Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

DIRUMPUTKAN

Herman RN

Tahukah Tuan, apa itu rumput? Kadang ia ada yang panjang, tapi ada juga yang pendek. Panjang dan pendeknya ia, tetaplah di bawah kaki juga, diinjak, dilumat, dan dicangkul. Begitulah Pawang Dolah, ia tak sadar sedang dijadikan rumput. Dengan pujian bahwa ia dianggap pintar, tugas paling banyak dan berat diberikan kepada dirinya. Dan ia, belum mengetahui hal itu.

Pawang Dolah bekerja di sebuah perusahaan jasa. Belakangan, agar tak kelihatan ia dijadikan rumput, diberilah jabatan padanya sebagai Kepala Bagian (Kabag). Ada empat Kepala Bagian di kantor itu. Nah, dari sinilah kelihatan kalau Pawang Dolah semakin ‘dirumputkan’, dianggap paling bawah.

Kisahnya begini, meskipun ada empat Kabag di perusahaan jasa tersebut, dari keempatnya, Pawang Dolah mendapatkan tugas lebih berat. Jika Kabag lainnya hanya memperoleh beban tigas jenis yang harus ditangai, Pawang Dolah dapat empat. Jika yang lain dapat tugas yang sedikit bisa santai, karena hanya menerima bahan yang sudah jadi, Pawang Dolah harus mengolah sejak bahan mentah hingga bahan jadi dan bahan jadi itu kemudian yang dipoles sehingga layak dijasakan kepada publik. Namun, setiap akhir bulan, Pawang Dolah hanya menerima salery ‘alak kadar’ dari kantornya, sedangkan Kabag lainnya dapat lebih.

Sederhana sekali alasannya, Pawang Dolah adalah ‘rumput’, ia tetap di bawah, jadi alas kaki bos dan Kabag lainnya. Jadi alat penambal di posisi yang kosong.

Semula, Pawang Dolah tak ambil pusing dengan yang namanya salery. Ia paham, sebagai pekerja di perusahaan jasa, mesti ikhlas memberikan jasa pada masyarakat membutuhkan. Akan tetapi, ketidakadilan bos perusahaan tersebut dengan membedakan salery antara Pawang Dolah dengan Kabag lainnya—padahal Pawang Dolah lebih berat kerjanya—membuat Pawang Dolah mulai buka mulut.

“Pak, aku minta jatahku ditambah sedikit, tak dapat setara dengan Kabag lain, sedikit saja ditambah boleh, sebab aku tidak ada penghasilan lain, selain dari perusahaan ini,” kata Pawang Dolah kepada wakil bosnya suatu hari.

Bukan main senang dan bahagianya Pawang Dolah tatkala menerima kabar dari bendahara perusahaan tersebut bahwa ‘jatah’ Pawang Dolah dinaikkan sedikit. Ya, sedikit. Orang gampông bilang, hanya seu-angèn.

Bagi Pawang Dolah, ditambah seu-angèn tak jadi soal, karena ia paham perusahaan jasa tersebut masih baru berdiri. Akan tetapi, betapa terkejutnya ia ketika mendengar kabar empat hari kemudian, yang seu-angèn itu ditarik kembali oleh perusahaan. Yang membuat Pawang Dolah semakin dijadikan ‘rumpuit’ adalah jatah Kabag lainnya malah dinaikkan sampai beberapa angèn dan tidak ditarik-tarik, melainkan terus ditambah.

Taharap keu pageue, pageue pajôh padé/Taharap keu jantông, rusôk lam até. Kalau begitu, aku benar-benar dimanfaatkan. Aku tak boleh begini terus. Hanya ada tiga pilihan sekarang, ditambah jatahku sama rata dengan jatah Kabag lainnya, atau pekerjaanku dilimpahkan sebagain ke Kabag lainnya, atau yang ketiga, aku keluar dari perusahaan ini.” Begitulah yang dipikirkan Pawang Dolah setiap menyelesaikan tugas kantornya saat ini. Ia sedang menunggu waktu untuk menyelesaikan pertanyaan dari dalam dirinya sendiri tersebut.

“Mungkin dalam minggu ini akan terjawab,” kata Pawang Dolah saat memandang rumput di halaman perusahaannnya.

Oya, bagaimana di perusahaan Tuan? Adakah orang seperti Pawang Dolah?

Iklan

Filed under: Haba-haba

3 Responses

  1. alex© berkata:

    Saya tak punya perusahaan, Man. Cuma toko kelontong :mrgreen:

    Tapi perusahaan2 yang bernama lain BIROKRASI di daerah saya, banyak itu yg bernasib cam pawang dolah 😕

  2. berjiwa besar berkata:

    wah, lumayan tragis juga ya nasib orang2 yang diumputkan. mudah2n kita tidak termasuk org2 yang dirumputkan oleh org2 yang suka memelihara rumput.

  3. ikhlas berkata:

    kerja ikhlas n tuntas, pasti dapat salery yang pantas dan bikin puas, n akhirnya hati gak akan jadi pedas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: