Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Hilangnya Seremoni, Ketakutan Rektor atau Kelemahan Mahasiswa

Oleh Herman RN

peusijuk1Kutulis surat ini berhampar kasih dan segenap lara cinta untuk teman-teman yang masih menyandang predikat mahasiswa—sebuah jabatan agen perubahan. Maaf kupinta tulus dari segenap si empunya hati manakalan surat ini didengar kasar dan melukai. Sungguh, kutulis surat ini dengan segenap kelembutan hati yang jauh jangkau dari dendam bara, karena kutahu kita sudah menggerai rambut di hulu sungai sebagai pertanda MoU kita setuju bahwa mahasiswa tanpa rektorat sama dengan pendidikan tersumbat, sedangkan rektorat tanpa miliki mahasiswa sama dengan pendidikan hampa.

Teman-teman mahasiswa di Jantong Hate rakyat Aceh yang berbahagia. Nun, di seberang sana, ada hikayat tentang seremoni yang luka gara-gara seorang rektor dipecat dari jabatannya, jua mahasiswa senior di perguruan tinggi itu, turut dilepaskan seragam kemahasiswaannya. Mereka—rektor dan mahasiswa yang digelar praja—itu dicopot dari peguruan tingginya karena menggelar sebuah seremoni di perguruan tinggi tersebut. Pasalnya, seremoni tersebut sempat merenggut nyawa adik-adik baru mahasiswa di sana dan berlangsug saban tahun ajaran baru. Entah maka itu, seremoni tahunan di “kandang” mahasiswa Jantong Hate rakyat Aceh juga mesti disirnakan? Yang jelas, kudengar angin berhembus dari sebalik daun asam jawa yang tumbuh mekar di sepanjang trotoar jalan menuju kampus Darussalam, berbisik pada segenap kerikil—juga di jalan itu—bahwa seremoni penyambutan mahasiswa baru tahun akademik 2008/2009 di kampus Jantong Hate rakyat Aceh juga ditiadakan.

Masih dari angin berhembus yang kemudian diamini sejumlah mahasiswa di kampus itu bahwa rektorat menyelipkan selembar surat bernomor resmi pada setiap formulir pendaftaran ulang mahasiswa baru di universitas itu yang berbunyi kurang lebih begini. “Jika mahasiswa baru mengikuti program seremoni orientasi perkenalan kampus oleh senior-senior mahasiswa di BEM-BEM fakultas, kelegalan predikat mahasiswa pada mereka—mahasiswa baru itu—akan dicabut alias tidak jadi.”

Begitulah setidaknya kabar yang kudengar dari beberapa mahasiswa senior di kampus Jantông Haté. Keabsahan tentang surat bernomor resmi itu belum sama sekali kutemui. Entah memang tidak ada—atau ada tapi disembunyikan—sungguh di luar jangkauanku. Namun, ketidaksetujuan rektorat atas penyelenggaraan seremoni penyambutan mahasiswa baru di kampus itu sudah sejak tiga tahun lalu dilakukan. Alasan rektorat sederhana tapi mayakinkan juga, yakni setiap penyelenggaraan penyembutan mahasiswa baru di fakultas-fakultas selalu dibubuhi pelonco-pelocoan kepada mahasiswa baru, yang berujung kepada perendahan martabat. Misalnya, perempuan disuruh pus-up. Bahkan, tak ayal ada mahasiswa baru yang mengeluarkan darah, karena polonco terlalu kasar oleh seniornya. Ini masih kejadian di kampus Jantong Hate rakyat Aceh, sedangkan di di luar sana—dikampus yang lain—seperti kuceritakan di atas, ada mahasiswa baru yang bukan hanya dilarikan ke rumah sakit, tapi ke rumah terakhir persinggahan (kuburan). Dan terakir, rektor dan beberapa mahasiswa senior di kampus luar itu terpaksa menjalani persidangan, bahkan sampai ke pemacatan.

Entah karena ketakutan rektor di kampus Jantong Hate rakyat Aceh menimpa dirinya serupa di kampus seberang itu, sehingga ia mengilegalkan kegiatan seremoni penyambutan mahasiswa baru sejak tiga tahun terakhir.

Tahun lalu dan dua tahun sebelumnya, pelarangan dari pihak rektorat kampus Jantong Hate rakyat Aceh terhadap seremoni penyambutan mahasiswa baru sudah pernah ditegaskan, tetapi sejumlah mahasiswa di Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) pada beberapa fakultas tetap ngotot menggelar seremoni itu. Alasan tiga tahun lalu, karena kampong kita baru saja ditimpa badai smong (tsunami) sehingga para mahasiswa baru masih trauma, ditambah trauma konflik berkepanjangan. Bagi mahasiswa baru yang berasal dari sudut kampong basis konflik, tentu saja perkara dibentak-bentak dalam adegan pelonco menambah angka trauma di hatinya. Karena itulah, larangan rektorat sampai ke mahasiswa. Empat BEM fakultas yang tetap ngotot menggelar seremoni kala itu sempat didatangi rektor bersama “pengawal-pengawalnya” guna membubarkan seremoni tersebut. Masa itu, saya masih mahasiswa dan turut sebagai salah seorang panitia seremoni.

Tahun berikutnya, larangan rektorat kembali sampai kepada BEM-BEM fakultas agar tidak menggelar penyambutan mahasiswa baru. Pada tahun itu, larangan rektorat dibumbui ancaman drop-out (DO) bagi mahasiswa senior yang melakukan seremoni tersebut. Namun, tetap masih tercatat empat BEM fakultas melakukan kegiatan ‘sakral’ itu. Tak ayal, ketua BEM dan ketua panita pelaksana di fakultas-fakultas itu diskorsing selama dua semester.

Nah, tahun ini, larangan orientasi perkenalan kampus (ospek) atau apalah namanya, juga dilarang oleh rektor. Ancaman bertambah, bukan hanya kepada mahasiswa senior di fakultas-fakultas, tetapi juga bagi mahasiswa baru yang kudegar mendapat selipan surat resmi dari rektorat agar tidak mengikuti program seremoni seniornya atau dipecat dari kemahasiswaan.

Teman-teman mahasiswa yang masih mencintai gelar mahasiswa, kutak tahu apakah dengan sistem gebrakan larangan rektorat kali ini, kalian akan mundur dari seremoni yang sudah mendarah-daging di perguruan tinggi kita sejak tujuh belas turunan, atau kalian tetap ngotot melakukan penyambutan terhadap adik-adik baru dengan keikhlasan menerima ancaman rektorat diskorsing selama beberapa semester dan bisa jadi dikeluarkan dari perguruan tinggi Jantông Haté?

Andai boleh masih kuberikan celoteh, selama seremoni itu tak bermaksud membunuh atau merendahkan derajat seseorang, mengapa mesti mundur. Bukankah Tuhan bersama yang benar? Namun, jika seremoni itu bermaksud membalas dendam, kukira, jangankan rektor, kalau kalian percaya Tuhan itu ada, Tuhan pun takkan setuju.

Sejatinya, perekenalan terhadap dunia kampus dan masyarakat kampus perlu disosialisasikan kepada mahasiswa baru. Masih kuingat masa pertama diriku masuk kampus itu. Kami dikumpulkan bersama di plaza rektorat, lalu dikenalkan siapa “raja kampus” dan “ulee balangnya”. Demikian juga di fakultas, kami terlebih dahulu diberitahu sosok dekan dan sesiapa dosen-dosen di fakultas itu sehingga kami tahu sosok-sosok dosen di fakultas kami, mekipun dia bukan jadi dosen di jurusan kami. Meskipun dia tidak pernah masuk memberikan kuliah dalam perjalanan semester nantinya, kami sudah terlebih dahulu dikenalkan dalam ajang seremoni tahunan itu bahwa si fulan-si fulan adalah dosen di fakultas kami. Bukankah perkenalan itu terasa indah manakalan kami bertemu dengan orang tua-orang tua kami yang baru itu sehingga kami tidak lagi gagu saat berhadapan di ruangan kuliah, sehingga kami tidak lagi mencongkakkan bahu-membusungkan dada saat bertemu di jalan, sehingga kami tidak lagi bertanya kelak, Bapak/Ibu itu dosen fakultas/jurusan apa?

Alasan lain perlu perkenalan, beragam corak mahasiswa baru berdatangan dari belahan kampong dan pelosok. Perlu disatukan “kepala” mereka dengan visi-misi kampus. Ya, dengan visi-misi kampus, bukan dengan visi-misi partai politik. Karenanya, hemat saya, pesta seremoni perkenalan dengan mahasiswa baru perlu digelar, tentunya dengan pengawasan ketat terhadap ketakutan pelanggaran kemanusiaan sebagaimana di kampus luar yang menjadi ma’op bagi dunia kampus. Sungguh kutak yakin terhadap pelarangan perkenalan dengan mahasiswa baru tahun ini, apakah ketakutan rektor (dipecat misalnya) atau sama sekali memang mahasiswa sekarang sudah lemah (tidak bergengsi lagi) terhadap peristiwa sakral tahunan tersebut. Wallahu’alam.

Mantan mahasiswa di kampus Jantông Haté rakyat Aceh

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: