Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pendidikan

oleh Herman RN

Lucu-lucu membaca media di Aceh akhir-akhir ini. Mulai Pawang Dolah yang kerjanya sehari-hari menarik pukat, hingga Ampon Din yang hanya suka mengumpulkan kabar dari jambô jaga, sering asék-asék ulè melihat berita yang disiarkan media di gampôngnya.

Suatu hari keduanya bersitatap di jambo jaga gampông mereka. Tersebutlah saat itu kasus pendidikan sedang hangat menjadi buah bibir—mulai bibir manusia hingga bibir koran, mulai bibir guru hingga bibir anggota dewan. Saat kedua sahabat itu saling cang panah, Pawang Dolah berkomentar. “Kemarin guru menuntut agar gaji mereka dinaikkan, sekarang sudah dinaikkan hingga 200 persen, masih juga menggelar demo.” Hal itu dikatakan Pawang Dolah setelah membaca koran terbitan gampôngnya tentang demo guru di dusun tetangga.

“Jangan asai kamu peuleueh saja haba kamu, Pawang Dolah. Lihat dulu, mereka demo atas pasai apa. Seharunya, yang menarik kamu komentari bukan masalah guru demo, tapi coba baca berita tentang anggota dewan yang akan memparipurnakan penyimpangan dana pendidikan. Kalau kamu simak berita ini, pasti kamu pun akan ikut demo meskipun kamu bukan guru,” sahut Ampon Din.

“Emangnya, pasal apa yang berlaku pada anggota dewan yang terhormat itu, Ampon?”

“Apa kamu tidak baca berita dua hari lalu? Anggota dewan sepakat kalau penyimpangan dana pendidikan di gampông kita hanya karena kesalahan administratif sehingga tidak akan menjadi pembahasan yang penting. Ada apa ini coba? Kamu tahu tidak muasal penemuan penyimpanan di dinas pendidikan kita? Saat pertama ditemukan penyimpangan, dewan-dewan seperti terbakar jenggot menegaskan akan memparipurnakan kasus tersebut secepatnya. Eh, dua hari lalu malah mengeluarkan statemen tidak penting dengan dalih hanya kesalahan administratif. Ayo coba.”

“O…” mulut Pawang Dolah membulat membentuk telur itik. “Pasti ada tempua bersarang rendah itu, Ampon.”

“Ah, kamu Dolah, mengerti sekali istilah-istilah itu.”

“Iya Ampon, meunyo hana angèn jipôt, panee patôt suwe meuputa; meunyo hana sapue jitôt, panee patôt asap meubura.”

“Eh, Dolah, tapi tunggu dulu. Pernyataan itu kan sudah diklarifikasi oleh anggota dewan terhormat itu keesokan harinya setelah berita tersebut dimuat,” kata Ampon Dolah.

“Ah, itu kan irama lama, Ampon. Sudah menjadi rahasia umum, kebiasaan pejabat-pejabat kita di gampông ini atau bahkan di gampông tetangga, suka mengeluarkan pendapat siuroe lhèe gö leuhô. Sigoe keunoe sigoe keudéh, yang penting aman di telinga, nyaman di kantong. Hehehe…”

“Apa maksudnya itu Dolah?”

“Ah, Ampon Din masa tak tahu. Irama lama ya…” lama Pawang Dolah terhenti pada kalimat ini, hingga “Irama ya… ilamalah pokoknya. Macam tak pernah dengar lagu India saja Ampon ini. Biasa Ampon, haba sikrak sikatoe, dua lhee krak jeut peubloe nanggroe, sigoe jihue keudéh, sigoe jihue keunoe, yang penténg meuteumè asoe. Meunyo peurlè, nanggroe-nanggroe jipubloe. Hanya saja, dikeluarkan kalimat klarifikasi biar redam masalah. Macam tak tahu saja Ampon ini.

Ampon Din mengangguk-angguk tanda mulai paham. “Ngomong-ngomong Dolah, dari tadi kita bicarakan penyimpangan pendidikan di daerah kita, kalau kasus pendidikan di Bireuen sudah sampai di mana ya? Apa ada kesengajaan diributkan kasus di dinas pendidikan provinsi agar redam kasus di dinias pendidilkan di tingkat kabupaten?”

“Wah, kalau masalah yang begini, Ampon bisa tanya langsung pada polisi.”

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: