Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pulang Kampung

oleh Herman RN

Sudah lama Pang Dolah tak pulang kampung. Kalau orang kampung tak salah mengitung, sudah sekitar setengah windu Pang Dolah tak melihat warna tanah di kampungnya. Meskipun suatu ketika laôt raya menjilat seisi kampungnya, Pang Dolah tidak juga pulang. Pasalnya, ia saat itu menjadi buron, dengan tuduhan ingin mengganti sarang merpati dari pelepah rumbia ke sangkar besi.

Yang menjadi perkara adalah orang-orang kaya di kampungnya sudah sepakat sarang merpati dari pelepah rumbia, bukan dari besi. Karena itu, saat Pang Dolah hendak menggantinya menjadi sangkar besi, orang-orang marah dan Pang Dolah diburu akan dibunuh hingga melarikan diri ke negeri orang.

Dia pun mulai menyimpan kepiluan di rantau orang, sedangkan orang-orang di kampungnya, satu per satu bersimbah darah saat bertekat hendak mengikuti jejak Pang Dolah. Singkat kata, Pang Dolah menjadi panutan, sebab dianggap mampu mengubah pola pikir bahwa sangkar merpati sudah tak layak lagi dari pelepah rumbia. Dia akhirnya menjadi pujaan di hati segenap penduduk kampungnya.

Suatu kali, keajaiban datang. Pang Dolah diperkenankan menjenguk kampungnya. Suka citalah menyelimuti Pang Dolah dan segenap orang kampungnya, tempat kelahiran Pang Dolah. Lelaki yang dirindukan selama bertahun akhirnya dapat disaksikan secara langsung. Jika selama ini, orang-orang kampung hanya membayangkan sosok tua Pang Dolah dalam pikiran dan di media, kini mereka akan dapat bertatapan langsung. Pelangi pun muncul di kampung Pang Dolah.

Dua pekan direncanakan Pang Dolah akan berada di negeri kelahirannya. Hanya dua pekan. Entah angin syurga dari negeri seberang mana yang membuat Pang Dolah berpikiran seperti itu sehingga mesti meninggalkan kembali kampungnya setelah dua pekan, belum ada yang mampu menebaknya.

Semua menjadi teka-teki. Semakin berteka-teki pula rupanya Pang Dolah saat berhadapan dari dengan orang-orang kampugnya. Dari satu kampung ke kampung lainnya, Pang Dolah hanya menyapa dengan melafalkan satu kalimat sederhana. Sangking sederhananya, hanya subjek, predikat, dan keterangan (S,P,K), yang ada dalam kalimat Pang Dolah, sedangkan objek dan pelengkap kalimat tidak ada sama sekali. “Saya sudah tiba di kampung,” demikian bunyi kalimat tersebut. Sangat singkat bukan?

Setelah mengucapkan kalimat itu, orang-orang kampung Pang Dolah yang merindukan sosok tersebut berbicara lantang-lebar ternyata hanya duduk di balik panggung. Pidatonya kemudian dibacakan oleh pendamping setia Pang Dolah. Di setiap dusun dalam kampungnya, Pang Dolah selalu seperti itu, hanya mengucapakan sepatah kata “Saya sudah tiba di kamung”. Akhirnya, timbul desas-desus dari masyarakat dusun, “Jangan-jangan Pang Dolah yang dulunya vokal dan mampu membakar semangat masyarakat gampông tidak bisa lagi berbahasa gampông ini.”

Kalimat keraguan itu pernah melintas di benak Cek Ragu yang dia lontarkan saat berhadapan dengan Mat Cukeh. “Hati-hati kalau bicara, bahaya. Pang Dolah banyak pengawalnya,” sahut Mat Cukeh. “Jangankan kita orang biasa ini, wartawan saja bisa didorong oleh para pengawal Pang Dolah. Makanya, berita-berita tentangPang Dolah di koran-koran selalu elok-elok saja,” tambahnya.

Cek Ragu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin kamu benar, Mat. Tapi, apa salahnya Pang Dolah yang sudah dirindukan masyarakat kampung kita untuk bicara sedikit lama di hadapan warga. Masa, sudah tujuh buah jembatan dia lewati, tujuh buah dusun dia singgahi, kalimatnya hanya itu-itu saja, ‘Saya sudah tiba di kampung’. Kan, tak salah ada orang curiga jangan-jangan Pang Dolah sudah tidak bisa lagi bahasa kampung kita,” kata Cek Ragu.

“Tidak bisa kamu memvonis seperti itu langsung, Cek. Bagaimana kalau sesungguhnya bukan Pang Dolah yang malas atau tidak bisa bahasa kampung ini, tetapi memang sudah diset dan ditata demikian oleh panitia penyambutan Pang Dolah? Kan bisa saja. Pang Dolah yang sudah uzur, barangkali hanya mengikuti keinginan panitia penyambutan daripada sama sekali tidak dapat pulang kampung.”

Kembali Cek Ragu angguk-angguk kepala. “Mungkin benar kata indatu, boh limèeng leumiek asam ungkôt brôk, ureueng ka datôk panee lom gura. Makanya dia mudah diatur oleh panitia,” ucap Cek Ragu kemudian.

“Hussh….” ketus Mat Cukeh. “Hati-hati… ada yang dengar.”

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: