Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Bahasa Aceh Tidak Jadi Punah

Buku Panduan Diluncurkan

Banda Aceh–Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Unsyiah, Drs. Denni Iskandar, M.Pd., mengatakan, bahasa Aceh tiga atau empat tahun ke depan akan punah, jika tidak ada upaya pendokumentasian terhadap bahasa Aceh tersebut.

“Penggunaan bahasa Aceh, baik dalam acara formal maupun nonformal sudah mulai diganti dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa asing. Ini akan menambah kadar kepunahan terhadap bahasa Aceh. Apalagi, undang-undang negara ini memberikan pilihan kepada sekolah antara bahasa daerah atau Tulisan Arab Melayu yang dijadikan muatan lokal. Kalau semua sekolah memilih Tulisan Arab Melayu sebagai muatan lokal, bahasa Aceh akan punah terus,” katanya, saat menjadi pembicara dalam peluncuran buku Pelajaran Bahasa Aceh untuk siswa SMP karangan Drs. Wildan Abdullah, M.Pd., Dosen FKIP Unsyiah, Jumat (28/11).

Menurut Denni yang juga seorang konsultan pendidikan di Dinas Pendidikan Aceh, apa yang telah dilakukan Wildan dalam buku berjudul “Peulajaran Basa Aceh” itu adalah referensi yang dapat digunakan oleh guru dalam memberikan pembelajaran bahasa Aceh kepada siswanya.

“Buku ini juga bisa dijadikan landasan bagi khalayak umum yang ingin mengetahui sekitar bahasa dan budaya Aceh, sebab susunan fonologi, morfologi, semantik, sintaksis, dan ejaannya, sudah sangat terjaga dengan apik,” ujarnya.

Pembicara lainnya, Dr. Burhanuddin Yasin, M.Ed., Dosen Bahasa Inggris FKIP Unsyiah, menyatakan sulit mencari kelemahan pada buku bersampul biru laut tersebut. Di samping dibantu penulisannya secara keroyokan oleh dosen-dosen PBSID Unsyiah, buku itu juga dieditori oleh seorang ahli linguistik (bahasa), Dr. Abdul Gani Asyik, M.S.

“Kalau kita lihat dari sisi kanan, buku ini adalah ‘acungan jempol’. Jika kita lihat dari sisi kiri, buku ini jari kedua setelah kelingking, yakni jari manis,” kata Burhanuddin.

Sebelumnya, Dekan FKIP Unsyiah, Dr. Yusuf Azis, M.Pd., yang membuka secara simbolis peluncuran buku tersebut, memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap Wildan, si penulis buku. Pasalnya, Wildan yang sekarang sedang sibuk menyelesakan disertasi doktoralnya di Malaysia, masih mampu meluangkan waktu untuk menulis sebuah buku yang sangat besar manfaatnya bagi masyarakat luas.

“Memang, yang berhasil ‘membuahkan’ buku-buku berkualitas pada umumnya adalah orang-orang yang sibuk. Kalau mereka tidak sibuk, mereka tidak akan pernah menulis. Hanya orang sibuklah yang pandai memanajemen waktu sehingga mampu menghasilkan karya luar biasa. Ini yang ditunjukkan Pak Wildan hari ini,” demikian Dekan FKIP Unsyiah, penutur bahasa Aceh dialek Pidie. Ia sepakat bahasa Aceh tidak jadi punah, karena sudah ada buku panduan tentang bahasa Aceh yang baik dan benar.

Iklan

Filed under: Feature

One Response

  1. Aulia berkata:

    maka jip peurele aneuk muda yang tem lestrakian bahasa droe teuh.

    Nanggroe.com salah satu jih jeut sebagoe penjajakan untuk memajukan bahasa Aceh sebagoe bahasa donya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: