Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Yang Penting, MENULIS!

(Sepucuk Celoteh Herman RN)*

ada daun jatuh

tulis

ada rumput menghijau

tulis

ada tanah terbakar

tulis

ada anak pipit jatuh dari sarangnya

tulis

bukukuDemikian sedikitnya bunyi puisi Saut Sitompul yang dia beri judul “Tulis”. Melalui puisi itu dapat dipetik sedikit simpulan bahwa menulis sangat mudah. Semua hal yang ada di dunia ini, baik di bumi maupun di langit, atau di antara keduaya, dapat dijadikan tulisan. Terserah mau menulis dalam bentuk apa, tergantung keinginan pribadi si penulisnya. Terserah mau jenis apa, jua tergantung kemauan si penulis. Singkatnya, menulis itu gampang, seperti yang pernah diutarakan Arswendo Atmowiloto dalam bukunya “Mengarang Itu Gampang”. Buku yang diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta, 1994 itu meyakinkan pembaca bahwa mengarang atau sebut saja menulis adalah pekerjaan sangat mudah, kelewat mudah, Arswendo membahasakannya dengan sebutan “gampang”.

Erat memang kaitannya antara maksud Arswendo lewat bukunya dan Sitompul lewat puisinya. Keduanya sama hendak mengatakan bahwa apa saja dapat dituliskan menjadi sebuah cerita, terserah mau cerita panjang atau pendek, mau cerita puitis atau tidak, mau cerita ilmiah atau bukan. Sekali lagi, tergantung kepada yang menulis.

Kiranya itu pula yang dipraktikkan sekelompok anak muda dalam buku ini, mereka menulis. Seperti dikatakan oleh kurator buku ini, kumpulan cerpen “Sepucuk Surat Buat Emak” ini merupakan hasil tugas kuliah Prosa Fiksi di Jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Beranjak dari tugas yang diminta oleh dosen, mereka—mahasiswa PBSID yang umumnya tergolong angkatan muda ini—menulis cerita mereka masing-masing. Entah dari pengalaman pribadi, entah dari pengalaman teman atau orang lain, entah pula hanya berdasarkan khayalan belaka, yang penting mereka menulis, menulis sebuah cerita pendek untuk tugas kuliah yang kemudian jadi buku. Laki perempuan menulis.

Ternyata membuat tugas kuliah berupa sebuah cerita fiksi adalah mengasyikkan. Ini terlihat dari banyaknya naskah cerpen yang masuk kepada tim penilai yang juga merupakan dosen pengasuh mereka. Dari situlah, terbersit keinginan untuk mengumpulkan sebagian karya para mahasiswa menjadi sebuah buku yang ada di tangan Anda sekarang.

Baca dan selami setiap maksud cerita mereka, maka Anda akan semakin yakin bahwa mereka sedang membuat tugas kuliah, yakni yang penting menuliskannya sehingga jadilah tugas itu selesai untuk dikumpulkan.

Ambil saja salah satunya, cerpen “Sepucuk Surat Buat Emak” yang dijadikan judul besar buku ini. Di sini jelas Akmal—si penulis cerita—bertutur apa adanya tentang seorang anak yang ditinggal ibunya. Sejarah masa konflik senjata di Aceh dijadikan Akmal sebagai tema cerita. Bedanya, jika Azhari dalam “Perempuan Pala”-nya sering bercerita tentang anak yang ditinggal oleh ayahnya ke gunung, kemudian si anak bakal menyusul sang ayah (dendam anak), maka Akmal di sini menjadikan sebaliknya, bahwa ibulah yang menyusul ke gunung, sedangkan anak tinggal di kampung menanti kabar si ibu. Artinya, cerita Akmal bukanlah kisah baru untuk anak-anak Aceh. Sayangnya, Akmal terlalu terpengaruh gaya bahasa personifikasi sehingga terlalu banyak pemubaziran kata yang sulit dicari maknanya. Hal ini sudah terlihat pada pembuka cerita: “…Burung-burung bergegas pulang sembari menyajikan nyanyian penidur matahari punah… Kalimat ini sangat ambigu, bahkan boleh dikatakan tak ada makna matahari punah tersebut.

Hampir setiap narasi cerita Akmal selalu dibumbui gaya bahasa personifikasi. Hal ini bukan tidak boleh. Hanya saja, terkesan ada ketimpangan antara dialog dan narasinya. Dialog tokoh, baik antartokoh maupun monolog, cenderung lugas apa adanya, sedangkan narasi cerita diselipkan gaya bahasa personifikasi. Selain itu, kharakter tokoh tidak tergambar jelas dalam cerita ini sebagaimana cerita fiksi umumnya, watak tokoh dijadikan kekuatan dalam membimbing cerita hingga tuntas. Meskipun Akmal menyebutkan si Aku (Agam) tinggal bersama Miwa, siapa Miwa tidak jelas—adik mamaknya kah, adik ayahnya, atau barangkali pacar masa kecil Agam (hehehe..). Ini penting untuk menambah karakter batin tokoh utama.

Kendati demikian, satu hal yang menarik dari cerita ini adalah cara Akmal mengakhir cerita. Surat yang ditujukan Agam untuk emaknya mengantarkan jawaban atas pencarian tokoh utama terhadap emaknya sekaligus menjadi jawaban siapa dan bagaimana emak Agam masa konflik Aceh.

Akmal memang tidak menyebutkan secara pasti latar dan setting ceritanya. Tak ada nama “Aceh atau Banda Aceh” dalam cerita dia. Namun, dari kisah yang diamprahkan dan konflik tentang banyak orang hilang di kampung, ditambah kisah lari ke gunung, dapat kita simpulkan bahwa cerita itu bersetting di Aceh. Ada satu kata yang menguatkan alibi pembaca bahwa cerita itu terjadi di Aceh yakni “Warung Kopi Cek Wan”. Kendati nama ini mungkin dapat ditemukan di daerah lain, tapi warung kopi Cek Wan jelas mengingatkan kita pada Simpang Tujuh Ulee Kareng. Ini yang menguatkan sangkaan saya bahwa setting cerita terjadi di Aceh.

Halnya Akmal, yang lainnya juga menulis setting di Aceh. Hanya saja, mereka lebih melihat Aceh pascakonflik atau pascatsunami. Hal ini seperti pada cerita “Doel Karim” milik Hendra Kasmi dan “Burni Telong” cerpen Netty Wary.

Pada “Doel Karim”, Hendra jelas-jelas menyebut nama Kota Banda Aceh. Artinya cerita memang terjadi di Aceh. Pemaparan awal yang menggambarkan suasana kesemrawutan kota oleh Hendra dapat dikatakan berhasil. Kendati dia tidak menggunakan kata “semrawut” atau “amburadur”, dari pengungkapan sampah-sampah berserakan, mobil-mobil dagangan yang diparkir sembarangan, pengemis lalu-lalang, jalanan becek di kala hujan, Hendra telah berhasil mendetailkan suasana sebuah pasar tradisional di Banda Aceh. Kelihaiannya dalam mengaitkan seniman tutur masa sejarah dengan seniman masa sekarang yang tidak pernah berkembang, hidup tergantung ‘bayaran’, juga dapat dikatakan berhasil. Apalagi, Hendra juga menyinggung nama-nama penyair Aceh masa sekarang. Cerpen ini memang mengalir datar, tapi pesan yang disampaikan dapat cepat meresap dalam hati pembaca, apalagi jika yang membaca adalah seniman.

Selanjutnya, “Burni Telong” mengangkat setting Takengon, Aceh Tengah. Nama sebuah gunung di kota dingin itu yang disertakan dalam cerpen Netty juga hadir sebagai kekuatan latar. Masa-masa Aceh baru lepas dari musibah mahadahsyat gempa dan gelombang tsunami, memang ada isu yang mengabarkan gunung Burni Telong di Aceh Tengah akan meletus. Isu inilah yang menjadi awal konflik dikembangkan Netty. Konflik batin terus bergejolak pada tokoh yang memakai nama penulisnya langsung—Netty. Cerita ini seolah sebagai catatan harian mahasiswa PBSID angkatan 2006 itu saat berada di Banda Aceh, mendengar kabar gunung di kampungnya akan meletus. Konflik batin semakin meninggi saat pukul 00.00, Netty belum berhasil menghubungi nomor HP ayahnya. Sayangnya, saat itu pula Netty menyudahi ceritanya hanya dengan kisah singkat—ayahnya yang menelpon memberi kabar, lalu cerita selesai. Terkesan cerita ini seperti dipaksakan selesai cepat.

Selain tiga contoh di atas, kumpulan cerpen “Sepucuk Surat Buat Emak” umumnya memang bersetting Aceh. Beberapa yang tidak berhasil saya tangkap settingnya di mana adalah “Akhir Nafas Ini” karya Humaira Anwar. Cerpen ini hanya mengatakan bahwa tokoh utama—Tri—tinggal di sebuah vila di pinggir gunung, tidak disebutkan gunung apa dan di mana. Namun, cerita ini memiliki kekuatan tersendiri, yakni alur yang amat terjaga. Pembaca dihantar pada sebuah penantian bagaimana akhirnya tokoh, yang katanya akan mati dalam waktu tunggu sebulan karena mengidap kanker otak. Kejadian demi kejadian kecil tentang keinginan minta maaf tokoh kepada orang-orang dikenalnya menjadikan pembaca akan terus mengikuti akhir cerita. Dahsyatnya, Humaira ternyata tidak mematikan si tokoh. Ia hanya meninggalkan sebaris kalimat dari Tri, “Aku tak yakin bisa menyambut mereka lagi.” Apakah Tri jadi mati atau tidak, penulis menyerahkan kepada pembaca. Ini ending terbuka yang kuat, karena ia meninggalkan pertanyaan besar di benak pembaca.

Cerita pendek “Kenangan Pahit Karenia” milik Mukhlisanur juga tidak jelas setting wilayahnyanya. Penulis hanya menyebutkan tokoh setiap hari ke panti asuhan, tapi tidak jelas nama dan tempat panti tersebut. Gaya berceritanya pun beda dari yang lainnya. Pada setiap dialog, Mukhlisannur menulisnya dalam bentuk naskah drama. Sayangnya, hal itu tidak dijaga sampai habis cerita. Pada paragraf-paragraf terakhir, dialog diserangkaikan dengan narasi sehingga terkesan tidak konsisten.

Beragam sekali gaya bertutur mereka ya?

Ya, memang sangat beragam, bukan hanya pada alur atau penempatan dialognya, cara membuka cerita juga beraneka. Ada yang melakukan membuka cerita seperti umumnya cerpen yang sudah ada, yaitu memaparkan lokasi, susana alam, lalu memperkenalkan tokoh. Gaya pemaparan susana memulai cerita kelihatan pada cerpen “Sepucuk Surat Buat Emak”, “Doel Karim”, “Mengejar Impian” cerpen Nurhadia, “Air Mata di Komedi Putar” cerpen Rhismawati, “

Pada cerita “Ibuku Selingkuh” cerpen Fitriana pembukaan cerita tidak berlama-lama pada gambaran suasana. Penggambaran suasana alam sekedarnya saja sebagai penunjuk waktu magrib. Hal serupa juga terlihat pada “Namanya Iffah Annisa” cerpen Rahmi. Penggunaan kata “pukul delapan” dan “mata kuliah pertama” menunjukkan waktu masih pagi. Artinya cerita dibuka dengan pengungkapan waktu (pagi). “Burny Telong” juga cerita yang dibuka dengan pengungkapkan waktu.

Sementara itu, pada “Mengapa Aku Dilahirkan sebagai Perempuan” cerpen Yudi Pratama, cerita dibuka dengan, “DEAR.. diary.” Ini menandakan cerita tersebut lebih kepada kisah agenda harian. Ceritanya ini juga dimulai dengan penunjukkan waktu, namun lebih kepada hari/tanggal kejadian (namanya saja diary). Tentunya yang menjadi kekuatan dalam gaya bertutur seperti ini adalah runtutan waktu. Karena itu, gaya bercerita dengan menggunakan catatan harian mesti hati-hati dalam menjaga logika pergantian ruang dan waktu.

Selain itu, ada juga yang membuka cerita langsung memperkenalkan siapa si tokoh. Hal ini seperti “Bukan Cowok Gampangan” cerpen Erni Ningsih, “Kenangan Pahit Karenia” cerpen Mukhlisannur, dan “Nita dan Adi yang Tak Tahu Apa” cerpen Epriadi. Hanya saja pada cerpen Epriadi terkesan sengaja “disedih-sedihkan” seolah pengarang terlalu mendominasikan hatinya dalam menjalankan alur. Kata-kata narasi dalam cerpen itu sangat disengaja jaga dengan kata-kata perendahan karakter tokoh. Misalnya, “Gadis mungil berkerudung yang duduk di ayunan taman sekolah itu, tengah menangisi kehidupannya yang betapa nestapa. belum lama ini ayahnya menghadap yang maha kuasa, ibunda yang ia cintaipun menyusul pula. Kini ia bersama bibi dan pamannya yang tinggal ditengah kota. Anak desa yang dulunya manis manja telah pula berhadapan segudang pekerjaan rumah tangga yang baiknya dikerjakan orang dewasa. Namun apa hendak dikata kehidupan yang ia jalani harus pula ia teruskan meski seperti budak masa penjajahan.

Hampir semua baris kalimat pembuka adalah kata-kata pesismisme yang tidak meberikan kebebasan bahasa terhadap cerita. Saya sebagai orang yang kenal dekat dengan penulisnya, beranggapan semua itu hanya dominasi hati penulis. Artinya, Epriadi belum berhasil melepaskan emosi pribadinya saat menuliskan sebuah cerita fiksi. Tema terlalu menyedih-sedihkan seperti ini sudah jarang kita temua pada cerpen Indonesia dewasa ini, mungkin boleh dikatakan sangat langka. Di samping itu, pemilahan dialog dalam cerpen Epriadi juga tidak jelas. Perhatikan paragraf berikut: “Ampun bik..bukan saya yang mengambilnya. Alasan, kalau bukan kamu siapa lagi, ngaku saja…..ayo ngaku. Baik… kalau kamu tidak mengaku pergi saja kamu dari sini. Biar kamu tahu rasa bagaimana kehidupan diluar sana. Ampun paman bukan nita yang mengambilnya. Demi tuhan bukan saya yang mengambil. Ucapan mohon ampun itu terus saja diucapkan nita. Namun paman dan bibinya terus saja memukuli nita dengan tangan mereka hingga tubuh dan wajah nita memerah dan lutut kiri nita hingga membiru dipukul bibinya dengan tangkai sapu

Tidak ada pemilahan dialog antara tokoh si gadis kecil, bibi, dan paman dalam paragraf tersebut. Jua tak ada pemilah antara dialog dan narasi, belum lagi ejaan bahasa yang masih amburadur. Tapi, sudahlah, yang penting sudah menulis!

Selebihnya, cerpen-cerpen di sini pembukaan ceritanya dengan gaya langsung pada dialog. Hal ini dapat ditemukan pada kisah “Play Boy Kodok” cerpen Zaid Bayu Isra, “Telepon Genggam” cerpen Edi Miswar Mustafa,

Hal yang jarang kita temukan pada cerpen umumnya adalah membuka cerpen dengan sebuah atau sebait puisi. Namun, pada kumpulan cerpen mahasiswa PBSID ini, membuka cerpen dengan puisi atau sajak akan kita temukan. Ini adalah gaya yang asyik, meski tidak baru-baru sangat. Adapun cerpen yang dibuka dengan puisi di antaranya “Kepergian Silva, Kesalahan Aku atau Dia”, “Akhir Nafas Ini” cerpen Humaira Anwar, dan “Renungan Kloset”cerpen Decky R. Risakotta. Cerpen Decky, tidak hanya dibuka dengan puisi, narasi dan dialog berikutnya juga terkesan bagai puisi. Cerpen ini sekilas seperti puisi panjang, yang kalau boleh saya beralibi, terinspirasi dari puisi Rike Diah Pitaloka atau puisinya Remy Sylado yang berjudul “Menghayal Jadi Presiden”. Perkara terinspirasi mesti hati-hati. Memakai kalimat orang tanpa mencamtumkan sumbernya dapat dicap plagiat.

Terlepas dari semua keberagaman itu, seperti yang saya katakan sebelumnya, yang penting bagi mereka adalah menulis, menulis, dan menuliskannya menjadi sebuah cerita. Menulis sebuah cerita untuk tugas kuliah lalu menjadikannya sebuah buku adalah patut untuk kita beri aplause. Apalagi, ini ditulis oleh anak-anak kampus yang sebagian besar masih tergolong angkatan muda (saat cerpen ini ditulis, rata-rata masih duduk di semester III-V).

Baiklah, teman-teman, teruslah menulis, menulis, menulis, apa saja, tentang daun yang lepas dari tangkainya, tentang buah yang jatuh dari dahannya, tentang batang yang tak lagi bercabang atau cabang yang entah kemana batangnya, tentang sungai, tentang laut, tentang gunung, tentang kabut, tentang buih, tentang bintang, dan tentang segala tentang, tentang yang menentang dan yang tidak menentang. Terserah orang mau bilang apa, yang penting kita, MENULIS!

*Alumni Jurusan PBSID, FKIP, Unsyiah, Pegiat kebudayaan, peminat masalah pendidikan dan sastra.

Iklan

Filed under: Cerpen

One Response

  1. Liza berkata:

    Wah waktu puisi itu jadi ingat wkt seuramoe teumuleh dlu..Btw,kpn st 3 diadakan? N alumni st 1 blh iktan juga dunk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: