Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mirip

Oleh Herman RN

Entah dosa apa yang menimpa gampông Lamsulet sehingga setiap yang mirip-mirip dilarang ada di gampông tersebut. Ironisnya, masyarakat di sana menyukai yang mirip-mirip itu.

“Serupa tapi tak sama,” kata sebuah pepatah. Namun, di gampông Lamsulet, yang serupa dilarang meskipun orang-orang tahu benar serupa itu tidak sama. Kembali pada perkara tadi, entah penyakit apa yang menimpa masyarakat di sana sehingga sangat menyukai keserupaan tersebut.

Bermula dari sebuah nama yang mirip, banyak orang gampông Lamsulet yang meregang nyawa secara mengenaskan. Sebuah kisah pernah terjadi di daerah itu menimpa Apa Dolah. Karena namanya Dolah, mirip dengan nama seseorang yang dicap sebagai buron, yakni Abdullah, Apa Dolah akhirnya disiksa oleh para pemburu buron. Beruntung dia masih selamat meski saat ini alat vitalnya tidak berfungsi lagi. Alat vital Apa Dolah dijepit pakai tang dan disetrum saat dia dipaksa mengaku bernama Abdullah yang menjadi buron.

Bukan hanya dia, masih ada yang lain, seperti menimpa seorang pelajar. Meski masih berposisi sebagai seorang pelajar, karena namanya mirip dengan nama salah seorang buron, pelajar itu sampai sekarang tidak diketahui rimbanya hingga keluarga pelajar tersebut dan orang-orang kampungnya sepakat bahwa si pelajar sudah meninggal dunia.

Karena dilarang bernama mirip dengan orang-orang kampung, penduduk Lamsulet akhirnya sepakat memberi nama anaknya yang baru lahir mirip dengan nama orang-orang kota seberang, misalkan saja Suparta–mirip dengan Suparto, Surya–mirip dengan Suryo, Sucipta–mirip Sucipto, dan seterusnya.

Sayangnya, nama-nama mirip penduduk kota seberang itu hanya dapat membebaskan diri dari para pemburu buron. Sebaliknya, saat bertemu dengan orang-orang yang mendukung para buron, penduduk Lamsulet kembali terancam. Jangankan pada nama, wajah saja jika kedapatan mirip penduduk seberang, langsung dicap sebagai pendukung penjajah dari kampung seberang. Singkatnya, penduduk Lamsulet selalu hidup dalam keterjepitan. “Batee jimiyuep batee jiateuh, nyang hancô boh limèeng di teungoh-teungoh,” begitulah tamsilannya.

Kemarin, perkara mirip-mirip yang disenangi penduduk gampông Lamsulet itu kembali terjadi. Namun, kali ini bukan pada nama manusia, melainkan pada kertas, kain, dan papan. Karena mirip dengan lambang bendera sebuah kelompok yang pernah diburu, Abu Din dan kawan-kawannya mesti mengganti nama partainya hingga beberapa kali. Lambang bendera partainya pun diganti. Hal itu dilakukan Abu Din demi dapat mengikuti pemilihan umum yang hanya tinggal lima bulan lagi.

Kendati sudah berganti nama partai dan lambang, ternyata persoalan mirip-mirip belum juga tuntas di gampông Lamsulet. Kemarin, pamplet partai Abu Din dirobohkan oleh pihak keamanan. Dalihnya masih sama, yakni “mirip”. Pamplet partai Abu Din disebutkan masih mirip dengan gambar bendera yang pernah berkibar di gampông Lamsulet sebagai bendera “pemberontak” semasa konflik lalu.

Entah sampai kapan persoalan mirip-mirip ini akan berakhir, tak ada yang tahu. Baik Abu Din, Apa Dolah, maupun penduduk lainnya masih asék-asék ulèe, namun masih menyukai kemirip-miripan itu.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: