Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Hari Raya

oleh  Herman RN

Hari raya adalah hari besar, hari yang menjadi sejarah bagi sekelompok umat. Hari itu dianggap suci. Misalkan Hari Raya Waisak, menjadi hari besar dan hari suci bagi penganut agama Budha, Hari Raya Nyepi menjadi hari suci bagi penganut agama Hindu, Hari Natal menjadi Hari Raya dan suci bagi penganut agama Kristen–namun penganut agama ini ada juga Hari Raya yang lebih berharga dari Hari Natal, yakni Jumat Agung dan Hari Paskah.

Sudahlah dengan hari-hari itu, Islam juga memiliki hari agung dan akbar, yang juga disebut dengan Hari Raya. Lazimnya, hari itu ada dua kali dalam setahun, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Dikatakan sebagai Hari Raya karena ia menjadi hari kemenangan, hari merdeka dari cobaan. Hari Raya Idul Fitri misalnya, ia menjadi hari kemerdekaan dari cobaan menahan hawa nafsu selama lebih kurang sebulan dalam bentuk puasa. Nabi Muhammad saw. sendiri mengatakan (puasa) menahan hawa nafsu sebagai perang terbesar melibihi dahsyatnya Perang Badar yang menjadi perang terdahsyat sepanjang sejarah kenabian.

Entah karena itu, ia perlu dirayakan yang kemudian disebut orang dengan Hari Raya. Maka berlomba-lombalah umat Islam sedunia merayakan hari kemenangan tersebut yang dikatakan sebagai hari kembali ke fitrah, kembali suci seperti kain atau kertas putih. Diamsalkan juga seperti anak yang baru lahir.

Sekali lagi entahlah… entah karena anggapan kembali seperti anak baru lahir, orang-orang merayakannya dengan tertawa terkekeh-kekeh, di samping ada juga yang menangis tersedak.

Seperti anak kecil? Ya, seperti anak kecil yang belum dapat membedakan mana api dan yang mana emas, mana riak dan mana gelombang, mana sungai dan mana hanya berupa kolam, lantas orang-orang mengerjakan mana yang tampak asyik di pandangan, mana yang terasa nyaman di pegangan, dan mana yang terasa nikmat disantapkan.

Anak kecil, tidak tahu membedakan mana kotoran dan mana yang bisa dimakan. Asal sudah dapat dipegang oleh genggaman, langsung masuk ke mulut. Serupa itulah kira-kira sejumlah orang di kampong seberang merayakan hari kemerdekaannya. Kendati dia sudah dewasa, mencari yang nikmat dirasa selalu menjadi terdepan dan di muka. Maka bergumullah mereka di atas sepeda, mobil, becak, sepeda motor, dan segala jenis angkutan lainnya. Berpelukan sembari membagi tawa, renyah dan “merdeka”.

Yang Hana patôt pun dipeupatôt, gaki untôt diboh geunta, yang hana layak pun dipeulayak, jaroe supak dibôh gaca. Yang penting Hari Raya.

Di tepi sebuah kolam, pula mereka mandi bersama. Bukankah Hari Raya merupakan hari pembersihan diri? Sekali lagi kembali pada kata “maka”, maka bermandianlah mereka dalam satu lingkaran ban mobil bersama lain jenis kelamin. Selanjutnya entah apa yang terjadi di sebuah gubuk reot pinggir pantai. Angin hanya berhembus menelisip, mengintip dari celah atap gubuk yang hanya berupa daun ilalang atau daun rumbia itu. Di tempat yang lain lagi, tak ada gubuk, tak ada atap, tak ada tikar, hanya beralaskan rumput yang tumbuhnya pun sudah jarang-jarang, sepasang insan dewasa rebahan. Pasir-pasir terjepit di bawah lutut dan paha mereka. Sedangkan semut, lari ke lubangnya, mungkin malu melihat adegan Hari Raya itu.

Kembali kepada kata “entahlah”, entahlah ini yang disebut Hari Raya penuh kemenangan. Di saat polisi, WH, atau apa pun jenis aparat keamanan lainnya yang biasa memberikan dakwah dan syiar terhadap larangan syriat, menjadi diam. Semua sibuk merayakan Hari Rayanya, hari penuh kemerdekaan melakukan apa saja. Ada yang sampai melakukan Hari Raya tersebut di jalanan hingga menuju kemerdekaan hakiki, menghembuskan napas terakhir di bawah gelombang laut, di bawah ban kendaraan, atau terjungkir ke dalam jurang. Hari ini Hari Raya, wajar saja.

Tuan mungkin lupa, di sana syetan yang katanya dirantai selama sebulan puasa baru saja bebas. Syetan-syetan itu minta jatah sedikit dan sedikit lagi, ya, sedikit lagi, merayakan hari kemenangan ini. Tentunya raja syetan yang sudah dirantai dengan rantai paling besar selama sebulan itu sedang merakan Hari Raya juga menyaksikan umat manusia yang sedang berhari raya dengan suka ria. Raja syetan dan bebuyutnya terus tertawa sembari meneguk darah dan nanah yang menyembur dari setiap regangan nyawa yang mati di hari ini. Raja syetan itu berujar, “Terus.. terus.. rayakan Hari Raya ini. Di kolam, di laut, di jalanan, dan di berbagai tempat persinggahan rayakan Hari Raya ini.”

Lantas, siapa sebenarnya yang sedang berhari raya? Syetan atau manusia???

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: