Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

AIDS, Nilai Sebuah Kenikmatan

(Catatan Mantan Seorang Pecandu)

Oleh Herman RN

Pengantar
Catatan ini merupakan kisah seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Medan Aceh Partnership (MAP) cabang Banda Aceh. Mulanya, dia adalah seorang pecandu. Namun, belakangan dia beralih propesi menjadi aktivis sebuah LSM yang bergerak di bidang penanggulangan terhadap korban Narkotika dan Obat-obat Berbahaya (Narkoba) dan AIDS. Saya bertemu dengan dia setelah peringatan Haria Anti Madat se-Dunia tahun lalu. Kami sempat berbincang-bincang sekitar pengalaman dia menjadi seorang aktivis anti-madat di kantor MAP Banda Aceh. Kisah ini kutulis sebagai sebuah catatan yang berharap ada manfaat bagi semuanya. Oleh Harian Aceh, menerbitkan kisah ini dalam beberapa edisi bersambung di rubrik KESEHATAN, setiap Rabu.

Pagi itu, Lapangan Blang Padang yang terletak di pusat Kota Banda Aceh lebih ramai dari biasanya. Sebuah panggung selebar setengah lapangan bola voli berdiri kokoh di sudut selatan lapangan itu, lengkap dengan pengeras suara yang kutaksir sekitar 7500 watt. Di bagian belakang panggung terpajang sebuah spanduk sepanjang delapan meter. Dari sekian tulisan di kain rentang itu, terdapat sebuah tulisan “Hari Anti Madat se-Dunia”.

Sebelum bertandang ke kantor MAP Banda Aceh, melalui telepon genggam, aku dikabarkan oleh Hadi, salah seorang aktivis MAP tersebut bahwa di kantornya ada seorang aktivis anti-narkoba yang punya kisah masa lalu sebagai pemakai. Aku diperbolehkan menulis cerita dia dengan catatan tidak menyebutkan nama aslinya. Maka, dalam tulisan ini, nama lelaki yang baik hati itu pun aku samarkan.

“Di lembaga kami ini, ada seorang lelaki asal Jakarta, yang juga aktif memberikan penyuluhan terhadap korban narkoba. Dahulunya dia seorang pecandu berat narkoba. Hampir seluruh jenis narkoba sudah dia pakai. Tapi, sekarang dia sudah berhenti. Saat ini dia ikut kami dalam kampanye antinarkoba dan AIDS,” jelas Hadi.

Kepada lelaki asal Sumatera Utara itu, aku minta dipertemukan dengan orang yang dimaksudkannya. “Besok sore, datang saja ke kantor,” jawab Hadi seraya menyodorkan kartu namanya. Begitulah kisah awal aku bertemu dengan—sebut saja namanya Agung.

Keesokanya, sebelum bertandang ke kantor MAP, aku terlebih dahulu menelpon Hadi. Setelah memastikan dia dan si lelaki yang akan kutemui ada di LSM itu, aku langsung ke sana, tepatnya selepas Ashar. Aku datang ke kantor MAP perwakilan Banda Aceh yang berada di jalan Tgk. Syik, lorong E nomor 6 Beurawe. Di ruang tamu kantor itulah, aku diperkenalkan dengan seorang lelaki berwajah tirus dan rambut keriting. Kuperhatikan dia seksama. Bibirnya pucat kelabu. Kendati dia kupandangi dengan heran, nyeri, dan takut, lelaki berkulit pucat itu merasa biasa saja. Dia begitu tenang menyambut kehadiranku. Aku kemudian sadar mengapa dia tidak heran, Hadi pasti sudah memberitahukan kepadanya kalau aku bermaksud ngobrol “sepukul-dua pukul” dengan dirinya tentang perjalanan hidupnya masa lampau hingga menjadi seorang aktivis anti narkoba-AIDS.

Dengan tenang dia menyambut kehadiranku sembari menyunggingkan senyum. Dia menyodorkan tangannya ke hadapanku. Jujur saja, aku gemetar menyambut huluran tangan dia, sebab pernah kudengar tentang tidak boleh bersentuhan dengan korban/ penderita AIDS. Karena merasa tak enak, kusambut juga tangannya, tapi hanya sekejap,aku dengan lekas menarik tanganku lagi. Aku sadar tindakan itu telah membuatnya terpukul, tapi aku juga saat itu masih takut-takut.
Aku segera mengambil tempat duduk yang bersampingan dengan dia. Itu sengaja kulakukan agar tidak bertatapan mata secara langsung dengan dia, sebab kudengar pula bertatapan mata secara langsung dengan korban AID, juga dapat tertular penyakit berbahaya itu.
Lelaki itu menyulut sebatang Marlboro Light yang sedari tadi memang sudah tergeletak di meja ruang tamu. Selepas membakar rokoknya, di ruang tanpa air conditioner (AC) itu, Agung berkisah kepadaku tentang perjalanannya hingga sampai ke Aceh sebagai aktivis antinarkoba dan AIDS.

“Saya akui, nikmat sekali ‘obat’ itu,” ucapnya mengawali kisah pertama menjadi “pemakai”. Lau dia melanjutkan, “Waktu obat sudah berjalan di kepala kita, sesaat saya merasa seperti di syurga, tapi itu hanya sebentar. Saya berjanji tidak akan menggunakannya lagi.”

Lelaki yang saat ini berusia 26 tahun itu mengaku berasal dari Jakarta. Di pusat ibukota, dia beserta keluarganya tinggal di sebuah gang di sudut kota. Menurut dia, di gang itu, hampir 65% penghuninya memakai berbagai jenis narkoba. “Gang itu juga terkenal dengan togelnya. Hampir semua orang, laki-perempuan, senang memasang togel. Bahkan, dalam sebuah keluarga, ada anak yang berlomba-lomba dengan ayahnya main ‘tebak nomor’. Beberapa kios kecil di gang tempat tinggal kami disulap menjadi tempat “main tebak” nomor,” papar Agung yang tak mau menyebutkan nama gang dimaksud.

“Bagaimana dengan polisi?” tanyaku. “Polisi pun ada yang ikut ‘masang’ nomor buntut. Sudah menjadi rahasia umum, pemilik kios-kios di lorong kami banyak menjadi bandar, ,” beber Agung. Namun demikian, dia mengaku tidak suka permainan itu. Dia hanya terjebak pada obat berbahaya.

Kisah ‘menikmati cimeng’ itu dirasakan Agung awalnya tahun 1995, saat itu dia sedang duduk-duduk di serambi rumahnya. Beberapa orang teman menghampiri Agung dan mengajaknya bermain ke tempat mereka biasa mangkal

Seperti biasa, Agung terlebih dahulu pamit kepada orangtuanya sebelum pergi. Sesampainya di suatu gubuk, tidak jauh dari gang masuk rumahnya, salah seorang teman Agung mengeluarkan sebotol minuman. Lalu, ketiga temannya menawarkan minuman itu kepada Agung.

“Mereka teguk satu botol beramai-ramai. Terus saya diminta minum juga. Saya tahu itu bir. Jadi saya menolak,” papar Agung. Keesokan harinya, empat temannya kembali mengajak Agung bermain. Agung tidak menyangka kalau mereka kembali ke gubuk yang kemarin. Seperti kemarin pula, Agung ditawari lagi ‘barang’ itu, namun Agung tetap menolaknya dengan halus. “Kalian saja, gua merokok aja udah cukup,” ujar Agung kepada teman-temannya.
“Gak gaul lo,” ucap seorang teman Agung. Teman-teman yang lain pun menyambut, “Benar, lo gak gaul.”

Begitulah hampir saban hari, hingga Agung sangat paham setiap teman-temannya itu datang dan mengajaknya, pasti untuk minum minuman keras. Akhirnya, Agung mulai berkilah dan menolak ajakan teman-teman sepermainan itu.

Suatu hari, teman-teman Agung kembali datang menjenguk Agung di kediamannya. Mereka masih saja membujuk Agung agar ikut dengan mereka, sebab mereka sudah berteman lama dan dekat. Namun, seperti kemarin pula, kali ini pun Agung tidak mau ikut ajakan teman-temannya. Teman-teman Agung mulai pasang jurus untuk melunakkan hati Agung. Kata teman-temannya, mereka tidak akan memaksa Agung untuk ikut ‘minum’ seperti mereka. Mereka hanya ingin Agung ikut mereka sebagai teman. Agung akhirnya ikut juga teman-temannya. Bukan hanya karena itu, Agung juga tidak mau dianggap sebagai ‘anak rumahan’. Makanya, dia kembali ke gubuk, tempat biasa teman-temanya mangkal dan mereguk minuman perusak tersebut.

Benar, teman-teman Agung tidak memaksanya seperti hari kemarin. Namun, salah seorang teman mengatakan, “Kalau lo mau mencoba, silakan, mumpung kita lagi dapat banyak hari ini.”

Mencoba? Ya, hanya mencoba tak salah, pikir Agung saat itu. “Sebagai remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, rasa ingin mencoba hal baru itu pasti ada pada kita. Berawal dari situlah saya berpikir mau mencobanya. Saya minum seteguk,” tutur Agung kepadaku.

Semula Agung mencoba narkoba pada jenis minuman. Waktu itu Agung minum bir Bintang. Keesokan harinya hal serupa kembali terjadi. Bahkan, hari berikutnya, Agung ditawari jenis pil, lalu putau, kemudian keesokannya lagi, Agung mulai mengenaal jenis suntik.

Hari berganti hari. Berawal dari mencoba itu, Agung merasa mulai membutuhkan barang haram tersebut. Sehari tidak mendapatkannya, tubuhnya terasa sakit-sakit. Maka saat itu, Agung akan gelagapan mencari teman-temannya. Bukan kepalang nasib menimpa Agung, teman-temannya mulai ‘bermain’. Mereka tidak mau lagi memberikan ‘obat’ kepada Agung secara cuma-cuma. Mereka minta Agung turut menyumbang untuk mendapatkan berbagai jenis obat tersebut. Agung sendiri mengaku dalam sehari dapat ‘makai’ sampai empat dan lima kali.
Lama kelamaan, dia semakin sangat mebutuhkan ‘barang’ itu. Dia sudah bergantung kepada obat-obat terlarang tersebut. Sialnya, terkadang saat Agung mendatangi teman-temannya, mereka juga tidak punya simpanan barang tersebut.

“Gua ngga ada lagi uang, kalau lo memang mau, guwa bisa tunjukin di mana lo bisa mendapatkannya, nanti lo beli sendiri sama dia,” ujar seorang teman Agung.

Karena memang butuh, Agung akhirnya menyisihkan uang jajan sekolahnya untuk belanja “barang” itu. Terkadang Agung sengaja membeli lebih agar teman-temannya kebagian. “Itung-itung balas jasa mereka tempo hari,” papar Agung tersenyum sembari menghembuskan asap Malrboro lighnya.

Hari berikutnya Agung bukan lagi menyisihkan, tetapi seluruh uang jajannya dibelikan ‘barang’. “Saya lebih mementingkan mendapatkan obat itu daripada makan. Tidak makan tidak mengapa, asal ‘barang’ itu ada,” akunya.
* * *
Matahari kian berputar mengitari bumi pada porosnya. Hari kian berganti. Pekan demi pekan berlalu. Agung yang tidak memiliki pekerjaan mulai mencari kerja. Kerja yang pertama sekali dilakukannya adalah menipu orangtuanya, lalu adik, seterusnya kakak. Kepada keluarganya, Agung memberikan alasan beragam untuk mendapatkan uang yang akan dibelanjakan ke ‘barang’ kebutuhannya. Tak urung pula, adik dan kakaknya saling bertengkar, saat menyadari uang simpanan mereka ‘disambar tuyul’. Agung mulai beraksi menjadi ‘tuyul’ di rumahnya sendiri.

Lama-kelamaan, Agung memperluas arela kerjanya. Dia mulai mencoba menipu tetangga. Semula tetangga dekat, sekitar rumahnya, kemudian tetangga yang berjauhan rumah. Semua dilakukan Agung demi mendapatkan uang. Tak dapat uang, barang pun boleh, asalkan barang itu berguna untuk dia tuukar dengan “barang” tersebut.

“Saya gencar-gencarnya menjalankan aksi penipuan itu tahun 1997. Waktu itu saya mulai mencoba putau. Saya sanggup memakainya sampai lima dan enam kali,” kata Agung.

Suatu hari di hari yang cerah, entah dari mana datangnya, tiba-tiba polisi mencari Agung. Ada laporan dari warga kalau tingkah Agung mulai meresahkan warga. Mungkin karena itu, polisi mencari dia. Saat “diciduk”, ketahuanlah bahwa Agung ternyata seorang pemakai. Sesuai dengan hukum yang berlaku, Agung dijebloskan ke penjara. Hampir setahun dia mendekap di kamar jeruji besi. Hingga suatu hari, dia dibebaskan kembali. “Selama di penjara, saya dibina, diajari agama, lalu dibebaskan kembali,” kenang Agung.

Seminggu pascakeluar penjara, Agung mengurung diri di rumah. Ia merasa warga menjauhi dirinya dan dia mulai dicap sebagai orang jahat. “Mantan Napi,” demikian gelar yang diberi orang kampungnya. Dari pihak kelurganya sendiri, Agung sering didiamkan, seolah-olah bahaya berbicara dengan Agung.

“Saya sangat terpukul dengan tingkah orang-orang di sekeliling saya. Keluarga saya sendiri terasa menjauhi saya,” ujar Agung kesal. Suatu hari, teman lama datang menemui Agung. Ketika itu Agung dibujuk untuk ‘makai’ lagi. “Daripada pusing mikirin masyarakat, orang rumah, mending hilangin stres dengan makai lagi,” pikir Agung.

Saat itu Agung sempat berpikir, temannya ini seorang pengedar, tetapi tidak ditangkap oleh polisi, sedangkan dirinya hanya seorang pemakai, tapi dijebloskan ke penjara. “Sya ditangkap, sedangkan teman saya tidak.” Atas pikiran itulah, Agung menilai polisi sangat membenci dirinya, makanya dia ditangkap dan dipermalukan. Sementara itu, Agung juga menyalahkan warga kampungnya. Dia sudah berusaha bertaubat sekeluarnya dari penjara, tapi warga malah mengecapnya sebagai orang berbahaya. Stres memikirkan hal itu, Agung kembali ke jalan ‘salah’.

Pikiran Agung kala itu benar-benar kalut. Dia juga berpikir kalau keluarganya tidak sayang lagi kepadanya sehingga ia diacuhkan. Akhirnya, Agung mengikuti teman-temannya kembali menuju tempat yang dulu pernah dikunjunginya bersama beberapa teman yang lain untuk ‘makai’ kembali.

Sejak hari itu, Agung menjalani hidupnya sebagai pemakai. Namun, seiring perjalanan waktu, dia melihat satu per satu temannya jatuh sakit. “Bahkan, ada juga yang meninggal karena sakau dan overdosis,” kata Agung.

Melihat situasi saat itu, timbul niat di hati Agung untuk berhenti. “Saya mulai berpikir berhenti saat itu, tapi ternyata sangat sulit. Saya sudah terikat dengan ‘barang’ itu. Saya pernah berpikir kalau saya akan mati karena berhenti, tapi saya terus berusaha. Saya mulai mengurangi mengkonsumsi barang haram itu,” papar Agung.

Hal itu pun dilakoninya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berhenti ‘makai’. Jika dahulu dia bisa makai lima sampai enam kali dalam satu hari, sejak timbul niat berhenti, Agung hanya menggunakan barang itu tiga kali sehari, lalu satu kali sehari, kemudian menjadi dua hari sekali. Pengurangan itu terus berlanjut hingga dalam sebulan terkadang dia hanya memakai ‘barang’ itu tiga kali. “Berat! Saya akui sangat berat! Seluruh badan saya terasa sakit-sakit waktu itu,” keluh Agung.
Melihat tingkah Agung yang berubah ke arah lebih baik, seorang saudaranya menawari kerja ke Malaysia. Saat itu, Agung berpikir, “Mungkin ini jalan terbaik untuk meninggalkan barang terlarang tersebut.” Agung mengambil tawaran saudaranya. “Waktu itu tahun 2000. Saya berangkat ke Malaysia,” jelasnya.

Setahun di negeri jiran, Agung kembali ke kampungnya. Sejak saat itu, Agung lebih banyak di rumah. Kali ini dia sengaja mengurung diri di rumah, tak peduli teman-temanya menertawai dirinya tak gaul. Agung mulai merasa sangat takut kalau dia kembali terjebak ke jalan lampau. Oleh karena itu, dia sengaja mengurung diri di rumah saja. Kalaupun ke luar, paling hanya beli rokok dan permen.

Hari yang ditakutinya datang. Suatu hari, sahabat lamanya menemuinya di rumah. Lalu, Agung diajak ke rumah temannya itu. Di sana Agung ditawari bir. Semula Agung berusaha menolak, tetapi beberapa teman yang sudah duluan di sana mengatai dirinya tidak feer. Merasa tidak enak dengan teman-temannya, Agung akhirnya ikut “pesta narkoba” di rumah temannya itu. Tak sadar, rupanya dia sudah mimum terlalu banyak.

Satu minggu sejak hari itu, Agung jatuh sakit. Kian hari sakitnya semakin parah. “Akhirnya, saya dirawat di salah satu rumah sakit Jakarta,” ucap Agung yang tidak mau menyebutkan nama rumah sakit tempat dia pernah dirawat.

Ketika tensi darah Agung diperiksa, dirinya dikabari terjangkit virus HIV/ AIDS. “Dengan menggunakan CD4 kekebalan tubuh saya diukur, ternyata trombosit saya hanya 119. Sementara itu, menurut Dokter, kekebalan tubuh manusia normal itu seharusnya di atas 2000,” jelas Agung seraya menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Di saat itulah saya merasa sia-sia hidup saya. Saya menilai diri sendiri tidak berguna lagi. Saya menangis ketika itu. Saya benar-benar menyesal dan putus asa,” lanjutnya sambil menatap kosong ke lantai.
Suatu hari, kabar Agung sebagai penderita AIDS yang dirawat di rumah sakit itu terdengar ke sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang penyuluhan HIV/ AIDS. Beberapa aktivis lembaga ini pun menemui Agung di rumah sakit tersebut. Kepada Agung, awak LSM ini mengatakan bahwa hidup Agung masih dapat ditolong.

“Obat untuk membunuh virus HIV memang belum ditemukan sampai sekarang, tapi kamu masih bisa menjalani hidup seperti manusia normal. Hidupmu masih bisa ditolong. Yang penting kamu mau berobat,” ujar awak LSM itu meyakinkan Agung.

Setiap hari awak LSM anti-AIDS tersebut menjenguk Agung dan memberikan semangat hidup kepada Agung. Mendengar dan melihat kegigihan awak LSM itu, hati Agung tergugah. Dia mulai merasa masih ada orang yang peduli padanya. “Ternyata masih ada orang yang peduli sama saya, makanya sejak saat itu, saya mulai tekun minum obat. Apa yang dibilang dokter, saya turuti,” ucap Agung.

Agung diminta dokter untuk selalu menggunakan anti retri viral (ARV). Di rumah sakit itu pula, Agung tergugah untuk beribadah dan mengingat Tuhan dalam doa-doanya. Sesuai anjuran dokter, kata Agung, ARV harus digunakan oleh setiap orang yang kekebalan tubuhnya di bawah 2000 sehingga dia pun menggunakan obat itu sampai sekarang. Jika dahulu kekebalan tubuh Agung hanya 119, saat ini dia menyatakan sudah mencapai 400 lebih.

“Saya akan terus menggunakan ARV hingga kekebalan tubuh saya dapat setara dengan manusia normal,” tegas Agung semangat. “Sebab menurut keterangan dokter, sekali saja saya berhenti menggunakan ARV, obat ini akan resisten (tidak bekerja lagi),” imbuhnya.

Masalah harus bergantung dengan obat tersebut (ARV), Agung mengatakan, “Ini adalah risiko saya sebagai mantan ‘pemakai’. Dahulu saya merasakan enaknya, saat ini saya harus bersusah payah untuk keluar dari sini, sudah sewajarnya. Ini harga yang harus saya bayar.”
Hari-hari dilewati Agung di rumah sakit. Hingga suatu hari ia dikabarkan sudah boleh keluar dari rumah sakit tersebut. Kendati sudah diperbolehkan pulang, Agung tetap tidak boleh meninggalkan ARV. Sebulan sekali ia diharapkan memerikasakan kekebalan tubuhnya.
Sekeluarnya dari rumah sakit, Agung bergabung dengan awak LSM yang telah memberinya semangat hidup. Sejak saat itu pula, Agung mencoba menasihati teman-temannya untuk mengurangi pemakaian narkoba.
“Memang payah mengajak orang untuk berhenti makai, tapi saya menganjurkan kepada teman-teman untuk menguranginya dahulu, kemudian baru berhenti,” ungkap Agung. Semula ajakan Agung mendapat ledekan dari teman-temannya. Namun, ketika satu per satu temannya jatuh sakit, akhirnya ada juga teman-temannya yang mau mengurangi pemakaian. Bahkan, ada yang langsung mencoba untuk berhenti. Sejak saat itu, Agung menjadi bagian dari aktivis kampanye anti narkoba dan AIDS bersama LSM yang telah memberinya semangat hidup.

Dari pengalamannya itu, Agung menjelaskan bahwa sebenarnya bukan kebencian yang harus ditampakkan kepada pemakai. “Tetapi, bagaimana caranya upayakan pendampingan kepada mereka. Yakinkan mereka bahwa jalan yang diambilnya adalah salah. Kalau dia sudah salah, kita malah menjauhinya, dia semakin terjerumus,” kata Agung.
Dirinya juga menyesali sikap polisi yang hanya bisa main tangkap dan jeblos ke dalam jeruji besi kepada pemakai, sedangkan pengedar masih banyak berkeliaran. “Seharusnya pemakai bukan di penjara tempatnya. Mereka harus didampingi. Yang layak dipenjarakan itu adalah pengedar. Pengedar itu sumber penghancur, bukan pemakai seperti slogan-slogan yang kita dengar,” keluhnya.
Hikmah Sebuah Kebebasan

“Barangkali ini hikmah yang saya petik dari sebuah kebebasan saya dari obat-obat berbahaya tersebut. Saya terjangkit HIV,” ucap Agung lesu. “Bahwasanya kenikmatan narkoba hanya sementara itu bukan hanya mendapat hukuman di hari akhir, tetapi juga ketika masih hidup,” tambahnya.

Menurut lelaki asal Jakarta ini, virus mematikan (HIV) itu terjangkit kepada pemakai karena penggunaan jarum suntik yang suka berbagi dengan dengan teman. Oleh karenanya, dalam bincang-bincang sore itu, Agung sempat berpesan kepada pemakai agar jangan suka memakai jarum suntik orang lain.

“Pertanyaannya sekarang, sejauh apakah peranan pemerintah dalam membasmi pemakaian obat-obat terlarang di negeri ini. Seperti apa pula pengertian yang diberikan kepada masyarakat sehingga selalu menanamkan kebencian kepada mantan pemakai atau orang yang terjangkit virus HIV sehingga orang tersebut selalu dikucilkan dalam masyarakat? Padahal, menurut dokter dan sejumlah hasil penelitian LSM yang bergerak di bidang penyuluhan HIV/ AIDS, pengidap AIDS tidaklah sebahaya yang diduga masyarakat sekarang, yang menilai bahwa bertatapan langsung dengan si pengidap dapat tertular,” timpal Hadi, awak LSM Medan Aceh Partnership (MAP) yang sedari tadi mendengar cerita Agung bersamaku.

Sementara itu, menurut Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) pada brosurnya, virus HIV hanya dapat tertular melalui hubungan seks yang tidak aman, penggunaan jarum suntik yang sering dilakukan oleh parapecandu, transfusi darah, dan seorang ibu—pengidap HIV, ke janin bayi waktu mengandung. Masih menurut YCAB, HIV tidak menular melalui bersalaman, berciuman, batuk (bersin), dan berpelukan.
Oleh karena itu, tak semestinya kita memandang sinis terhadap pecandu atau pengidap HIV. Yang mereka butuhkan pendampingan, bukan pandangan sinis. Pandangan sinis, apalagi dari orang terdekatnya, hanya akan membuat si pengidap semakin terpukul, stres, dan imperior.

Herman RN, mahasiswa pascasarjana Unsyiah

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: