Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

TURUN

Herman RN

gantengSesatu yang beranjak ke bawah sederhanya dimaknai dengan kata “turun”. Ada pula yang menyebutnya dengan “jatuh” sehingga tidak ditemukan adagium bahwa jatuh itu ke atas. Lawan turun tentunya naik (nah, ini baru beranjak ke atas). Pertanyaannya, bisakah turun itu agar sampai ke atas?

Realisme “cang panah” menyebutkan hal ini menjadi lumrah. Realitas kehidupan sekarang ini pun dimungkinkan turun untuk sampai ke atas menjadi lumrah pula. Artinya turun untuk naik.

Tak usah mengingat periode Soeharto, Habibi, Gusdur, atau Megawati, sebagai contoh. Amati saja masa sekarang—masa-masa negara ini masih di tangan Susilo Bambang Yudhoyono. Tatkala semua harga barang dinaikkan, SBY malah menurunkan harga BBM.

Sebut saja mulanya harga premium yang diturunkan dengan stetemen bahwa harga solar tetap pada nominal Rp5.500. Nah, kemarin, saya nonton teve, Yusuf Kalla, sang wakil SBY, malah berujar, solarlah yang mestinya diturunkan, bukan premium. Dengan alasan, solar lebih banyak digunakan orang, mulai dari petani untuk mesin traktor, pedagang untuk minyak bus, hingga nelayan untuk speed boat-nya.

Di sini sudah terjadi perbedaan pendapat antara bos dan wakil. Saya kira ini wajar saja. Dalam sebuah lagu pun ada kalimat “Bagaikan air di daun keladi”. Saya kira SBY sangat kenal lagu satu ini. Maka itu, menjadi wajar ide saang presiden berubah-ubah. Bukankah, sebelumnya juga dikatakan bahwa premium tidak akan turun. Pertanyaannya, mengapa bisa turun juga?

Ini dia yang dikatakan dengan “turun untuk naik” tadi. Bukankah masa jabatan kepemimpinan SBY dan JK hampir habis? Kalau masa kepemimpinan itu berakhir dan mereka harus turun dari tahta kepresidenan, rasanya sih, kursi itu masih terlalu empuk ditinggalkan. Makanya, lebih baik menurunkan harga BBM, sebab semua mahfum, sesiapa dapat menurunkan BBM yang menjadi kebutuhan masyarakat kecil, menengah, hingga besar, itu akan dicintai rakyat.

“So, turunkan harga BBM untuk naik kembali,” begitulah kata Pawang Dolah, nelayan di gampông Lamsulet.

Lantas, apa hubungannya dengan Aceh. Di Aceh, semua sedang senang naik. Harga barang naik, air laut naik (tsunami), saat ini, air sungai pun sedang naik meskipun sudah pernah turun, dan pembesar-pembesar di Aceh sedang turun ke lokasi air naik tersebut.

Mengertilah maksudnya mengapa pembesar-pembesar itu sedang hobi turun ke lokasi air bah, padahal dulu sangat anti dengan becek sedikit jua. Itu tuh, di lapangan bola sedang naik bendera…

Orang dahulu bilang begini, “Keureuléng nggang heut keu abeuk/ Keureuléng kuek heut keu paya/ Menyo kon sinan lé jipatheuk/ Panee kuek keunan jiteuka//.

Iklan

Filed under: Haba-haba

2 Responses

  1. zulham berkata:

    Ureung aceh emang hebat!
    hana masalah naik turun nyan…
    Walau harga BBM naik 20.000
    orang aceh akan membelinya… Tanpa Demo lebih dahulu… he he

  2. Aulia berkata:

    bbm turun lagi……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: