Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

KURBAN

Herman RN

kurbanKulat pak di Meulaboh, kulat gôh di Meuraxa/ Ureueng rab h’an meuteumee pajôh, ureung jiôh nyang meuteumee rasa//

Karena berpegang teguh pada hadih maja di atas, Geuchik Gampông Lamsulet atur strategi. “Nyoe, sigolom bagi sie kurbeun keu masyarakat, bagi beuadé dilè keu teungku-teungku ngon panitia kurbeun,” katanya pada panitia korban. Saat itu, di gampông mereka sedang sibuk-sibuknya mengatur segala persiapan untuk meyembelih hewan kurban, sebab esok adalah Hari Raya Idul Adha atau dikenal juga dengan Hari Raya Qurban.

“Ingat, Allah berfirman, bersikap adillah kamu, karena adil itu mendekatkan dirimu dengan taqwa,” katanya lagi.

Maka, mulailah panitia kurban mendata masyarakat yang ada di Gampông Lamsulet tersebut. Anak yatim sekian, janda sekoyan, fakir secawan, miskin segenggam. Data dimaksud kemudian diserahkan kepada Pak Geuchik.

Hatta, hari ditunggu tiba. Selepas menunaikan ibadah salat ‘ied, disembelihlah tujuh ekor kibas yang sudah mereka siapkan untuk hewan kurban.

“Bagaimana pembagiannya, sudah ditentukan dengan adil?” tanya pak Geuchik. “Ingat, harus adil.”

“Sudah, Pak,” sahut ketua panitia kurban sembari menunjukkan sejumlah tumpukan hewan kurban yang sudah disembelih.

“Hatinya untuk siapa saja?” tanya Pak Geuchik. Maksudnya hati kibas.

“Untuk para janda, tiga, yang empat lagi untuk anak yatim, Pak.”

“Lho, itu bisa tidak adil. Janda di gampông kita kan ada lima orang, kalau yang dikasih tiga orang saja, tidak adil namanya. Sedangkan anak yatim ada sembilan di gampông ini. Trus… bagaimana dengan fakir miskin, kok mereka tidak dapat bagian?” tanya Pak Geuchik lagi.

“Kami sudah mempertimbangkan dengan baik, Pak Geuchik. Janda yang dapat hati kibas ini termasuk juga dalam kategori miskin, sedangkan anak yatimnya, yatim yang miskin juga. Yatim yang tinggal bersama orang kaya, tidak dapat bagian hati, tapi tetap dapat bagian dagingnya.”

“Ah, itu sama saja, kalau yatim tetap yatim, miskin tetap miskin, jangan dicampur-adukkan yatim dengan miskin. Lebih baik begini. Karena hati kibas ini cuma ada tujuh..” Pak Geuchik diam sesaat sambil membelai janggutnya. “Bagaimana ya? Kalau dikasih ke tuha peuet, mereka cuma ada empat orang, hatinya bisa lebih. Kalau diberikan kepada tuha lapan, tidak cukup, mereka ada delapan. Em..begini saja, kamu simpan saja dulu hati-hati kibas ini di rumah saya,” kata Pak Geuchik.

Ketua panitia diam sejenak.

“Kenapa diam? Biar adil, ya..simpan di rumah saya saja. Saya kan geuchik. Apa salahnya masyarakat berkurban untuk geuchiknya sesekali. Ingat, hari ini hari kurban, masyarakat harus bisa berkurban untuk pemimpinnya,” ujar Geuchik Lamsulet sambil berlalu menenteng sepotong paha kibas.

Iklan

Filed under: Haba-haba

One Response

  1. Aulia berkata:

    hahahah…
    keuchik-keuchik….
    that meupaloe cit keuchik…
    keuchik juga manusia khen awak nyoe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: