Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

AIR

Herman RN

bisnis-kecapAir hujan, air sumur, air sungai, air bunga, air salju, air buah, air manis, air kopi, air teh, air susu, air tuba, air hidung, air mata, dan mata air. Dari sekian air itu dan tentunya masih ada lagi air lainnya, air yang mana yang sangat berbaha?

Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, sungguh saya tak tahu harus menjawab yang mana? Pasalnya, kalau dikatakan air laut berbahaya, baru bisa dibenarkan jika sudah menjadi tsunami atau saat ombaknya menggulung besar di tengah badai. Dan yang mengatakan bahaya pastinya para nelayan, sedangkan yang tidak pernah ke laut, tak mungkin akan mengatakan bahaya karena tidak dia rasakan.

Pun disebut laut berbahaya saat tsunami karena mampu melumat segala yang ada, yang digulung oleh gelombangnya, sebab gelombang tersebut mampu menjadi musabab kematian, baik manusia maupun hewan.

Kalau ukuran berbaya adalah ‘mati’, nyaris semua jenis air itu bisa mematikan, bukan hanya air laut. Bukan pula hanya air tuba karena mengandung racun. Air susu pun dapat mematikan. Tidak percaya, coba saja susu kadaluarsa. Tapi, usul saya, tak usah dicoba. Nanti Tuan akan menyesal.

Selanjutnya, apakah air mata juga berbahaya? Menurut saya, “mungkin saja”. Ilustrasinya begini: seorang ayah tak tahan melihat air mata anaknya karena disakiti oleh seseorang, maka tak menutup kemungkinan si ayah akan membunuh seseorang tersebut. Atau seorang tentara sedang menangis menahan sakitnya hujaman peluru musuh. Teman seperjuangan tentara itu mungkin tak tega melihat temannya menangis menahan sakit, akhirnya menembak mati temannya teresebut.

Tentu saja masih ada kisah lainnya yang mirip dengan ilustrasi di atas. Singkatnya, air mata juga dapat menjadi musabab kematian. Lantas, bagaimana dengan mata air? Bukankah banyak pepatah mengansumsikan mata air itu sejuk, bening, adem, dan yang baik-baik lainnya?

Nah, hal ini dapat kita dekonstruksikan melalui pertanyaan, dari mana muasal mata air? Tentu sangat susah menjawabnya. Terus terang, saya belum memperoleh ilmu pengetahuan tentang asal muasal mata air, tetapi saya pernah dengar muasal air sumur, air sungai, air kolam, bahkan air minum mineral itu dari mata air.

Sekarang kita ambil salah satu dari amsal tersebut. Katakanlah air sungai yang juga berasal dari mata air. Apakah air sungai berbahaya? Saya tidak berani menyimpulkan. Namun, saat ini kita—Aceh bahkan sebagian pulau Jawa—sedang akrab dengan air sungai, yang katanya sedang mengancam keselamatan masyarakat.

Mulanya hujan, jatuh ke bumi, ditampung air sungai, lantas kita tetap menyebutnya air sungailah yang bah, yang naik hingga ke darat, merendam kebun warga, lahan warga, rumah warga, bahkan tubuh warga.

Kalau sudah begini, kita menyebutnya banjir. Meskipun banjir itu karena hujan lebat berhari-hari atau berminggu, tetap yang disebut banjir adalah dari air sungai. Aceh Selatan banjir, Aceh Utara banjir, Bireuen banjir, Aceh Singkil banjir, Aceh Tamiang banjir, Kutacane banjir, dan yang lainnya juga banjir. Rata-rata karena meluapnya air sungai. Meskipun ada alasan lain yang menyebutkan karena hujan, tetap dalih lebih besar adalah “air sungai tertentu meluap”. Misalnya, di Aceh Selatan, air sungai Kluet meluap, di Bireuen, Krueng Peusangan yang meluap, demikian daerah lainnya.

Kembali pada ‘bermula’ tadi, bahwa air sungai ada karena ada mata air yang mengalir di sana. Kalau begitu, mata airkah yang menjadi muasal sebab dari segala banjir? Kalau begitu, mata airkah yang paling berbahaya dari segenap jenis air? Sekali lagi saya tidak berani menyimpulkan, karena tanpa mata air, kita tidak dapat minum. Tanpa mata air kita tidak dapat mandi, tidak dapat mencuci, tidak dapat memasak, tidak menyiram bunga, bahkan tidak dapat hidup.

Sekali lagi saya pakai kata “kalau begitu”.. kalau begitu, tidak ada air yang berbahaya meskipun ada yang namanya banjir? Jika pertanyaan ini, saya berani menyimpulkan “ya, tidak ada air yang berbahaya meskipun ada namanya banjir. Bahkan, dalam sebuah riwayat disebut bahwa salah satu rahmat terbesar di jagad ini adalah hujan, dan hujan adalah juga air.

Kalau demikian, tak perlu menangisi, mengutuki, atau menakuti banjir, karena ia hanya cobaan? Kearifan ureueng Aceh berkata “Ujôb teumeu’a riya teukabô, di sinan nyang le ureueng binasa/ Bala tasaba, nekmat tasyukô, sinan nyang le ureueng bahgia. Insya Allah. Oya, apakah Saudara sudah minum air pagi ini?

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: