Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Wartawan Aneuk Meunti

Cerpen; Herman RN

Karena kampung kita sudah aman, kita tak perlu lagi takut-takut melansir berita. Ini sudah tugas wartawan. Lagian kita harus memberikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat.” Kata-kata itu masih jelas terhapal di kepalaku. Itu perkataan Paman seminggu yang lalu ketika aku memberikan pendapat terhadap berita yang ditulis Paman di surat kabar Aneuk Meunti. Paman memang salah seorang wartawan di Aneuk Meunti, media cetak yang dianggap masyarakat paling representatif di kampung kami.

Kukatakan pada Paman, “Paman terlalu berani mengangkat berita pembunuhan ini. Aku takut nanti terjadi sesuatu terhadap Paman.”

Paman tertawa. “Ini bukan jaman perang lagi, Rud. Dulu memang kita tidak boleh sembarangan berkata atau menulis, sehingga media-media pun banyak melansir berita bohong. Berita-berita di halaman depan kala itu hanya sebagai penarik minat pembaca saja, isinya? Nihil! Berita yang benar hanya ada di halaman belakang. Seperti, dijual satu unit sepeda motor baru, harga miring, no sms. Hanya itu yang benar, lainnya… nonsense! Tapi sekarang kampung kita sudah aman, Rud, tidak ada lagi perang. Dan kita memang harus berani mengatakan yang benar itu sebagai suatu kebenaran.”

“Tapi tulisan Paman sangat jelas mengatakan bahwa si Amat meninggal setelah ke luar dari pos aparat keamanan.”

“Iya! Memang betulkan? Semua orang juga tahu kalau Amat jadi mayat selepas keluar dari pos 356 milik aparat itu. Padahal waktu masuknya Amat sehat-sehat saja kan?”

“Tapi, Paman…”

“Tapi kenapa?”

“Paman, saya tak mau peristiwa empat tahun lalu berulang kembali pada Paman. Hanya tinggal Paman yang saya miliki.” Ucapku serius seraya memandang wajah Paman. Lama paman memandang mataku. Mata itu seolah berkata padaku, namun sulit kutaksir.

“Maksudmu?” Kata Paman memecah keheningan.

“Semua orang juga tahu kalau Ismail, wartawan Ranub itu jadi mayat sehari setelah menulis berita tentang pembunuhan Pak Teungku di meunasah.”

“O… itu dulu, Rud.”

“Paman! Apa bedanya dengan sekarang?”

“Jelas beda. Dengar ya, dulu kampung kita dalam perang, sekarang sudah damai. Ah, sudahlah, jangan kamu berpikir yang bukan-bukan. Lagian sudah saatnya kita memberikan yang terbaik pada masyarakat. Kamu juga kalau sudah besar nanti dan jadi orang harus berani berkata tegas.”

Paman bangkit meninggalkanku sendiri di meja makan. Diraihnya tas mungil yang berisi kamera. Tas itu memang selalu menyertainya ke mana pun Paman pergi, apalagi jika sedang melaksanakan tugas sebagai waratwan Aneuk Meunti.

Tas hitam itu kini tergantung di dinding rumah dekat pintu dapur. Sudah dua hari tak ada yang menjamahnya. Tas itu pun seolah sedang berkata, bawa aku serta.

Di meja makan, aku masih terpaku menatap koran yang baru saja diantar tukang Koran pagi tadi. Di sana terpampang jelas dengan huruf hitam yang besar; WARTAWAN TANPA TANGAN JADI MAYAT. Ketika kubaca isi berita itu dijelaskan bahwa wartawan yang sudah jadi mayat itu ditemukan di pinggir sawah. Jasadnya tidak memiliki tangan lagi. Matanya ditancapkan dua batang bolpoin Boxi. Sementara wajahnya penuh coretan tinta. Diperkirakan tangan korban dicincang terlebih dahulu, terlihat jari-jarinya berhamburan di sekitar TKP. Hasil otopsi menunjukkan mayat yang babak belur itu bernama Fahruddin dari harian Aneuk Meunti.

Begitulah isi berita di koran itu. Di sana juga terpampang poto Paman yang sulit dikenali wajahnya.

“Paman!” Bathinku. “Inikah hadiah sebuah kejujuran dan keberanian yang kau banggakan itu?”

Kampung kita sudah aman, katamu. Tidak ada lagi perang atau bunyi senjata, tapi kematian seperti masa perang, Paman… Nyawa manusia layaknya nyawa ayam di jalan raya. Inikah harga sebuah kedamaian yang selalu kau celotehkan di telingaku, Paman?

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: