Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Nabsu

Oleh Herman RN

Nabsu dalam bahasa Aceh tentu hampir sama dengan nafsu dalam bahasa Arab. Jika sederhananya nafsu diartikan sebagai keinginan, nabsu juga demikian. Maka, ketika dikatakan atau ada yang mengatakan nabsu meukawén, sama dengan keinginan untuk menikah. Lantas, haruskah nabsu itu dibiarkan lepas membabi-buta? Sehingga, berserabutlah penangkapan orang-orang di luar nikah seperti sebuah perayaan saja.

Katanya, nafsu pada perempuan itu lebih banyak daripada nafsu pada lelaki. Kabarnya, perbandingan nafsu antara lelaki dan perempuan itu diibaratkan seperti jari tangan. Dari sepuluh jari tangan yang dimiliki oleh manusia normal (tangan kiri dan kanan), sembilan di antaranya adalah nafsu perempuan, sedangkan yang satu ditamsilkan sebagai nafsu pada lelaki. Tentang pendapat ini, boleh dipercaya, boleh juga dibantah. Saya bukan pula hendak memperdebatkan masalah itu. Dalam kelakar cang panah hari ini, laki dan permpuan kita samakan saja, yakni sama-sama memiliki nafsu atau nabsu.

Tentunya dalam hidup ini banyak nabsu dalam diri manusia. Dari sekian banyak nabsu itu dimungkinakan orang lebih banyak berkeinginan (bernafsu) untuk kepuasan pribadi. Jarang ada yang meunabsu untuk kepuasan orang lain. Jika pun ada, masih jarang. Namun demikian, ada juga nabsu untuk kepuasan pribadi yang dapat dirasakan pula oleh orang lain. Sebut saja nabsu ke damè, nabsu keu aman, atau nabsu keu meuprang.

Tiga nabsu di atas hanya sebagai contoh. Katakanlah seseorang atau sekelompok orang nabsu keu damè, kita yakin dia tidak akan memancing kericuhan. Demikian halnya kalau dia nabsu keu aman, tidak mungkin akan melakukan pelontaran granat, penurunan bendera partai orang, perobohan pamplet partai, atau sekedar menempelkan stikers dan brosur yang dapat memancing suasana. Namun, ketika nabsu yang ketiga-nabsu keu meuprang–yang diinginkan, hal-hal seperti membakar rumah sendiri pun akan dilakukannya. Setelah terbakar, dia akan tuduh orang lain yang membakar. Jika membakar rumah sendiri mau dilakukan demi sebuah nabsu, apatah lagi sekedar membakar bendera partai. Tathôt siôn tagantoe siribèe, nyang peunténg peureutè jiteumèe tanda.

Demikian hebatnya jika nabsu sudah bicara. Andaikan tak dilandasi iman, entah seberapa banyak sudah darah tumpah lagi di tanah ini saat dipancing dengan nabsu-nabsu keu karu tersebut. Padahal, dalam kearifan ureueng Aceh, segala macam nabsu itu sudah diatur dalam sebuah hadihmaja. Misalkan saja nabsu yang sangat sederhana, seperti nabsu keu kaya dan nabsu keu seunang. Indatu sekedar bilang, “Nabsu keu kaya jak ceumatok. Nabsu krek-krekok jak meuniaga. Nabsu keu seunang tapeugöt rumoh. Nabsu meh-moh meukawén dua”. Dalam sebuah lagu disebutkan pula nabsu meutani jak u Blangpidie, nabsu keu campli u Gunong Jaya. Sekarang sudah ada penambahan, nabsu keu meuprang pancing lom keuadaan.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: