Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Banyak Jalan Menuju Tuhan

oleh Herman RN

Banyak jalan menuju Tuhan! Ya, benar, tapi tidak sama dengan banyak jalan menuju Rhoma atau banyak jalan menuju Banda Aceh, yang boleh ditempuh lewat darat, boleh jalan laut, boleh pula jalur udara. Banyak jalan menuju Tuhan taklah sama dengan banyak cara menuju hutan, yang boleh dilalui pakai kendaraan bermesin, boleh pakai jasa hewan seperti unta dan kuda, boleh pula jalan kaki. “Banyak Jalan Menuju Tuhan” haya sekedar sebuah cerita yang diamprahkan oleh seorang novelis Sumatera Barat yang meninggalkan dunia sastra dalam usia 79 tahun.

Kita tentu masih ingat dengan “Robohnya Surau Kami” karangan almarhum A.A. Navis. Sebuah gebrakan terhadap pemikiran awam masyarakat tentang penilaian Allah swt. sehingga mendapatkan imbalan syurga. Keberanian penulis asal Sumatera Barat itu mendapat sambutan besar di dunia sastra. Melalui sebuah cerita fiksi, lelaki bernama lengkap Ali Akbar Navis itu mampu membuka cakrawala pikiran manusia tentang menggapai cinta Tuhan yang kita sebut imbalannya syurga.

Sedikit merefleksi interpretasi teks Navis, bahwa beramal kepada sang khaliq tidak semata-semata harus dilakukan dengan salat, puasa, zakat, sadaqah, dan naik haji. Namun, beramal juga dapat dilakukan dengan berbuat sosial dalam kehidupan masyarakat. Kata Nabi saw., memberikan senyum saja kepada orang lain sudah beramal.

Melalui karya yang sempat heboh di tahun 1955 itu, Navis, lelaki kelahiran Padang Panjang 17 November 1924, telah menunjukkan bahwa Tuhan sangat jauh berbeda dari manusia, dalam artian Tuhan bukan gila disembah, gila dipuji, gila disanjung, kendati kalimah sahadat memiliki makna segala puji hanya bagi Allah. Namun, yang diinginkan-Nya adalah sang hamba bertaqwa kepada Dia. Hanya itu, kata A.A. Navis lewat novelnya.

Taqwa tentu saja dapat dilakukan dengan beramal saleh. Beramal saleh banyak cara dan jalannya, salah satunya adalah tidak membiarkan orang lain menderita. Konteks ini, saya ambil berdasarkan teks sastra Navis.

“….kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal walau engkau miskin. Engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu tidak lainhanya memuji-muji dan menyembah-Ku saja? Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Demikian secuplik cerita dalam “Robohnya Surau Kami”. Gambaran fiksionis Navis dalam dialog seorang hamba dengan Tuhan itu sangat jelas hendak memperlihatkan sekaligus menegaskan bahwa kita hidup dalam dunia tidak sendirian. Membutuhkan pertolongan orang lain adalah keniscayaan dalam hidup. Menolong orang lain merupakan salah satu jalan “menuju Tuhan” di samping beribu jalan lain yang kita sebut dengan ibadah. Lalu, yang beribadah semalam suntuk di meunasah-meunasah, surau, atau mesjid, apakah salah? Tidak, tak ada yang salah dengan ibadah, tetapi Allah menginginkan kita agar tidak melupakan yang kecil, yang kita anggap sederhana dalam hidup ini sebagai bukti bahwa Dia mencintai semua yang ada di muka bumi ini.

Hal yang sangat menarik jika kita angkat dalam konteks Aceh sekarang ini adalah kalimat “…kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras.”

Saya kira kalimat itu sangat cocok dengan kondisi Aceh saat ini. Sejumlah perusahaan besar di Aceh dipimpin oleh orang luar. “Buya krueng tahé teudong-dong, buya tamoeng meuraseuki,” kata hadih maja Aceh. beberapa hasil bumi Aceh, hanya secuil dapat dirasakan orang Aceh, itu pun tidak merata. Yang duduk di kursi goyang, duduklah terus, yang makan daging rendang, makanlah terus, yang tinggal di gedung bertingkat dan memiliki mobil mewah mengkilat, puaslah terus. Di sisi lain, yang bertengkar karena hanya sebilik barak, bertengkarlah terus. Yang berebut selembar ribuan dari pintu ke pintu, berebutlah terus. Sungguh realisme ureueng Aceh dalam novel yang dikarang oleh suami Aksari Yasin itu.

Melihat kenyataan tersebut, apa yang dimaksudkan oleh Navis dalam “Robohnya Surau Kami” dapat diselaraskan dengan sebuah puisi Tengsoe Djahjono yang berjudul “Hompimpa”. Apabila Navis menggambarkan secara perspektif dalam “Robohnya Surau Kami” lalu mampu mebuka kesempitan pemikiran kepada sejumlah orang tentang cara beribadah. Artinya, yang dimaksudkan Navis dengan ungkapan beribadat saja belum tentu masuk surga, maka Djahjono secara tegas mengatakan tidak semua yang berpakaian sufi itu menggambarkan kekuatan peribadatan seseorang. yang berjanggut belum tentu ayam, karena musang pun sudah pintar memakai janggut di zaman sekarang. Hal ini sesuai bunyi sajak “Hom Pim Pa” //apa katamu bila hidup ini hompimpa/ siang orang sufi malam berkostum pencuri/ topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya/ maka berubahlah setiap saat/ biar perut terganjal, panjang usia dipersempit limitnya//.

Lantas, apa yang merekka lakukan dengan embel-embel “Atas nama rakyat” sehingga dapat rumah bertingkat itu dapat dikatakan jalan menuju Tuhan? Apakah yang berpakaian sufi siang malam dapat dikatakan akan bertemu Tuhan? Masih banyak jalan menuju Tuhan dan di sini masih banyak fakir, miskin, janda, dan yatim, yang masih mencari di mana kasih sayang Tuhan yang dititipkan kepada yang lebih mampu. Wallahu’alam.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: