Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Simbol

Oleh Herman RN

Jika dalam kesempatan terdahulu kita sudah berkelakar tentang “warna”, hari ini sedikit tacang panah tentang simbol. Pada prinsipnya, kedua hal ini tak jauh berbeda. Warna sering dikatakan sebagai simbol juga, misalkan warna putih sebagai simbol kebersihan, warna merah simbol keberanian.

Suatu hari di Gampông Lamkaru, ribut-ribut masalah simbol mencuat hangat. Berawal dari pemberitaan sebuah media lokal gampông itu tentang pendapat seorang anggota dewan terhormat terhadap simbol budaya lokal daerah Lamkaru, berpasal pada pengutipan ucapan anggota dewan sebagai narasumber yang salah kutip oleh wartawan, keesokan harinya, si anggota dewan menerima pesan singkat (SMS) dari berbagai kalangan, terutama budayawan dan pecinta budaya. “Kalau tak tahu soal Lamkaru, jangan bicara tentang budaya Lamkaru,” demikian salah satu isi SMS kecaman terhadap anggota dewan tersebut sehingga dengan segala harap, anggota dewan tadi mengadakan klarifikasi di media yang sama.

Protes keras itu muncul bersebab ada kutipan dialog anggota dewan yang dimuat di media bahwa, “Gampông Lamkaru tidak memiliki simbol budaya.” Padahal, maksud anggota dewan tadi bukan itu. Dia hanya ingin mengatakan, “Bendera salah satu partai politik di Gampông Lamkaru bukanlah simbol budaya Lamkaru sehingga tidak mesti menjadi perdebatan panjang dan berliku, meskipun bendera itu terpajang hampir di seluruh pelosok Gampông Lamkaru.

Demikiahlah hebatnya sebuah simbol. Kendati hanya berupa lambang yang ditulis atau ditempel di kertas, kain, atau sejenisnya, ia mampu menjadi patron keterwakilan hati segenap umat yang menjunjung tinggi simbol tersebut sehingga tidak ada yang mau melihat simbol-simbol kebanggaanya dilecehkan. Misalkan saja, kasus bendera tadi. Jika hari ini, dikatakan bahwa bendera sebuah partai politik bukanlah simbol budaya sebuah kampung, masih dapat diterima. Namun, jika bendera itu dikatakan bukan simbol suatu partai, niscaya partai politik yang memakai bendera tersebut akan marah. Sebab, mereka membuat bendera tersebut sebagai simbol sekaligus lambang persatuan partai yang dijunjungnya.

Maka itu, sebuah kewajaran pula jika ada yang tutông jaggôt saat dihembuskan kabar bahwa telah terjadi penurunan bendera sangsaka Merah Putih di halaman Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Terlebih lagi, disebut-sebut penurunan Merah Putih digantikan dengan bendera sebuah partai politik, dan berlebih lagi, bendera partai politik itu mirip bendera perjuangan sebuah pergerakan yang menjadi simbol pergerakan mereka. Aih… maka panaslah suhu di Gampông Lamkaru beberapa hari ini.

Semakin panas lagi karena terjadi perbedaan pendapat antara dua kelompok keamanan. Kelompok pertama, atas nama atasannya, mengatakan tidak terjadi penurunan bendera Merah Putih. Namun, di pusat ibukota, diterima kabar benar terjadi penurunan bendera Merah Putih dengan digantikan oleh bendera sebuah parpol. Akhirnya, pemimpin Gampông Lamkaru ikut buka suara memastikan pusat “Tidak ada penurunan sangsaka Merah Putih”.

Wah, saling ‘mencari muka” nih ceritanya. Cari muka dari pusat, gitu lho.. Buktinya, keesokan hari, kembali pihak keamanan mengatakan benar sungguh terjadi penurunan bendera yang dijahit oleh Ibu Fatmawati saat zaman perang dulu itu. Heboh dan panaslah cuaca Lamkaru, meskipun sore kemarin hujan turun dari langit.

Entah benar atau tidak, saya tak berani mengambil kesimpulan. Namun, kasus bendera itu bermula dari sebuah perayaan, yakni perayaan penyambutan seorang tetua adat Gampông Lamkaru yang sudah lama tak kembali. Jika memang seperti kata pimpinan gampông itu bahwa sangsaka merah putih bukan diturunkan, tetapi telat dinaikkan, maka itu juga bagian dari perayaan. Pasalnya, sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sana, kalau sudah ramai-ramai, ada saja yang menangguk di air keruh. Apalagi, ramai-ramai menyambut tetua adat.

Bukan hanya kasus bendera, berbentuk selebaran dengan kata-kata yang sangat dapat mempengaruhi keamanan dan perdamaian juga beredar. Padahal, sudah berulang kali diingatkan oleh indatu mereka, “Bèk tatiek duroe bak jalan raya, han teutob bak tajak teutob bak tawoe. Peunyakét tabloe utang tapeuna.” Namun, dasar masyarakat Lamkaru yang suka karu sabé, pantang ada acara dan peluang sedikit saja, langsung “Bu sikai ie sikai, ngob jantông gadöh akai.” Alah.. hom hai… Sang pakat that peugöt karu lom, biet-biet Lamkaru.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: