Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Membaca Puisi

Oleh Herman RN

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam pembacaan puisi. Namun, sebelumnya, penting diingat bahwa sebuah karya tercipta karena ada tujuan yang kemudian kita sebut dengan amanat/pesan pengarang/pencipta. Demikian halnya dengan puisi, ia lahir dari lirik berupa pesan yang hendak disampaikan melalui bahasa puitik. Artinya, puisi itu diciptakan memiliki tujuan. Salah satu tujuannya adalah untuk dibaca, baik oleh diri sendiri (pencipta) maupun oleh orang lain.

Oleh karena puisi itu adalah pesan yang disampaikan penuh bahasa kias (gaya bahasa), makna yang ada dalam sebuah puisi masih tersirat (abstra) dan dapat multitafsir. Akan tetapi, ada juga penyampaian secara tersurat (nyata) yang dapat kita lihat melalui diksi, bunyi, tipografi, dan sejenisnya.

Di samping itu, sebuah puisi juga diciptakan dalam berbagai genre dengan karakteristik dan sasaran yang khas. Karenanya, tidak semua puisi dapat dibaca di depan khalayak, misalnya puisi kamar. Sebaliknya, ada puisi yang tepat dibacakan di depan khalayak, seperti puisi pamflet dan jenis puisi auditoium. Untuk patut diperhatikan beberapa hal dalam pembacaan puisi.

1. Tidak semua pendengar akrab dengan puisi yang kita bacakan. Untuk itu, kepada si pembaca penting mempelajari vokal dan artikulasi.

2. Tidak semua alat dengar manusia sama. Karenanya, perlu juga membaca gerak tubuh (gestur) dan gerak wajah (mimik).

Dari dua hal ini dapat ditarik simpulan bahwa seorang pembaca puisi mesti menguasai:

Ø Vokal: artikulasi (kejelasan ucapan)

Ø Ketepatan jedan dan intonasi

Ø Penghayatan: gestur dan mimik

Ø Kontak audiens

Ø Peformance: penampilan dan penguasaan arena

Untuk mengetahui lebih jelas tentang ini, coba praktikkan pembacaan sebuah puisi Chairil Anwar berikut. Pertama, ambil model membaca seperti apa yang Anda tangkap maksud puisi tersebut, kemudian baca kembali dengan gaya bahagia. Setelah itu, coba baca dengan gaya sedih, penuh haru. Dari sini Anda akan tahu tujuan sebuah puisi diciptakan dan menangkap makna setiap kata dalam puisi. Semoga!


Contoh puisi:

Chairil Anwar

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Materi ini disajikan untuk mata kuliah Puisi di FKIP PBSID Unsyiah

Herman RN, alumni FKIP PBSID Unsyiah

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: