Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Salam dari Balik Terali Baja untuk Wali Nanggroe

Nun jauh di seberang pulau itu. Namanya Ismuhadi, narapidana politik asal Aceh yang masih mendekam di penjara Cipinang, Jakarta. Ia terbata-bata saat mengawali percakapan kecil melalui handphone, Selasa (7/10) pukul 10.30 WIB. Lalu, ia bercerita kepada Harian Aceh dengan nada rindu dan gelisah selama kurang lebih 30 menit.

Saat bicara, ia menghembus nafas berat berkali-kali, seakan dinding beton terali baja di sana menghimpit dadanya. Pembicaraan sering terhenti karena desahan nafas beratnya. Kata-kata yang meluncur pun tergagap dari mulut lelaki yang selalu menuntut kebebasan itu. Dia selalu menjerit memohon hak pembelaan diri sebagai anak manusia, ia merasa ditinggalkan kawan-kawan seperjuangannya di Aceh.

“Tulong sampaikan saleuem lon ke Wali Teuku Hasan Di Tiro. Lon deungo wali geunak gisa u Aceh tanggai 11 enteuk,” tuturnya terpotong-potong dan terisak. Suaranya menyampaikan jeritan orang yang menahan derita panjang, yang belum memperoleh obat penawar yang tepat untuk kesembuhannya.

Lon that ingin meurumpok ngon Wali,” ucapnya lagi setelah sekian lama terdiam.  Suaranya juga terasa semakin meredup sayup ketika ditanya mengapa dirinya tidak langsung menghubungi teman seperjuangan dulu, seperti di KPA, untuk bisa menyampaikan salamnya kepada Wali Hasan. Ia tidak menyahut, tapi diam, seolah tidak menemukan jawaban yang tepat.

“Kamoe tinggai 3 droe Napol Aceh di penjara, belum dibebaskan dari Cipinang. Dari dulu hingga sekarang mantong berjuang untuk Teungku Hasan. Tulong neusampaikan siat beh,” tuturnya lagi, seolah tidak peduli dengan pertanyaan tadi. Mungkin saja ia tak bisa mendengar selain tangisannya dalam kurungan terali baja itu.

Pembicaraan yang kesekian kalinya dengan Harian Aceh ini terasa berbeda dengan sebelumnya. Kalau dulu, bicaranya menggebu-gebu, namun kali ini jauh lebih lembut dan penuh dengan suara isak tangis. Ismuhadi mengaku sangat senang wali tampil ke publik Aceh, setelah sekian lama berada di Swedia untuk memimpin perjuangan Aceh menuntut harga diri.

Di sisi lain, mantan Panglima GAM Wilayah Jakarta Raya—era garis komando GAM dipimpin Tgk Abdullah Syafie’i—ini mengaku sedih karena dirinya tidak bisa menyambut kepulangan Wali Nanggoroe. Dirinya masih mendekam di balik jeruji baja dengan masa hukuman yang tiada ujung dan derita yang tiada akhir. Ia sangat merasakan, betapa mahal harga yang harus ia bayar demi sebuah perjuangan yang dipimpin orang yang beberapa hari lagi pulang ke Aceh itu. Ia ingin melihat orang yang ia keramatkan selama ini.

Saleum laher baten dari kamoe ban 3 (Napol—red) untuk wali beuh!” isaknya sebelum menutup telepon. Dari nada suaranya ia tidak yakin salamnya untuk Wali Nanggroe yang ia puja akan sampai, sebagaimana ia tak yakin dapat keluar kurungan terali baja itu sebelum ajalnya tiba.

Ismuhadi Jafar adalah satu dari tiga Napol Aceh yang masih mendekam di penjara Cipinang, Jakarta. Dia dijerat pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan hukuman seumur hidup. Putusan Mahkamah Agung RI No 275-k/pid/2002/MA RI tertanggal 6 Juni 2003 karena keterlibatan makar dengan Gerakan Aceh Merdeka dan tahun sejak 24 September 2000, ditahan di Lapas Kelas 1 Cipinang Jakarta.

Jeritan Ismuhadi menunjukkan keberadaan dirinya yang masih mendekam di penjara Pulau Jawa nun jauh di sana. Semoga salamnya sampai ke telinga orang yang ia puja selama ini. Ia sendiri bimbang tentang sampai atau tidak salam itu, salam yang ia kirim harus menyerangi dua samudra nan dalam dan luas, sangat luas bila dibanding ruang beton berjeruji baja tempat ia akan menghabiskan hidupnya, yang seharusnya dapat digunakan untuk banyak hal lain. Kendati begitu, ia mengharap salamnya sampai.(murdani-harian aceh)

Iklan

Filed under: Feature

One Response

  1. deny berkata:

    Cuma mau bilang………………………………………………………………………………………………..jangan tulis aja donk.

    bantu kek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: