Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meusyén

Oleh Herman RN

Kemarin, kita baru saja dikejutkan dengan kepulangan Gubernur Aceh secara tiba-tiba dari persinggahan perawatannya di Singapura. Yang lebih mengagetkan, kehadirannya hanya sekali putaran rotasi bumi pada porosnya. Ya, hanya sehari, lalu dia kembali meninggalkan Aceh dan rakyatnya. Padahal, Hari Kemengan Fitri sudah di depan hidung.

Alasannya sederhana, dokter yang menangani kesehatan gubernur mengatakan bahwa pemimpin Aceh itu masih butuh perawatan di Singapura. Namun, ada pesan yang dititipkan gubenur kepada bangsa Aceh. “Meskipun saya berhari raya di Singapura, jangan terkejut kalau suatu waktu sudah berada di dataran tinggi Gayo atau pedalaman Sabang,” katanya seperti dilansir beberapa media lokal Aceh.

Ada yang membuat kepulangan gubernur terjadi mendadak, yakni meusyèn. Jika kepulangannya ke Aceh beberapa hari lalu adalah meusyèn kepada rakyat Aceh, terutama kepada para yatim sehingga dia menyempatkan diri dari jauh pulang ke Aceh, tak mustahil pula seperti yang dia, jika meusyèn berikutnya tiba, dia akan tiba di salah satu pedalaman Aceh.

Ternyata penyakit meusyèn juga sedang melanda Hasan Tiro. Lelaki 83 tahun yang kerap disapa Wali Nanggroe itu agaknya sedang meusyèn kepada Aceh. Meusyèn Wali telah membuahkan rencana akan saweue gampông. Jika tak ada aral melintang, 11 Oktober mendatang Wali sudah di Aceh. Demikian kata kabar. Sayangnya, meusyèn Wali kepada gampôngnya mengalami sedikit ‘kekeruhan’. Kendati dia berniat saweue gampông sendiri, dia diharuskan menyiapkan segala bekal surat-surat bahwa dirinya adalah seorang pendatang.

Dari kalangan pasukan pengaman negara pun mulai mengambil sigap. Lihat saja penegasan Kepala Pusat Penerangan TNI, Marsekal Muda Sagom Tamboen. Sangat tegas dia mengatakan akan “Mengawasi” Hasan Tiro, bukan “Mengawal”. Dua kata yang mirip, tetapi memiliki makna berlawanan. Kata “Mengawasi” menunjukkan tidak percaya. Inilah yang ditunjukkan negara republik Indonesia melalui tentaranya. Ada rasa ketidakpercayaan Indonesia kepada Aceh bahwa Serambi Makkah ini sudah damai sehingga mesti mengawasi Wali Nanggroe Aceh yang pulang ke Aceh.

Miris memang, ketika pulang ke tanah tumpah darah sendiri mesti dicurigai. Namun, apa boleh buat, negara ini memang sudah terbiasa dengan curiga mencurigai. Namun demikian, kita percaya Wali masih memiliki darah Aceh sehingga jika meusyèn sudah di dada, jangankah suara senjata, suara geulanteue pun takkan jadi penghadang. Apalagi, sekedar suara manusia biasa. Sama mungkin seperti meusyènnya gubernur beberapa hari lalu yang menyempatkan diri pulang ke Aceh, meskipun (katanya) dalam keadaan sakit, demi meusyèn dia kepada yatim piatu Aceh.

Akan tetapi, karena negara ini sudah mengajarkan kita perihal “curiga”, mungkin tak salah jika ada anak Aceh yang menanamkan sebuah kecurigaan pula bahwa kepulangan Wali ke Aceh hanya sekedar isu untuk mengalihkan gebyar Pemilu di Bumi Iskandar Muda ini. Pasalnya, bukankah kabar Wali akan pulang ke Aceh sudah pernah ada sebelumnya? Namun, kenyataannya sampai sekarang kabar kepulangan Wali itu tak lebih dari cara menarik isu alias ada propaganda di balik semua kabar-kabari tersebut.

Sungguh, saya tidak tahu propaganda siapa saat itu dan saya kira memang tak perlu lagi memikirkan perihal propaganda tersebut. Yang ada dalam harapan saat ini hanyalah 11 Oktober 2008 akan menjadi sejarah di mata dunia bahwa Hasan Tiro masih meusyèn kepada Aceh, meski dia sudah menjadi penduduk negara asing. Saya yakin, jika memang Wali saat ini benar-benar meusyèn kepada Aceh, meskipun diawasi dengan berjuta pasukan dan bertriliun bedil serta bermiliar ucapan sumbang, tetap dia akan sampai ke Aceh, bertatap muka dengan masyarakat Aceh. Sebab, ureueng Aceh punya kearifan yang sangat kuat jika sudah dilanda penyakit meusyèn. Hal ini tertanam dalam hadih maja, “Meunyo ka meusyén keu rakan sahbat, reudôk keu tungkat, kilat keu sua.” Hemat saya, Wali paham benar naritmaja itu sehingga kendati dia sudah hidup bagai kijang di rantai emas, saat dilepas tahu larinya ke hutan juga. Wallahu’alam.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: