Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Perempuan yang Bebas dari Dapur, Sumur, Kasur

Oleh Herman RN

Dahsyat! Perempuan-perempuan itu tidak lagi memegang sendok, garpu, atau panci, melainkan bolpoin dan buku. Mereka tidak lagi memarut atau meremas kelapa dalam baskom, melainkan ‘memeras kepala’ sendiri hingga jadilah ‘hidangan siap saji’ kepada sesiapa pun.

Pagi itu, Kamis, 14 November 2008, embun masih melekat di pucuk-pucuk daun. Rumah putih seukuran dua kali lapangan voli di Jalan Peurada Utama, Lorong Flamboyan I, terlihat biasa-biasa saja dari luar. Namun, dalam rumah, tepatnya di ruang tamu, sudah berkumpul 21 perempuan. Mereka duduk setengah melingkar membentuk liter “U”. Rata-rata dari mereka mengaku sebagai ibu rumah tangga. Hanya sebagian kecil—bahkan cuma sebelah bilangan jari tangan—yang mengaku belum berkeluarga.

Mereka berkumpul bukan untuk arisan atau membicarakan masakan apa yang akan disajikan untuk suami. Mereka sedang membicarakan “masakan” apa yang layak saji untuk publik. Masakan di sini mereka sebut tulisan yang ‘layak’ publikasi.

Ya, kaum ibu itu sedang mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh Center for Community Development and Education (CCDE). Kendati sudah beberapa kali kaum ibu kelompok dampingan CDDE diberikan pelatihan menulis, hari itu mereka masih tetap mendapatkan pelatihan yang sama. Namun, “masakan” yang akan mereka ramu kali ini dalam bentuk feature.

“Dahsyat!” ini kata pertama yang muncul di benak saya saat memberikan pelatihan kepada lebih dari 20 kaum ibu dari berbagai daerah tersebut. Betapa tidak, saat perkenalan awal dengan mereka, tidak saya dapati satu pun dari kaum ibu tersebut yang memiliki perkerjaan tetap seperti PNS atau pegawai perusahaan. Bahkan, ada yang mengaku sekolah hanya tamatan SD. “Tamatan SD, tapi tidak menyerah untuk dapur, sumur, dan kasur?” pekik batin saya kala itu. Sungguh karunia Tuhan yang terindah dari berbagai karunia lainnya. Spontan saya tecenung beberapa saat dan mengingat salah satu ayat Alquran dalam Surat Ar-Rahman, “Fabiayyi alaa irabbikumaa tukazzibaan” (Nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan).

Ketakjuban saya semakin menjadi saat membuka kelas pelatihan itu dengan meminta mereka segera mencoba menulis. Terus terang, rasa penasaran saya terhadap ibu-ibu yang di antara mereka ada yang sudah berkepala empat untuk menulis membuat saya enggan membuka mulut panjang lebar sebagaimana gurur-guru di sekolah yang gemar berceramah. Maka, spontan saya meminta mereka memainkan imajinasinya dengan sebua spidol. Spidol tersebut saya letakkan di tikar, lalu meminta mereka menulis tentang spidol tersebut. Hasilnya?!

Sekali lagi, menakjubkan. Meskipun selama ini mereka berkutat dengan periuk, panci, sendok, garpu, sabun, dan serpey, hari itu mereka tunjukkan bahwa diri dan pikiran mereka telah bebas dari anomali anggapan yang kerap menjadi pemeo bahwa perempuan tempatnya “Dapur, Sumur, Kasur” (DSK). Buktinya, dari sebatang sipidol (benda mati) yang tergeletak di tikar, mereka telah menghasilkan sebuah karya yang hidup. Ada yang menuliskan spidol itu sebagai bom, ada yang beranggapan sebagai “aku” lirik yang diingat dan dilupakan, ada yang menulisnya sebagai sebuah gedung bertingkat yang tampak dari kejauan, ada yang menuliskan spidol tersebut sebagai sebuah coklat batang yang nikmat, dan sebagainya. Di sini, imajinasi bermain, berkembang, dan berjalan apa adanya. Gaya bertutur mereka seperti harapan sebuah penulisan feature—penulisan berita yang bertutur/berkisah—telah muncul.

Dari cara pengembangan imajinasi tersebut terlihatlah bahwa pemikiran kaum ibu yang datang dari berbagai pelosok kampung di Aceh itu telah berkembang. Mereka sudah merdeka, tidak lagi berpikir bagaimana mengolah masakan untuk suami, bagaimana mencuci pakaian, dan bagaimana merawat bayi. Hari itu, mereka merdeka dari dapur, sumur, dan kasur.

Kebutuhan non-DSK

Ada yang menarik dari diskudisi bersama ibu-ibu tersebut, yakni kebutuhan. Agaknya dibutuhkan sebuah pustaka di masing-masing daerah di Aceh untuk memancing minta baca-tulis kaum ibu. Hal ini berguna untuk menunjang minat mereka mengembangkan daya pikir dalam bentuk tulis. Bahwa selama ini kebiasaan “ngerumpi” sesama kaum hawa memang sudah saatnya ditinggalkan. Tetapi, bagaimana menjadikan hal yang digosipkan tersebut sebagai sebuah “santapan” layak baca adalah kebutuhan saat ini.

Melihat perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kebiasaan sastra lisan lekas tenggelam. Karenanya, ia butuh didokumentasikan, salah satunya melalui medio tulis. Hal inilah yang kemudian dicoba lakoni sejumlah LSM di Aceh—mungkin juga di daerah lain. Walhasil, lahirlah sejumlah komunitas kepenulisan, mulai jenjang anak-anak hingga orang dewasa. Dan CCDE menoba mengambil peran tersebut dikhususkan bagi kaum ibu, artinya perempuan-perempuan yang sudah memiliki usia balig—umumnya sudah (pernah) atau akan berumah tangga.

Oleh karena itu, menyikapi kemajuan zaman, kebutuhan berikutnya bagi kaum ibu ini adalah pembelajaran tentang teknologi dan informasi. Mau atau tidak, komputer sudah menjadi kebutuhan primer saat ini untuk mendokumentasikan setiap karya tulis. Maka, menjadi penting bagi kaum ibu (apalagi, mereka mengaku tidak sekolah atau hanya tamat SD), diberikan pula pelatihan menggunakan komputer, minimal microsoft office word dan microsoft iffice exel.

Hal ini menjadi penting karena kebiasaan mengirimkan karya tulis untuk didokumentasi dan/atau dipublikasi lebih cenderung kepada karya yang ditulis mesin (komputer atau mesin tik). Pengalaman dan pengamatan pribadi saya selama berkecimpung dalam dunia media dan penerbitan, karya yang ditulis tangan kecil kemungkinan, atau boleh dikatakan tidak, untuk dimuat/diterbitkan. Bahkan, ada media yang mengkhususkan hanya menerbitkan karya yang dikirim melalui elektronik (e-mail). Maka, kebutuhan selanjutnya di sini adalah internet.

Kalau boleh berandai, tatkala kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dimiliki oleh kaum ibu tadi, meskipun tidak menempuh sekolah, mereka akan dapat “merdeka” dari DSK sehingga DSK tidak lagi dianggap sebagai kekang bagi kaum ibu, melainkan kebutuhan berikutnya. Ketika kaum ibu di pelosok-pelosok sudah mulai menulis, tentunya banyak hal yang selama ini tidak terjangkau oleh pena wartawan, tetap dapat diketahui oleh masyarakat luas. Semoga!

Herman RN, peminat pendidikan dan kebudayaan.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: