Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Jenayah, Jangan Mencipta Bisul di Tempat yang Sama!

Oleh Herman RN

Kutulis kembali surat perih ini, yang beralir cabik tatkala membaca dan mendengar berita, ditambah pula menyaksikan nyata, kanduri raya menakuti-takuti rakyat jelata dengan uang takziah korban sengsara laot raya.

Jenayah, kepada siapa kuantar surat ini, surat bersampul kalut isi luka parut setelah cerita laut surut. Kupahami adat tradisi berkumpul ria awak kampungku. Namun, sungguh belum mampu kutakzimi manakala kumpul raya yang diwara-wara hingga kumpul serupa warak (badak—lihat kamus). Sedangkan di sana, brujuba-juba gubuk reot bekas dijilat laut, bahkan ada yang masih berupa tanah nihil yang menjadi dakwa-dakwi antarsesama korban tsunami. Tak ada yang peduli. Kalaupun peri itu ada berupa payung atau permadani perak jejak manusia, adalah asbes belaka, yang penyakit di dalamnya bergumpal-cupal seperti buih coklat setelah ombak memecah di bibir pantai.

Jenayah, surat duka lara berperih bara ini sengaja kuhantar bersuka ria menghambur kata seperti mereka yang menghambur benih perih setiap ungkap “pembangunan” di Aceh baru. Satu rumah didirikan, tujuh nominal disembunyikan. Satu jalan diperbaiki, tiga telapak merusaki, agar dana turun kembali. Ini penemuan, bukan mengada kata, Jenayah. Lihat saja juru kabar di kertas cetaknya, dan nanti pula kabar berikutnya. Mereka hanya mencipta bisul di atas bekas lama.

Begini, Jenayah. Seperti kumahfumkan di awal, sadar hati pada membiasa tradisi, sadar pula peri memaknai hakiki. Dalam kearifan kampungku pun ada tradisi, bisul tak mungkin tumbuh di tempat yang sama untuk kedua kali. Ungkapan ini diyakini, Jenayah. Karena itu, belum sampai pada detik seribu selendang biru ibu surut ke tengah setelah melantak isi bumi, awak kampungku kembali ke laut berlari. Di tepi laut, awak kampungku mendirikan rumah dari sebilah bambu atau kayu, mungkin sudah lapuk bekas panas disayat matahari. Mereka tetap mendirikan gubuk, tak takut tsunami datang kembali. Apa kata mereka ketika dilarang membuat rumah di tepi laut dengan alasan tsunami bisa-bisa datang lagi? Awak kampungku menyahut, “Bisul tak mungkin tumbuh di tempat yang sama untuk kedua kali.”

Maka hari ini, Jenayah, adalah duka melihat puak-puak yang seyogianya memberi damai di hati awak kampung, malah berdoa mengundang bisul. Lihat! Mereka kanduri ria dengan membunyikan klakson raksasa tanda memanggil laot raya. Terkejutlah umat, meringkihlah hewan, bergetarlah bumi, merindinglah langit, bukan karena takjub atas upaya akbar yang dilakukan oleh mereka (pemerintah dan BRR). Namun, karena dana untuk membuat dan membeli segala alat klakson raksasa itu dari peluh rakyat. Uang sisa takziah bangsa luar untuk negeri ini yang dipersembahkan bagi bangun dan makan awak kampung kami. Dengan uang takziah itulah, mereka yang merasa diri telah berbuat banyak dengan membunyikan klakson pemanggil tsunami. Ya, mereka sedang memanggil tsunami agar singgah lagi.

Jenayah, ingatkah kau apa kata bijak bestari? “Perbuatan mencerminkan pinta, sedangkan kata setenga dari doa,” itu kata tetua. Maka berbuatlah mereka dengan mendirikan klakson raya yang disebut-sebut sebagai “Tsunami Drill”. Dan bersuaralah klakson itu hingga berpagut takut seisi kampung, karena mahfum klakson itu bagian dari pinta dan doa agar smong kembali tiba. Mereka sedang menciptakan bisul, Jenayah. Kau pasti tahu itu.

Jenayah, hikayat klakson sudah usai sebenarnya di kampung kami, setelah janji di Helsinky. Entah mengapa tapi, pembesar-pembesar kampung kami suka pada itu, melihat pucat wajah anak-anak yang tak tahu arti berlari, menikmati gundah nelayan kami, mencermati payah para petani, dan histeris kaum istri. Mereka, pembesar-pembesar itu, nikmat akan lari anak kecil karena takut dan ngeri. Mereka, pembesar-pembesar itu, nikmat merasa dan melihat pekik histeris nelayan dan petani. Makanya, Rp1 miliar untuk bercanda selama 1,5 jam adalah suka bagi mereka. Aih.. 360 derajat berbalik dengan apa yang dirasa anak, belia, dan tetua yang tak mahfum arti tawa. Tatkala pembesar-besar itu beraplus ria karena sukes klason bersuara, senyum menyunggi dari sebalik bibir tebal dan tipis mereka. Sementara di sisi lain, ibu-ibu mendekap anaknya, jua anak bertekuk-peluk di bawah ketiak ibunya saat mendengar klakson bersuara raya memecah dari belahan pasir putih Ulee Lheue. Saat yang sama pula, hewan-hewan yang tak tahu makna suara, meringkih sambil melangkah seribu mencari arah dituju. Lintang pukang hewan-hewan tak berdosa itu selamat diri, karena dipikir benar laot raya kembali tiba. Uh, mereka sudah tertipu oleh klakson pembesar negeri.

Jenayah, itu belum seberapa jika kita coba balik lembar hari. Tak usah jauh melontarkan ingat, cukup tahun ini atau sedikit napak tilas di ujung tahun lalu. Ada pula seminar internasional di gedung megah, buka puasa di pusat ibukota, berselancar ke negeri tetangga, dan mendirikan “kandang duka lara”. Baiklah, kucoba urai sedikit tentang “kumpul warak” di gedung termegah kampung ini.

Waktu itu, berpuak bangsa seluruh jagad datang ke kampung kami. Oleh induk semang yang lahir karena tsunami, mengundang segenap pakar. Dalihnya, dalam duduk pakat itu dibicarakan tentang ummah, tentang rakyat, tentang hati, bagaimana membangun negeri yang baru saja lantak-rusak oleh ombak tsunami. Namun, hingga kini, tak secuil rekomendasi dari duek pakat raya itu yang dapat kami ambil arti. Nihil. Setelah makan sedap, duduk melepas cakap, dan malam tidur lelap di dangau Swisbel Hotell (sekarang Hermes Palace Hotel), para pakar sedunia itu pulang menyisa tanya bagi awak kampung kami. Sedangkan BRR si induk semang penampung dana takziah itu, senyum puas karena hasil telah usai seminar berjalan lancar. Namun, hasil sesungguhnya bukan itu. Lihatlah, apa hasil dari seminar internasional itu, hingga kini masih berserabut tanya di hati masyarakat. Rumah yang berdiri tak dihuni, yang dapat satu, empat dan lima dijuali, jalan berabu kala hujan kerbau mengubangi, belum lagi masalah makan hingga menjual diri.

Kemudian, tentang buka puasa bersama di ibukota sedikit kucerita. Berpuak-puak mereka kumpul akbar menikmati pizza. Bukan dengan korban laot raya, tapi dengan pakar dan mahasiswa. Alibinya sederhana: mendekati pakar (kritikus) dan mahasiswa supaya tak dihujat atau digugat. Padahal, di kampung-kampung, di sebalik barak dan tenda kala itu, masyarakat buka puasa dengan air mata, sebiji kurma atau eumping mulieng pun sukar dirasa. Namun, para pembesar kambli berdali. Katanya, mereka yang duduk di gedung putih “rumah aib” itu juga korban keganasan laot raya. Ah… mudahnya beralibi, mentang-mentang tiggal di Serambi, semua berpropesi korban tsunami. Andai saja kayu-kayu di hutan Simeulu dapat bersuara, pasti mereka akan berkata, “Aku juga korban tsunami, walau Simeulu aman dari segala caci peri ombak tsunami,”. Maka kayu-kayu itu pun hak menuntut sebagai korban.

Jenayah, tersebut pula dana takziah bangsa luar untuk kunjungan pembesar negeri ini bertandang kembali ke negeri luar. Mereka pun lagi-lagi beralibi sembari berujar, ke luar untuk kemakmuran yang telah berpendar. “Studi banding,” kata mereka.

Selepas pulang dari bertandang, pula tak ada hikmahnya, kecuali sisa dana takziah menyusut sedikit. Lalu, bangsa-bangsa luar yang masih memiliki peri dan hati, datang dan membantu lagi. Namun, kejadian serupa berulang kembali. Dana takziah itu tak sampai utuh ke korban tsunami. Entah di mana terselip gunting, atau ada keuraleup yang menyusup kalup, dana terealisasi jauh berbeda dari kesungguhannya. Yang hanya sisa itu pun lagi-lagi digunakan untuk kumpul bareng, diskusi dan diskusi lagi, diskusi dan diskusi lagi.

Kemudian, agar tampak menjadi bukti, dicobalah untuk memberi. Rumah takziah pun berdiri. Mereka menyebutnya sebagai “Meusium Tsunami”. Ah, tak lebih dari kandang besi. Sebab, mahfumku geudung itu akan menjadi onggok besi tua seperti Gedung Sosial yang sekarang ada di Peuniti. Entah siapa laku merawat, entah siapa mau menjawat. Gedung Sosial itu jadi belukar karat. Itu makanya Jenayah, kutakut “Meusium Tsunami” juga akan menjadi sejarah bertambahya besi karat di kampung ini. Jika dialasankan “Kandang Tsunami” untuk bukti sejarah hingga patut megah dengan Rp1.40 miliar membeli besi-besi, maka tak ubah seperti rencana awal berdirinya Gedung Sosial. Gedung Sosial itu disebut-sebut sebagai penghargaan sejarah bagi pahlawan Aceh, Teungku Chik Di Tiro, sehingga dikata pula Balee Teungku Chik Di Tiro. Didirikan akbar di tepi jalan besar. Namun, berpendar tiada sesiapa yang merawat sekarang. Itu kutakutkan menimpa jua pada “Kandang Tsunami” yang berdiri di tepi Taman Sari saat ini. Bukankah ini bisul, Jenayah?

Dana-dana untuk mendirikan itu semua—kuulangi lagi—dari takziah untuk korban tsunami. Sedangkan awak kampung sedang mencoba berperi dengan mengikhlaskan di relung hati. Akan tetapi, yang namanya manusia, adalah keniscayaan menjadi lapar dan dahaga. Bagaimana cara ini berlaku, karena dana untuk mereka telah rihlah ke bermegah-megah: diskusi mesti di di gedung megah, plesiran harus dengan pesawat megah, buka puasa harus ke kota megah, merangkai besi pun mesti menjadi bangunan megah. Padahal, di tepi bangunan megah tersebut, barak-barak masih banyak yang pecah-pecah, terpal biru mulai menyimpan gerah, anak-anak masih meraba mencari ibu dan ayah, tanpa sedekah.

Jenayah, lakon itu belum usai, cerita belum selesai. Pembesar sedang membunyikan klakson duka lara, mengundang bisul kembali tiba. Tujuannya sederhana, agar dana takziah kembali mengalir raya. Lalu, mereka akan kembali berpora sambil tertawa, mereguk air mata dari korban nestapa si laot raya.

Jenayah, tolong sampaikan kepada mereka, jangan menciptakan bisul di tempat yang sama untuk kedua kalinya, karena kami dapat membunuh bisul itu dengan satu doa: KIAMAT! Salam kami, korban TSUNAMI.

Herman RN adalah bukan pejabat

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: