Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pola Kehidupan Masyarakat Aceh

wagubHerman RN

Pola kehidupan masyarakat Aceh sejak zaman dahulu sudah diatur berdasarkan kaedah-kaedah hukum agama Islam. Pola kehidupan masyarakat Aceh di zaman dahulu dibagi dalam beberapa tingkat atau strata. Meskipun terbagi dalam strata-strata tidak berarti ada pemilahan pandangan hidup di antara strata tersebut. Rakyat Aceh menyebut strata itu dengan golongan. Adapaun golongan yang dimaksud adalah, golongan rakyat biasa, hartawan, ulama/ cendikiawan, dan kaum bangsawan.

Golongan Rakyat Biasa

Golongan ini dalam masyarakat Aceh disebut dengan ureung lé (orang banyak). Dikatakan demikian karena golongan ini merupakan golongan paling banyak dalam masyarakat adat Aceh.

Golongan Hartawan

Golongan ini merupakan golongan yang senang bekerja keras untuk meningkatkan pengembangan ekonomi pribadi. Dari pribadi-pribadi yang sudah memiliki harta itu dibentuklah suatu golongan yang disebut dengan golongan hartawan. Golongan ini cukup berperan dalam soal-soal kemasyarakat, terutama dalam hal menyumbang.

Golongan Ulama atau Cendikiawan

Golongan ini umumnya berasal dari rakyat biasa, tetapi mereka memiliki ilmu pengetahuan yang cukup menonjol. Dalam masyarakat Aceh golongan ini disebut juga sebagai orang alim. Orang-orang di golongan ini dalam kehidupan masyarakat Aceh dipanggil dengan gelar Teungku. Akan tetapi sapaan Teungku zaman sekarang ini sudah melebar menjadi sapaan hormat ke semua lelaki dewasa. Golongan ulama ini sangat berperan dalam masalah-masalah agama dan kemasyarakatan.

Golongan Bangsawan

Golongan bangsawan adalah golongan kerajaan. Zaman sekarang golongan bangsawan dapat dilihat dari garis keturunan Sultan Aceh. Dalam golongan ini dari garis keturunan perempuan disebut Cut dan garis keturunan lelaki disebut Teuku. Panggilan untuk teuku ini sering disebut dengan ampon.

Selain pembagian golongan di atas, sistem kemasyarakatan rakyat Aceh merupakan perwujudan dari beberapa keluarga inti. Keluarga inti yang dimaksud adalah kelompok masyarakat yang mendiami sebuah daerah yang disebut gampoeng. Sistem sosial masyarakat Aceh berpedoman pada keluarga inti tersebut. Dalam setiap keluarga inti atau gampoeng sudah tersusun lembaga-lembaga adat yang mengacu kepada mukim. Lembaga-lembaga adat itu sangat berperan penting dalam mengatur segala hal dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di gampoeng/ mukim tersebut.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh ada yang namanya hukum adat, yaitu hukum yang bersendi kepada syariat Islam. Penerapan hukum adat dalam kehidupan masyarakat Aceh tidak terlepas dari sendi-sendi agama Islam. Oleh karena itu adat dan hukum tidak bisa dipisahkan seperi hadih maja, “Hukôm ngoen adat lagee zat ngoen sifeut.”

Iklan

Filed under: Resensi

One Response

  1. putra berkata:

    kalau bisa, artikel tentang kaum bangsawan aceh di perinci lagi. thanx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: