Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pelanggan Keranjingan 3G, Operator ‘Main Angin’

Oleh Herman RN

Kemajuan zaman menjadikan beragam teknologi muncul adalah sebuah keniscayaan, karena ilmu bersifat dinamis, ia berkembang mengikuti zaman dan pola pikir penghuni zaman tersebut.

Demikian halnya terhadap teknologi selular. Dalam hitungan lima tahun saja, pergerakan teknologi selular di Indonesia nyaris merambah seluruh daerah. Operator Global System for Mobile Communications (GSM) kian bersaing untuk menjangkau seluruh daerah terpencil di Tanah Air. Mulanya, memasang jaringan di tingkat provinsi yang ada, kemudian berlanjut pada setiap ibukota tingkat II (kabupaten), selanjutnya memperluas lagi jaringan ke tingkat kecamatan. Dan sekarang, ada yang sampai ke beberapa desa terisolir.

Ya, mulanya hanya berupa jaringan (signal) untuk saling bisa menghubungi lewat udara, kemudian persaingan operator ‘mencari angin’ lain dengan memberikan beberapa kelebihan kepada pelanggan. Sebut saja awalnya dengan memberikan kesempatan kepada pelanggan agar dapat menyampaikan pesan singkat (SMS), lalu berlanjut kepada layanan Multimedia Messaging Service (MMS) dan General Packet Radio Service (GPRS). Sejumlah kelebihan ini pun mulai diberikan kepada pelanggan yang ada di tingkat desa. Ajaibnya, apakah masyarakat desa tersebut sudah mahir terhadap penggunaan teknologi ini?

Kita—sebut saja masyarakat desa—saat masih bingung dengan kelebihan yang diberikan operator GSM, sudah dikejutkan pula dengan kehadiran CDMA 2000 dan Enhanced Data rates for GSM Evolution (EDGE). Lantas, masyarakat tetap keranjingan terhadap segala kelebihan tersebut, meskipun pada praktiknya belum paham menggunakan keunikan itu dengan sempurna. Bahkan, belum sempat ‘menarik napas’ pada tahap ini, kita dikejutkan pula dengan temuan baru, yakni hadirnya teknologi Wideband Code Division Multiple Access (WCDMA) atau disebut juga dengan 3G. Puncak kerumitan ini hadir sejak tahun 2005 lalu dan masih terus berlaku hingga sekarang.

Jika dihitungan dari tahun 2005 ke tahun 2008, berarti sudah tiga tahun kita dihadapkan fitur 3G. Dan, pelanggan selular semakin keranjingan dengan keunikan yang dimiliki 3G tersebut. Betapa tidak, jika sebelumnya berkomunikasi dengan orang ‘di seberang’ hanya mendengar suara, salah satu kelebihan 3G membuat penutur dan lawan tutur dapat saling melihat wajah melalui layar ponsel yang tersedia. Sekali lagi, sudah tiga tahun layanan ini berjalan, tetapi masih banyak yang gagap terhadap teknologi tersebut. Sementara para operator GSM, terus meraup kewalahan masyarakat dengan menghadirkan sejumlah fitur tambahan.

Saya katakan semakin “meraup kewalahan” masyarakat pelanggan, karena kita sebagai pelanggan semakin merasakan kerumitan menggunakan kelebihan yang diberikan operator GSM. Pengalaman pribadi yang pernah saya temui dari beberapa orang teman yang menggunakan selular pendukung 3G mengaku gagap menggunakan fitur tersebut.

Salah satunya Otong, seorang pekerja media lokal di Banda Aceh. Lelaki yang mengaku sudah berponsel sejak empat tahun itu ternyata sampai sekarang masih bertanya bagaimana menggunakan layanan 3G. Beberapa kali dia mencoba menelpon saya dengan panggilan video berharap salah satu layanan 3G itu dapat dinikmatinya. Dia memakai ponsel Nokia seri N70, tentunya ponsel tersebut mendukung layanan 3G. Karena sering gagal melakukan panggilan video meskipun sudah mengaktifkan layanan WCDMA di ponselnya, akhirnya Otong mengganti GSM-nya. Lelaki asal Bireuen itu mengira yang masalah ada pada kartu GSM yang dia gunakan. Singkatnya, dia sempat mencoba empat jenis GSM, tetapi tetap gagal melakukan panggilan video. Akhirnya, Otong mulai merutuk diri, merasa sangat jauh dari teknologi.

Yang membuat dia semakin kesal adalah saat panggilan video dilakukan dari ponsel saya ke ponsel dia, berhasil. Hanya panggilan dari ponsel dia ke ponsel lain saja—termasuk ponsel saya—yang gagal. Kemudian, saya mencoba menggunakan ponselnya. Saya kutak-katik sejenak, dan panggilan video dari ponsel dia akhirnya berhasil.

Kenyataan inilah membuat Otong semakin merasa kerdil terhadap teknologi selular. Demikian juga saat dia mencoba melakukan menonton salah satu siaran telivisi dari ponselnya dengan menggunakan layakan 3G, ia tak pernah berhasil. Anehnya, pulsa tetap ditarik oleh pemilik operator GSM. Bahkan, tak tanggung-tanggung pulsa yang ditarik operator, sangat melenceng dari iklan yang disiar oleh pemilik GSM tersebut yang katanya lebih murah. Akan tetapi, di lain waktu memang layanan 3G dapat digunakan dengan nyaman, bahkan mudah. Itu sebabnya, saya menilai saat pelanggan keranjingan 3G, operator malah ‘main angin’, kadang bisa digunakan, kadang tidak.

Padahal, di lain pihak, kita membaca, melihat, dan mendengar melalui media bahwa semua vendor teknologi 3G selalu berusaha memastikan reuseability sebanyak mungkin menginvestasi teknologi GSM yang telah dilakukan oleh incumbent operator. Semoga saja, keranjingan 3G ini tidak sampai membuat kita gila.

Herman RN, wartawan Harian Aceh

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: