Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Membela Hutan Lewat Puisi

Judul Buku : Antara Ketambe dan Suak Belimbing

Antologi Puisi

Penulis : Basri Emka dan Darwin Baharuddin

Rancang Cover : Myblue Design

Penerbit : Aliansi Sastrawan Aceh

Tebal Buku : 86 + xii dan cover

Cetakan : Pertama 2008

Perih, duka, dan amarah saat melihat hutan “digerayangi” secara membabi buta oleh tangan-tangan kokoh tak bertanggung jawab. Segala macam bentuk umpatan dan makian kepada penebang hutan ilegal sudah menjadi rahasia umum. Pasalnya, jika dulu kita hanya mengenal banjir bandang kiriman setiap akhir tahun, kenyataannya sekarang, penebangan hutan menimbulkan petaka baru bagi masyarakat yang hidup di pinggir hutan. Satwa-satwa yang hidup bebas dan liar dalam hutan mulai memasuki pemukiman manusia. Tak ayal, korban serangan buaya, harimau, dan gajah, menjadi cerita baru dari sebuah akibat penebangan liar. Akhirnya, terbentuklah sejumlah LSM yang bergerak di bidang lingkungan demi menjaga kelestarian hutan. Di Aceh sendiri tercatat belasan LSM lingkugan hidup, seperti BPKEL, Silfa Aceh, Rimueng Lam Kaluet, dan lain-lain. Aktivis-aktivis lingkungan pun semakinn banyak. Mereka seolah memekik “Hentikan penebangan hutan!”

Basri Emka dan Darwis Baharuddin punya cara lain dalam membela hutan-hutan Aceh. Mereka berteriak melalui sebuah antologi puisi “Antara Ketambe dan Suak Belimbing”. Buku mungil 86 halaman tersebut berisi 17 puisi Basri Emka dan 61 puisi Darwis Baharuddin.

Saya mulai dari karya-karya Basri. Melalui puisi-puisi lirik, Basri mencoba menjadikan dirinya sebagai hutan, pohon, sungai, suhu, cuaca, dan segenap isi alam lainnya. Misalkan saja pada puisi pertama dalam buku tersebut, Basri mencoba menjadikan dirinya sebagai sepohon kayu yang besar menjulang, yang sudah hidup berpuluh tahun di hutan Leuser. Ia seolah sudah menyaksikan semua fenomena di hutan Leuser, yang semula marga satwa di sana hidup nyaman kemudian berubah menjadi gersang setelah mendengar bunyi mesin penebang kayu. Hal ini tergambar dalam salah satu bait, //Kini, mesin chinsaw meraung-raung/ kejutkan gajah, harimau dan orang utan/ burung-burung mabuk karena asapnya/ menabrak pohon yang meranggas//.

Puisi tersebut berisi persaksian dan suara pemberontakan dari hati penyair. Ini dibuktikan dalam bunyi bait terakhirnya: //Aku tak mampu bertahan/ mesin chinsaw menebas leherku/ ekskusi mati tanpa pengadilan/ tanpa garasi/ jeritku tak didengar siapa-siapa/ seolah mereka tak berdosa//.

Protes, pernyataan, dan pembelaan hati penyair terhadap “kejahatan hutan” juga terdapat pada puisi lainnya, seperti Jerit Pilu Rumpun Bambu, Ratap Rawa Ekosistem Leuser, Dimana Lagi Ku Arung Jeram, Antara Ketambe dan Suak Belimbing.

Hampir seluruh puisi-puisi itu menggunakan tokoh “Aku” lirik. Artinya, Basri mencoba menjadikan dirinya sebagai sesuatu dari seisi alam sebagai daya kontemplasi puisi protesnya. Hanya pada puisi Antara Ketambe dan Suak Belimbing (yang diangkat menjadi judul antologi buku ini), yang tidak menggunakan “Aku” lirik, kendati puisi tersebut juga berisi protes terhadap hukum dan alam. Dalam puisi ini penyair menggunakan tokoh pihak ketiga, yakni hewan, seperti orang utan, harimau, gajah, mawas. Melengkapi narasinya, turut dihadirkan juga manusia sebagai tokoh pembanding. Di sinilah lalu penyair menguatkan isi protesnya. //Kawan, sapa orang utan kepada mawas/ Mengapa nasib kita seburuk ini/ Kita makhluk bumi/ Sama dengan mereka manusia/ Apakah karena tidak ada/ Hak azasi binatang/ seperti halnya Hak Azasi Manusia?//.

Di antara puisi-puisi protes terhadap hutan tersebut, hemat saya Ratap Rawa Ekosistem Leuser juga tercatat sebagai puisi deskripsi. Puisi ini mampu mendeskripsikan beberapa nama tumbuhan yang hidup di rawa-rawa hutan Leuser di samping pohon kayu. Di antaranya penyair menyebutkan kebun sawit, pohon nipah, tembakau Gayo, pohon rumbia, rumpun mensiang, dan kelayau sendok. Jenis hewan-hewan kecil dalam hutan rawa Leuser juga sempat dideskripsikan, seperti udang, kepiting, limbat, gabus, dan lokan.

Kecuali puisi protes, Basri juga membuat puisi catatan diingat sebagai sejarah bahwa “ia” ada atau “ia” pernah terjadi. Hal ini dapat ditemui dalam puisi Habitat (berkisah tentang gajah dan harimau yang memangsa manusia karena habitatnya terganggu), Orang-orang Yang Tersingkir (tentang masyarakat yang hidup terisolir di pinggiran hutan), Lekuk Gunung Yang Retak (tentang banjir kiriman dari gunung akibat longsor), Hutan Yang Kalah (tentang perluasan kampung yang semakin menebang hutan hingga hutan semakin sempit), Wahai (tentang hutan yang habis ditebang), Cerita Dinding Tua.

Termuat juga dalam antologi itu beberapa puisi lirik Basri tentang cinta dan kenangan hidupnya. Cinta itu terkesan ditujukan kepada keluarga, ibu, dan tuhannya.

Ada sedikit pertanyaan barangkali untuk puisi-puisi protes Basri. Kapan ia menulis puisi-puisi tersebut? Tak satu pun puisi-puisi itu ada tanggal, bulan, atau tahun pembuatannya. Sementara di sisi lain, isinya nyaris sama, pengungkapannya hampir serupa, semua bercerita tentang hutan, hewan, bunyi cinshaw, dan manusia. Misalkan saja dalam sebuah puisi disebutkannya, //Kini mesin chinsaw meraung-raung/, dalam puisi lain ada kalimat //…raungan cinshaw membahana/. Terkesan, kalimat yang digunakan itu-itu saja. Terlebih tidak ada tahun atau tanggal pembuatan, hal ini akan menimbulkan kecurigaan bahwa puisi-puisi itu dibuat dalam waktu bersamaan dengan ide yang sama sekedar melengkapi halaman. Sedangkan puisi yang bertema “kenangan dan cinta”, ada masa penggarapan, yakni tanggal 1, 2, 3, 4, dan 7 April 2008. Sementara itu, tahun terbit buku ini adalah tahun 2008 (juga tak jelas bulan berapa). Artinya, begitu selesai “puisi cinta” Basri, buku ini pun terbit.

Metafor Cinta Darwin

Jika Basri membuat puisi lirik apa adanya, seperti yang terlihat dan terdengar, puisi-puisi Darwin lebih kepada penggunaan majas meanggung-agungkan. Gaya metafora Darwin lebih tinggi dan sulit dipahami seperti apa yang tertulis. Menginterpretasi sajak-sajak Darwin membutuhkan perenungan lebih lama dan keambiguitasan terhadapnya lebih berpeluang besar, sebab Darwin bermain dengan simbol-simbol sehingga puisi-puisinya layak pula disebut sebagai puisi personifikasi–di samping metafora.

Gaya metafornya sudah terlihat sejak puisi pertama, “Ujung Raban”. //kurengkuh pelangi yang tiba-tiba/ menjulur dari perutnya/ kucabik urai lapis-lapis:/ merah kuning hijau mungkin biru atau kelabu/ atau mungkin juga tak berwarna/ potret kusam memutar kembali ke keriangan bocah/ merayap detik-detik/ menapak lebuh lengang/ hingga Lhok Ketapang/ bahkan sampai air berudang//.

Bagi saya, sulit memahami setiap kata dalam bait pertama puisi itu. Mungkin semua itu hanya menjadi pengantar sehingga patut dibaca keseluruhan baitnya untuk mengetahui puisi itu bercerita tentang apa. Mengamati bait terakhir yang berbunyi //entah kenapa aku ingin melupakan/ kelahiranku//, barulah dapat dipahami bahwa bait pertama merupakan paparan tentang hati Darwin saat mengenang kampung halamannya. Ada kebencian di sana saat kecanggihan zaman mengubah tanah kelahirannya menjadi bising sehingga ada kalimat potret buram memutar jarum jam kembali ke keriangan bocah merayap detik-detik menapak lebuh lengang hingga Lhok Ketapang bahkan sampai Air Berudang. Dapat dipahami bahwa Lhok Ketapang hingga Air Berudang adalah dua kampung tempat penyair menghabiskan masa kecilnya. Karena keindahan (pelangi) di tempat itu sudah pudar, kekesalan penyair ditumpahkannya pada penutup puisi: entah mengapa aku ingin melupakan kelahiranku.

Pada puisi-puisi lainnya, Darwin juga bermain dengan kata-kata simbol dan gaya bahasa personifikasi. Hal ini seperti dalam kalimat air susu kering dan gurun membakar telapak, kemarau dengan santun meremas paru-paruku, nanti ketika angin timur laut tertidur, senja buram datang lagi seperti dulu, sebuah potret berenang di akuarium dengan mata terpejam, …kujamah jemari kabut yang menyusup ke tenda emperan, bukit senyap angin pun tak berduka, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat personifikasi. Nyaris semua puisi Darwin bernada demikian. Puisi-puisinya ditulis dalam rentang tahun 2004 hingga April 2008. Karena gaya bahasa yang personifikasi dan metafor, puisi-puisi yang berisi tentang kegundahan hati dan pencarian diri penyair sesekali terkesan melankolis.

Namun, ada juga puisinya yang mengungkapkan ketegaran, seperti dalam sajak “Pernah Kukatakan Padamu Aku Takkan Pernah Menangis, Sebuah Potret di Akuarium, Nyanyian Badai, Muara Tak Pernah ke Mana-mana, Ketika Nilam Ditikam Kelam, Bawa ke Sini Lukamu, dan Pada Suatu Hari Nanti.

Akirnya, puisi-puisi dua sahabat yang pernah bersama saat masih di bangku sekolah dulu, ini telah membuat kita terhenyak, betapa melalui puisi, protes mutlak lantang, makian memukang, asa dan pernyataan dapat menjadi satu. Dari segi isi, puisi ini layak dibaca oleh siapa saja, terutama LSM dan aktivis lingkungan. Puisi-puisi ini telah menjadi catatan tambahan tentang “luka hutan Aceh”. Sampulnya juga sudah bagus, dengan warna biru dan gambar hutan, telah menyampaikan kepada pembaca bahwa buku ini berisi puisi tentang hutan dan lingkungan. Akan tetapi, dari segi bahasa, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan kembali. Kesalahan yang banyak saya temui adalah pada penulisan di sebagai kata depan sebagai imbuhan. Entahkah sengaja ditulis sesuka hati karena ia hanya sebuah puisi, wallahu’alam. Diulas oleh Herman RN, peminat sastra.

Iklan

Filed under: Resensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: