Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sarang di Aceh

oleh Herman RN

Pernah mendengar dongeng tentang tiga anak kecil pencuri telur naga? Benar, kisah itu hanya sebuah dongeng. Namun, ada edukasi yang dapat dipetik. Simak saja dongengnya sekilas berikut ini. Tiga anak tersebut mencuri telur-telur naga di sebuah goa setiap tiga hari sekali. Setelah diambi, telur-telur itu tidak dibawanya langsung pulang, tetapi diletakkan di depan seorang pertapa dalam goa tersebut, keesokan harinya baru telur-telur itu dibawa pulang, sebab kalau langsung dibawa pulang, takut ketahuan oleh si naga.

Begitulah setiap tiga hari sekali. Konon, katanya, pertapa itu adalah seorang lelaki tua yang sudah insaf dari banyak kejahatan yang pernah dilakukannya saat usia muda. Lelaki itu tidak pernah terbangun dari pertapaannya. Dia benar-benar melakukannya dengan khusuk. Makanya, si naga tak percaya kalau pertapa itu yang mengambil telur-telurnya, meskipun telur-telur tersebut berada di hadapan si pertapa.

Kejadian itu berlangsung beberapa kali, hingga si naga akhirnya kehilangan kesabaran. Dibentaknyalah si pertapa. “Dasar perampok, pencuri, pembunuh, pemerkosa, penjahat, kau pura-pura melakukan pertapaan, padahal setiap tiga hari sekali kau curi telur-telurku. Apa kau kira aku tidak tahu?” ucap naga sembari menghembuskan napasnya yang mengeluarkan api.

Singkat cerita terjadilah perang hebat antara si naga dan si pertapa. Sedangkan di pencuri telur sesungguhnya sedang menikmati telur-telur naga yang ducurinya. Tentang dongeng ini selengkapnya kita ceritakan lain kali saja. Yang hendak kita petik dari kisah tersebut adalah “kebahagiaan” di atas “penderitaan” orang lain. Ibaratnya, “Asee blang pajôh jagông, asee gampông keunong geulawa.”

Demikianlah negeri ini. Orang-orang mencuri di negeri luar, lalu lari ke negeri kita. Akhirnya, negeri kita selalu mendapat label “sarang sparatis, sarang pemberontak, sarang pencuri,” dan entah sarang apa lagi yang lebih buruk dari sebutan itu.

Lihat saja, kemarin kembali terjadi, kawanan pencuri Bank Mandiri Medan melarikan diri ke Aceh. Sebuah keberuntungan memang bagi pihak kepolisian berhasil membekuk pelaku. Namun, dari sisi lain, ini menggambarkan seolah Aceh adalah sarang penyamun. Yang mencuri orang non-Aceh, yang kena getah, ureueng Aceh. “Gob pajôh boh panah, tanyoe nyang meuligan geutah.”

Menyedihkan, entah negeri ini sudah dicap menjadi tempat pelarian karena duka dan cerita lama, entahlah. Yang dapat dipetik bahwa Aceh benar-benar sarang kelengkapan, semuanya lengkap di sini. Ada perampok, ada sparatis, ada pengacau, ada pencuri, ada maling, ada syariat, ada adat, ada ganja, ada prostitusi, ada anak dibuang setelah dilahirkan, ada mesum di tempat ibadah, ada polisi, juga TNI, tak cukup dengan itu, ditambah polisi syariat dan polisi hutan. Di sini juga ada tentang air laut naik yang dulit ditemukan di negeri luar. Akrhinya, ketika terjadi kekacauan di luar Aceh, nama Aceh pun sering dibawa-bawa, meskipun Aceh sudah menjadi negeri yang damai, negeri yang sudah dibersihkan air laut naik tadi, negeri yang sudah mendapat besukan dari orangtuanya yang telah lama meninggalkan Aceh sebagai bukti Aceh sudah aman. Namun, Aceh masih dijadikan sarang oleh sekelompok orang, terkadang pula oleh orang-orang Aceh sendiri semisal memancing dengan selebaran yang tak ada ujung pangkalnya. Entahlah Acehku…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: