Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Teugeucha

oleh Herman RN

Di gampông saya, perihal menasihat anak sebelum merantau masih dilakukan sampai sekarang. Kebiasaan memberikan nasihat kepada seorang anak sebelum meninggalkan tanah nangaek (kampung halaman: bahasa Aneuk Jamee) sudah berlaku sejak zaman dahulu. Rasanya menjadi tabu melepas anak bepergian tanpa nasihat. Kebiasaan ini berlaku pula hingga sampai saat ini dan saya percaya, juga berlaku di hampir seluruh gampông kita.

Di gampông saya—bukan gampông Apa Ma’un atau Apa Suman—sebelum seorang anak berangkat ke negeri orang, terlebih dahulu dibekali ilmu silat, ada pula semacam doa atau isim pageue tubôh. Namun, ini kebiasaan masa lalau. Saya tidak tahu apakah masih ada sampai dengan masa kini. Yang saya masih hapal sampai sekarang adalah sebelum seorang anak merantau, nasihat meuplôh-plôh beulangong akan dihidangkan orangtua—laki dan perempuan—kepada anaknya. Bahkan, jika ada neneknya masih hidup, si nenek pun akan ikut memberi idang nasihat, kalau ada paman, bibi, makcik, atau maktek, semua mereka pun ikut buka suara memasukan wanti-wanti ke benak si anak yang akan merantau. Apalagi, jika merantau ke negeri orang untuk masa pendidikan. Berlipat-gulipatlah nasihat yang akan didengar si anak.

Adapun saya, juga demikian. Nasihat yang sangat saya ingat sampai sekarang dari sanak famili dan kerabat di antaranya jangan suka teugeucha’ saat di rantau orang. Jangankan di rantau yang sama sekali daerah baru bagi saya, di gampông saja, saya dilarang teugeucha’. “Bèk gara-gara bu sikai ie sikai, ngob jantông gadöh akai,” begitulah lebih kurang nasihat yang saya dengar, dari dulu sampai sekarang. Pernah pula saya dihidangkan begini: “Duduak saalai papan, tagak salaweh tapak, bajalan sapamatang; dek bibia bulu basah, dek lidah badan cilako.”

Tentunya, kendati hanya berupa sederetan kata, semua itu menjadi bekal bagi seorang anak selama di daerah baru yang dia datangi (perantauan). Jika anak itu adalah orang yang menghargai orangtua, ia akan tahu benar fungsi setiap kalimat yang didengarnya sebelum beranjak dari rumah. Seperti yang saya sebutkan tadi, apalagi jika kepergian si anak untuk pendidikan. Saya—mungkin juga pembaca yang budiman—percaya orangtua di gampông akan pontang-panting, pula-pingkuy, mencari nafkah demi kelangsungan hidup si anak selama di rantau. Bahkan, ada orangtua yang berpegangan, lebih baik dirinya lapar asal anaknya tak sengsara di rantau.

Saya kira ini bukan cerita klise atau dongeng naga membelah laut api. Sudah menjadi rahasia umum, banyak anak yang mengabaikan nasihat orangtuanya setelah berada di rantau. Bahkan, ada yang sebelum merantau—masih di rumah—saat mendengar nasihat orangtuanya, hatinya melawan, ingin rasanya si orangtua kehabisan kata secepatnya. Uh, anak-anak seperti inilah beunak lam até. Akhirnya, sampai di rantau, teugrôp keunoe, teugrôp keudéh. Anak-anak seperti inilah yang disebut teugeucha’.
Akhirnya, tanpa dia sadari, dia telah melakukan kesalahan besar, bukan hanya dosa kepada orangtua, tetapi juga membahayakan dirinya sendiri. Kasus tenggelamnya lima mahasiswa—tiga meninggal dunia—saat peusijuk mahasiswa baru di Pantai Ujong Batee kemarin seyogianya dapat menjadikan contoh kepada kita, terutama mereka yang masih dalam pendidikan, yang meninggalkan gampông halaman dan orangtuanya agar tidak teugeucha’ dalam menjejakkan kaki di suatu tempat atau daerah baru.

Orangtua pula-pingkuy mencari nafkah untuk si anak. Sawah, ladang, kerbau, bahkan kalau bisa kepala sendiri sedia digadaikan demi kelangsungan hidup anak dan pendidikan si buah hati, betapa hancur saat mendengar si anak malah menghabiskan nyawanya di laot raya, laot gampông orang pula. Andai ia berenang di laot gampôngnya, si orangtua masih dapat menyaksikan tangan si anak yang menggapai-gapai minta tolong. Namun, kejadiannya di laot gampông orang. Betapa hancurnya hati si orangtua.

Di satu sisi, dada si orangtua perih serasa diurut sembilu mendengat kabar kepergian anaknya. Apalagi seperti yang terjadi di laot Meulaboh. Si ayah mengaku sudah bersusah payah membelikan sebuah sepeda motor untuk anaknya agar si anak mudah bepergian ke sekolah. Susah payah si ayah mencari dan memenuhi keingingan si anak, eh..anaknya malah menghembuskan napas terakhir di bawah gelombang laut. Padahal, di rumah, sepeda motor sudah berdiri dan masih berplastik…

Begitulah, musim peusijuk dan mano laôt tahun ini baru dibeberkan media dari dua daerah, Banda Aceh/ Aceh Besar dan Meulaboh. Jika di Banda Aceh tiga orang meninggal dunia, di Meulaboh satu orang. Entah berapa pula mungkin di daerah lain. Mereka teugeucha’ saat melihat air laut hingga lupa diri bahwa di sana, di gampông, orangtuanya sedang berdoa untuk keselamatan anaknya. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi yang masih tinggal di dunia ini.

Patut diingat benar kata indatu, “Jeut-jeut na uteuen pasti na rimueng; Jeut-jeut na krueng pasti na buya.” Hanya saja, pat jiduek rimueng ngon buya nyan, nyoe nyang tapapah droe beuget. Bek teugeuchak dèk dikeu mahasiswa barô. Ingat ureueng chik…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: