Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pimpinan

Herman RN

Hiruk-pikuk kepemimpinan tetap mencuat di Gampông Lamsulet meskipun orang-orang sedang merayakan sejarah episode akhir tahun. Betapa tidak, empat bulan lagi, pemilihan pimpinan di Gampông Lamsulet kembali akan digelar. Beragam foto calon-calon pemimpin pun bertebaran, mulai di dinding sekolah, pagar taman, pagar mesjid, higga dinding kakus.

Sementara itu, di sudut sebuah bale gampông, Pawang Dolah malah asyik dengan daun nipahnya. Daun-daun itu dirautnya, dijemur, lalu jadilah pembalut rokok pucok, yang kemudian dijualnya di pasar Aneuk Trueng, sebagian dijadikan pembalut rokoknya sendiri.

Tahukah Nyak dan Ampon, mengapa Pawang Dolah tak antusias menyambut gelora pemilihan pemimpin yang baru di gampôngnya? Menurut analisis badan intelijen “Apoh Apah”, itu karena Pawang Dolah mulai tak mempercayai seorang pun dari calon pemimpin yang akan naik jadi pimpinan kali ini. Pawang Dolah merasa kenal betul dengan calon-calon tersebut, yang menurutnya tak lebih dari orang-orang yang suka melempar jarum dalam tumpukan jerami, lalu untuk mendapatkan jarum tersebut, tumpukan jerami dibakar habis.

Begini ceritanya, Pawang Dolah pernah kerja di sebuah perusahaan. Perusahaan tempat ia bekerja bergerak di bidang jaringan komunikasi. Pawang Dolah sendiri dikenal sebagai bawahan yang sangat loyal terhadap perusahaan dan atasan.

Nah, yang namanya kerja di perusahaan jaringan komunikasi, tentunya banyak informasi yang didapat Pawang Dolah, termasuk tentang kriteria calon-calon pimpinan di gampôngnya. Karena itu, Pawang Dolah merasa kenal betul dengan semua calon pimpinan tersebut sehingga ia enggan ikut menyemarakkan ritual menjelang pemilihan pemimpin yang baru di Gampông Lamsulet.

Selain itu, Pawang Dolah juga punya kisah tersendiri di perusahaan tempat dia bekerja. Ia yang selalu loyal terhadap perusahaan dan atasan sering dikebiri dan dikesampingkan atasannya. Terkadang, ia menjadi ija brôk penyumpal bantal yang bolong. Misalnya begini, saat wakil pimpinan perusahaannya berhalangan hadir ke kantor, Pawang Dolah sering diminta ‘menyumpal’ pekerjaan wakil pimpinan tersebut hingga selesai. Demikian juga saat ada program baru di perusahaan komunikasi itu, Pawang Dolah akan menjadi ‘alas kaki’ utama.

Bagi Pawang Dolah, itu tak masalah. Akan tetapi, pimpinannya yang kurang perhatian terhadap dirinyalah yang membuat Pawang Dolah terkadang sering sakit hati. Beberapa kali Pawang Dolah pernah mengajukan cuti kepada pimpinan—tak lama, hanya sehari—tapi pimpinannya selalu melarang dengan alasan banyak pekerjaan di kantor yang mesti diselesaikan Pawang Dolah.

Pawang Dolah kembali mengalah. Namun, betapa terkejutnya ia saat segenap program perusahaan berhasil, sukses, Pawang Dolah tak pernah dapat keciprat sukses itu. Pimpinannya hanya membagi kesuksesan tersebut dengan wakil pimpinan dan karyawan-kayawan lainnya.

Cerita Pawang Dolah belum berakhir sampai di sini. Suatu kali Pawang Dolah kecelakaan. Motornya nyaris disambar maling. Pawang Dolah sendiri masuk rumah sakit. Namun, jangankan loyalitas pimpinan untuk membiayai pengobatan Pawang Dolah, melayat ke rumah sakit saja, pimpinannya tidak. Bahkan, surat keterangan dokter yang sampai ke meja pimpinannya, malah berujung di tong sampah. Tambah ironis lagi, sudah pimpinannya tak datang melayat, seorang karyawan perusahaan itu pun tak pernah diutus pimpinan. Pawang Dolah kembali makan hati.

Sejak saat itulah ia mulai mengenal hati pimpinannya. Menurut Pawang Dolah, pimpinannya tak punya rasa memiliki bawahan sehingga tak pernah mau tahu dengan nasib bawahan. Yang ada di hati pimpinannya hanyalah ‘pekerja’ atau bahasa kasarnya ‘babu’. Ya, semua bawahannya dianggap sebagai ‘buruh kasar’ semata, yang bisa dipakai kalau menghasilkan bagi perusahaan. Jika tidak, silakan menjadi rakét bak pisang: ‘oh ka leupah dijeumeurang, rakét bang pisang than soe hiroe lé.

Sementara pimpinannya semakin lihai berdagang, maksudnya mendagangkan tenaga dan pikiran pegawainya. Maklum saja, sikap berdagang gaya lama masih dipakai di perusahaan tersebut, yakni bloe siplôh, peubloe sikureueng, lam ruweueng mita laba. Hana paduli ureueng laén papa.

Sejak saat itulah Pawang Dolah mulai tak percaya dengan calon-calon pimpinan di gampôngnya. Akhirya, Pawang Dolah kembali menyibukkan diri dengan rukok pucôk-nya. Entahlah iya.. iya entahlah…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: