bang” (lokal kedua). Ini penerjemahan secara terang-terangan. Ada juga penerjemahan yang hanya menyesuaikan irama. Kebiasaanya pada lagu-lagu India, seperti “Ko hey me le gaya” menjadi “Meulumpo keu kaya”. Pada lagu “Sanem” diiramakan dalam bahasa Aceh menjadi “Zahara dara idaman/ aneuk gampông nyang ulon cinta”. Jauh hari sebelum Kardinata melantunkan lagu Zahara itu, Ashraf sudah duluan menyadurnya menjadi sebuah lagu “Tujuh kata cinta yang kau ucap/ kini selalu masih kuteringat”. Artinya, telah dilakukan penyaduran dari bahasa orang menjadi bahasa dia, yang kemudian dikatakan itu sebagai karya dia.

Jika hal seperti ini disebut telah menduduki peran kreatif yang tinggi, betapa mudah sekali menjadi pencipta karya sastra. Tinggal ambil karya orang, terjemahkan dalam bahasa sendiri, katakan sebagai karya sendiri. Lantas, di mana letak kontemplasi proses penciptaan? Apalagi terhadap puisi, setahu saya, menciptakan puisi itu membutuhkan kontemplasi yang sangat mendalam sehingga setiap kata memiliki makna dan tidak akan pernah terbuang. Itu makanya, Ajib Rosidi menyatakan plagiat itu dapat terjadi pada karya secara sebagian, juga keseluruhan.

Adapun tentang Goenawan Mohamad (GM) yang menyatakan puisi tidak dapat diterjemahkan sehingga ada yang berprasangka Soneta 49 dan Soneta 52 adalah milik Fozan, perlu diluruskan. GM mengatakan seperti itu karena dia mahfum setiap kata dalam puisi menduduki makna yang jika diinterpretasikan dapat menimbulkan multitafsir. GM khawatir makna pertama yang dimaksudkan oleh si penyair tidak kesampaian tatkala diterjemahkan oleh penyair yang lain. Makanya dia berpendapat puisi tidak layak diterjemahkan. Hal ini dapat dilihat ketika Fozan menerjemahkan No one can stop the river of the dawn menjadi “Tak ada yang sanggup menghambat sungai baru”, ternyata ada pula yang menerjemahkannya, “Tak seorang pun dapat menghentikan sungai fajar itu”.

Terjadi perbedaan seperti ini karena diterjemahkan oleh lain orang. Tidak tertutup kemungkinan, jika diterjemahkan oleh orang lain lagi, akan lain pula hasilnya. Atau kalau saya boleh ikut menerjemahkannya, akan saya ucapkan, “Tak ada yang mampu menghentikan aliran subuh.” Hal ini sesuai dengan hasil interpretasi saya bahwa soneta tersebut bercerita tentang cinta dan rindu yang dipersonifikasikan Neruda melalui alam secara abstrak, yakni ada kata silam, cahaya, esok, dan subuh. Hemat saya, empat kata ini adalah kata kunci dalam setiap barisnya. Karena itu, daripada penggunaan frasa “sungai baru” dan “sungai fajar”, yang penafsirannya akan menjadi nomina, saya lebih senang menggunakan “aliran fajar” yang masih abstrak seperti kata kunci lainnya: silam, cahaya, dan esok. Nah, bagaimana pula jika sajak tersebut diterjemahkan oleh pengarangnya—Neruda—langsung, akan lain pula mungkin penuturannya, sebab tahulah kita kemampuan berbahasa Indonesia Neruda. Lantas, salahkah proses penerjemahan tersebut? Tentu tidak, sebab ia diterjemahkan secara bebas oleh lain orang. Karena itu, sejatinya penerjemah adalah orang yang bukan sekedar paham bahasa asing yang diterjemahkannya, tapi juga memahami apa yang dia terjemahkan sehingga makna pertama tidak melenceng.

Ingat, ada kata kunci dalam proses sastra ini, yaitu “terjemah”, artinya bukan hasil penciptaan pertama, melainkan hasil kontemplasi dari yang sudah ada. Oleh karena itu, di bagian akhir tulisannya, Fozan dengan jelas mengatakan “Soneta di atas dialihbahasakan dari versi Inggris Cien Sonetos de Amor.” Hal ini dilakukan Fozan agar dia tidak ingin dikatakan sebagai pengarang penyadur. Ia hanya ingin berkata bahwa telah menerjemahkan Soneta Neruda dari versi Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Artinya, ia tidak ‘gila’ mengatakan karya orang menjadi karya dia. Ini pulalah sebenarnya yang saya ungkapkan melalui “Epigram untuk Fozan Santa”, karena saya tahu Fozan mahfum benar tentang proses penciptaan sebuah karya, mana yang dikatakan plagiat, penyadur, penerjemah, atau karya dasar (asli). Namun, bayak orang salah pengertian ketika memahami tulisan saya itu sehingga beranggapan saya telah menuduh Fozan plagiat.

Padahal, kalau mau memahami dengan baik, Epigram itu hanya menegaskan bahwa Fozan sebenarnya penerjemah, bukan pengkarya terhadap Soneta 49 dan Soneta 52 sehingga perlu ditanyakan mengapa kata “karya” bisa melekat di belakang nama Fozan Santa. Jangan-jangan itu terjadi karena kelemahan pemahaman dari redaktur sebuah media. Oleh karenanya, pada sebuah paragraf, saya katakan seorang redakur budaya (sastra) mesti memahami benar terhadap proses kreatif pengkarya sehingga tidak gelagapan menerima karya orang, lantas membubuhkan kata “karya” di depan nama si pengirim naskah. Ini persoalan manajemen, bahwa memberikan (mempercayakan) sesuatu mesti kepada ahlinya. Jika tidak, ya begini jadinya. Orang mengirimkan karya terjemahan, oleh si penerima dengan gamblang mengatakan karya asli si pengirim, mungkin karena berpikir bahwa yang mengirimkan naskah sudah punya nama besar.

Sekali lagi, kekurang-yakinan saya bahwa Fozan berani meletakkan kata “karya” di depan nama dia terhadap Soneta itu berdasarkan pantauan saya pada Soneta 45 dan Soneta 80 yang dimuat di Harian Aceh. Di sana jelas Fozan menyebutkan “Soneta Soneta Neruda” diterjemahkan oleh Fozan Santa dari versi Inggris. Tidak ada kata “karya: Fozan Santa” pada sajak yang dimuat Harian Aceh itu. Makanya, saya masih mempertanyakan apakah benar Fozan yang melabelkan kata “karya” di depan nama dia? Bukan malah menuduh dia plagiat seperti sangkaan banyak penikmat sastra.

Akhirnya, harus dipahami dan dibedakan pula makna dari setiap kata: plagiat, penyadur, penerjemah, pencontoh, dan penyair/pengarang/penulis asli. Sejatinya, seorang tukang kritik terhadap hasil kritikan orang, mencermati benar setiap baris kalimat yang akan dikritiknya seperti memahami makna kata-kata tersebut di atas. Kita tak ingin memperbanyak salah paham, apalagi sudah dekat hari lebaran, sudah waktunya bermaafan, bukan menanam dendam hanya dari sebuah prasangkaan. [Herman RN | Alumni PBSID Unsyiah]

Iklan

Filed under: Essay

5 Responses

  1. Nana Cicio (Ratna Sari) berkata:

    ketika nana membaca tulisan ini, saya jadi teringat tepatnya tgl 8 september ketika itu saya mulai masukkerja, saat itu nana langsung ingin mengirim sms ke saudara Herman, kebetulan nana baru bertemu dgnnya ketika peluncuran buku “TOLONG BERI JUDUL” hanya saja kemudian saya urungkan niat tsb…lantas hari ini setelah hampir 1 bulan eh nana kembali menemukan masalah ini disini, tadinya iseng buka2 internet lagi suntuk dikantor, ehm tapi ada hal yg ingin nana share meskipun pikiran lagi mumet…
    so, ingat tidak ketika kita dulu masih kecilmasih kanak2 nah pada saat diajukan pertanyaan atau membuat karya, kita cuma menyimpannya dalam hati atau kita udah buat tapi telat kasih, atau kita sudah punya ide hanya saja belum kita publish, nah ketika tugas tsb dikumpulkan ada diantara kita yg berseru “eh itu kan sam kek yg saya buat dirumah tadi malam!!! atau lho tadi saya mau buat kek gitu tapi ga jadi…nah nana yakin kita bisa mengambil pesan moral yg nana maksud..ehm ada lagi ketiak seorang ilmuwan yg menemukan sebuah teori, atau rumus, atau postulat dsbnya..terkadang ide2 yang ada bisa saja sama dengan orang lain, dan saya juga sering mengalaminya, ketika dulu saat nana bekerja di radio, ada banyak ide yg saya hadirkan hanya saja karena keterbatasan waktu, fasilitas dan dana pastinya program tersebut ga jalan, terpendam seiring waktu, nah ketika suatu waktu radio tsb membuat program yg sama ketika nana ga lagi siaran, mungkin dalam hati nana akan bilang lho itu kan kek program saya dulu, nah tentu saja nana yakin mereka g anyiplak tetapi bisasaja ide2 tsb hadir dalam hati yg berbeda, terinspirasi dari hati dan pikiran kita masing2 …saya rasa itu bisa menjadis ebuah renungan, saya akui nana tidak berhak men vonis seseuatu, tapi bagi nana melihat sesuatu dari dimensi yg berbeda itulebih indah dan bijaksana…are agree with me??? UP TO YOU baby
    dame2 mantong, hidup ini sudahsusah jadi jangan dibikin susah, lurus2 aja…

  2. Nana Cicio (Ratna Sari) berkata:

    ehm saya jadi teringat akan sesuatu, dulu saat itu nana masih kelas 2 SD jadi ada film serial kung fu yg filmnya oke banget, trsu ada film lady of the poor dari thailand, jadi ketiak libur telah habis dan sekolah udah aktif lagi, otomatis nana ga bisa menonton film itu dgnsempurna, yang paling nana ingat nana terpaksa ngumpet and nyolong2 keluar kelas manjat dinding rumah si pengawas sekolah untuk bisa nonton, dgnsesekali lari2 takut gur udah tiba, dan kadang2 perasaan tidak tenangpgn cepat pulang, saat itu nana kecil berfikir akan sebuahteknologi yaitu adanya TV kecil yg bisa dibawa kemana2, dan ada ga sih benda kek telepon yg punya fitur TV jadi bis amasukinkantong baju seragam, so 14 tahun kemudian hal yg pernahs aya mimpikan bahkan nana pernah membuat rancangan bentuk dari TV kecil idaman, saat ini telah menjadi barang yg mudah didapat bukan lagisebuah mimpi, so apakah nana akan bilang klu penemu tersebut plagiat??? tentu tidak karena nana sadar nana tidak mampu merancang dan tidak ahli dalam bidang elektronika, danmasih banyak benda2 elektronik lain yg pernah nana gambar dan nana cetuskan ide2 di depankawan2 SD saat ini semuanya udah berhasil ditemukan..so, balik lagi ke pasan moral, bahwa terkadang ide genius dan luarbiasa bisa hadir dalam hati yg berbeda dan belahan dunia yg beda, hanya saja kita harus ingat bahwa sehebat apapun ide kita itu ebrasal dari Tuhan, TUhanlah yang mengirimkan sinyal2 kekegeniusan ide2 tersebut pada orang2 yg Tuhan pilih…hanya saja kesempatan yg diberi tidak termanfaatkan dgn baik, atau kita terlambat , dan orang lain lebih dulu jauh melangkah…so, di bulan yg suci ini bersihkan hati, dengan saling memaafkan, karena ga ada yg sempurna dalm hidup ini,…justru ketika mimipi kita untuk menjadi bintang tidak terwujud karena itu ga akan mungkin terjadi,TUhan punya danmenanugerahkanmoment ygluarbisa untukkita bahwa kita bisa menjadi bintang di setiap hati manusia , dan bintang yg paling indah adalah ygmemaafkan setiap kesalahan manusia krn kecintaannya pada ALLAH SWT…bintang meskipun letaknya jauh di langit hitam kelam namun cahaya selalu nampak terang kebumi memancarkan cahayanya memberikan ketenangan dan kedamaian bagis etiap insan yg menatapnya…so adayg pegn jadi bintang ga???
    nana ingin menjadi bintang…dan aku yakin kamu juga bakalan memiliki mimpi seperti itu…

  3. mudawali berkata:

    di Banda Aceh banyak sekali buku-buku karya penulis kita yang tahun 2000-an ini dicetak ulang dengan isi 99% sama dengan buku sebelumnya dan diganti dengan nama pengarang yang berbeda. Saya miris melihatnya. Saya menemukan sebuah buku tentang pengobatan Aceh yang ditulis oleh beberapa orang (A,Az,R) tetapi oleh R dan B buku tersebut ditulis kembali 99 % sama dengan mencantumkan nama mereka berdua saja apakah ini sebuah plagiat ?

  4. lidahtinta berkata:

    Untuk mengetahui plagiat atau tidaknya, kita harus melihat kembali kadar penulisan dia. Kalau memang yang Mudawali maksudkan 99% itu benar, si penulis (R dan B) jelas merupakan plagiat. Namun, kalau hanya berupa ide, itu boleh dikatakan R dan B terisnpirasi dari buku sebelumnya, bukan plagiat. Untuk lebih jelasnya, Mudawali dapat memperlihatkan buku tersebut ke saya (kalau tidak keberatan), nanti kita diskusikan plagiat atau tidak. Silakan kontak saya di katapelangi@yahoo.co.id

  5. andi berkata:

    plagiat tetap plagiat, jauh dari kata toleransi bila mendegar kata plagiat. seperti pram mengklaim hamka.
    entahlah, aku masih ragu mendengar fozan berlakon seperti itu namun fakta lebih membuat pikiranku tak bersikap subjektif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: