Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meusyén (2)

oleh Herman RN

Masih ingat haba meusyén yang saya tulis di ruang ini beberapa waktu lalu? Saat ini, orang-orang sedang melepas meusyénnya di sebuah kota. Meusyén kepada seorang yang dituakan, yang dihormati, yang diagung-agungkan, yang didoakan, dan tentunya yang dirindukan. Maka berserabutlah orang-orang dari Kuta Raja melepaskan meusyén sembari menjabat hangat tangan sang dituakan tersebut. Pejabat, pejuang, birokrat, seniman, hingga mereka yang dulu buronan, mencari cara masuk dalam burung besi untuk sampai ke negeri jiran melepas meusyén.

Tak terkecuali, wartawan pun ikut-ikutan. Dengan dalih mencari bahan liputan, terbanglah ia bersama si burung besi menjumpai sang lelaki terhormat tadi. “Geuruda phö meuhayak padang, cicém subang phö mehayak donya,” demikian gemparnya meusyén tersebut.

Nun, di sebuah labirin hampa berdinding terali besi, seorang lelaki jiduek teupikoe than soe hiroe, meurhôk ngon jaroe gatai lam dada. Berulang kali ia hanya bisa panjatkan doa, berulang kata pula ia hanya bisa titipkan salam. Entah sampai, entah tidak, asal ada orang Kuta Raja yang menelponnya, terutama wartawan, pesan yang akrab di lidahnya hanyalah “Peutrôk saleuem lôn keu ureueng Aceh.” Kali ini, pesan itu bertambah satu frasa lagi, “Tulông neupeutrôk saleuem lôn keu wali.”

Hanya itu yang bisa dia ungkapkan. Seperti burung, meskipun dirumah-emaskan, tetaplah mata lepas badan terkurung. Serupa itulah dia, si lelaki yang sampai saat ini masih diteralibesikan bersama dua temannya. Kabarnya, dia seorang pejuang yang punya hubungan perjuangan dengan lelaki di negeri jiran tersebut.

Dulu, dia diminta memangku sebuah jabatan di sagoe Jakarta Raya sebagai uleebalang pejuang. Seperti beberapa teman seperjuangannya di daerah lain, dia ditangkap oleh tangan-tangan hukum negara. Lalu, sejak itu dia dikamarbesikan hingga sekarang sudah genap sewindu usianya di kamar tersebut.

Lelaki itu sedang meusyén, sama seperti meusyénnya seorang kepala kampung kepada kampungnya, sama meusyénnya seperti seorang anak menjenguk orangtuanya, apalagi saat kampungnya diamuk gelombang laut, ia juga tak dapat menyaksikan tanah kelahirannya. Semua berlalu menjadi kabar angin. Dan sekarang, dia sedang mendegar kabar seorang yang dituakan ureueng gampôngnya akan melepaskan meusyén esok hari ke kampungnya halamannya.

Ironis, sejumlah teman-teman seperjuangannya yang dulu mengalami nasib serupa diterali-besikan telah mendapatkan remisi. Sedangkan dia…? Berulang kali memekik kepada negara dan kepada teman-teman seperjuangannya, bahkan kepada atasannya, bahwa ingin sekali ia meninjau tanah kelahiran, setelah bedil berhenti meletus, setelah air laut kembali surut. “Sejenak saja, setelah itu penjarakanlah lagi aku,” katanya suatu ketika kepada seorang juru kabar di kampungnya menjelang perhelatan damai, saat orang-orang mendapatkan kebebasan. Namun, semua itu hanya menjadi mimpi.

Sekarang pun, ia sedang bermimpi untuk dapat melihat wajah seorang lelaki yang diagung-agungkannya, sama seperti teman-teman seperjuangannya yang sedang melepaskan meusyén kepada si lelaki teragung tersebut. Akan tetapi, yang terlihat dari teman-temannya hanyalah sifat umum manusia, yakni “lupa”. Ia dilupakan, persis seperti rakét bak pisang, ‘oh leuh ka reda prang, meualôn-alang than soe pandang.

Mungkin benar kata indatu, “Awai boh bayeuk dudo boh panah, panee lom leumah sinalop kana. Meunyo hana ék ta timbôn tamah, panee lom leumah guna meuguna.” Yang sudah hidup dengan kedamaian berlimpah uang, teman seperjuangan mudah dilupa. Uih, dunia… tertumpulah harapan terakhir kepada si lelaki terhormat, entah ia juga sudah lupa, kalau di sebuah bilik sunyi, ada seorang lelaki menanti, menanti uluran tangan walau hanya seujung jari. Ah, Ismuhadi…(ha,10/10/08)

Iklan

Filed under: Haba-haba

One Response

  1. ironis memang..ehm!!!! Nana cuma bisa terdiam, ada banyak hal yg ingin terucap namun tersekat dalam keharuan…it’s life ada yg terkenang, ada yg hanya menjadi org dibalik layar yg hanya dikenal oleh lampu2 dan ruangan namun karya nya yg luarbiasa yg dia hasilkan dinikmatin oleh orang lain, namun adakah mereka bertanya siapa yg menjadi moviemaker or yg berkerja dan oarng ygpaling punya andil akan suksenya sebuah film, itulah hidup terkadang dibalik kesuksesan sebuah film ga semuanya terekspos ide, team kreatif dsbnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: