Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sisa Basi

Herman RN

Tepat hitungan ketiga, Tuan menggunting pita. Riuh tepuk tangan mengiring kalungan bunga ucapan selamat atas tuan. Senyum menyungging bangga dari bibirmu yang biru kehitaman. Sejenak lagi Tuan ‘merdeka’. Orang kampungku bilang, “Sibak rukok teuk,” Tuan akan bebas; bebas dari segala hujat, dari segala tuding, bahkan dari segala doa laknat korban sisa laut melumat.

Ya, seremoni penyerahan aset membangun tanah ini akan beralih dari tampuk Tuan ke pemerintah daerah. Sedangkan Tuan, sesudah ini, akan memetik hasil puas dari segala upah yang Tuan keruk dari tanah kami. Masalah kerja belum selesai, Tuan tinggal bilang, “Saatnya pemerintah daerah punya kerja.”

“Buet meuawé-awé sabông, ubiet uram rayek ujông”. Begitulah Tuan akhir cerita membangun kampung ini. Tatkala orang-orang mendesak Tuan agar segera menyelesaikan kerja Tuan sesuai mandat dan SK Presiden di kampung ini sejak dua-tiga tahun lalu, Tuan selalu menyahutinya dengan janji, “Akan selesai akhir tahun ini.” Uih.. janji yang basi.

Tuan, hari ini, kita memulai lembaran tahun baru, 1 Januari menurut kalender Masehi. Maka sebuah kewajaran masyarakat korban bertanya tentang janji Tuan. Namun, alangkah indahnya pertanyaan warga korban itu Tuan jawab. “Tugas kami sudah selesai, sekarang tugas Pemda di sini,” kata Tuan dalam setiap penyerahan aset kampung ini kepada pemerintah daerah. Merdu sekali lantunan Tuan itu.

Sungguh pula aku tak tahu, apakah sudah menjadi kebiasaan pemerintah daerah di sini menyukai ‘nasi basi’ sehingga dengan gamblang ia menerima pemberian Tuan yang belum selesai Tuan kerjakan. Lihat saja, begitu mendengar Tuan akan menyerahkan aset kampung ini kepada pemerintah daerah, kepala pemerintah daerah bersiap menjamu Tuan dengan segala jamuan kerajaan seolah Tuan telah benar melakukan perubahan kepada rakyat di sini.

Maa Tuan, Tuan tak lebih dari dari seurungguek raya ulè. Di mana-mana kalau ada pembangunan yang sudah selesai, seakan Tuanlah yang sudah berbuat. Padahal, banyak kerja Tuan yang sengaja Tuan sisakan kepada pemimpin daerah di sini, sisa yang basi, Tuan.

Kemudian, saat berceramah pelepasan aset di daerah-daerah, aku melihat gah Tuan ‘ban gajah dan sie ban piti, phét bak gaki malèe Tuan hana. Seperti tak ada rasa bersalah itu saat Tuan limpahkan sisa basi kerja Tuan kepada pemimpin daerah ini untuk menyelesaikan bekas ‘cakar tangan’ Tuan. Sedangkan di sisi lain, Tuan semakin menikmati beragam penghargaan. Penghargaan yang dipaksakan patut. Padahal, yang diberikan kepala negara kepada Tuan asalah sesuai yang hana patôt dipeupatôt, gaki untôt jiboh geunta. hana layak jipeulayak, jaroe supak jibôh gaca. Kami telah memberikan inai di tangan yang salah, yakni di tangan yang supak. Ah, Tuanku…

Iklan

Filed under: Haba-haba

2 Responses

  1. tengkuputeh berkata:

    hihihihihi….
    Sindiran dgn Eufisme bahasa…
    Menarik…

  2. sukrul berkata:

    cukup sudah orang di sana(jakrta.red) untuk kesekian kalinya menipu orng aceh
    semoga aceh damai n sejahtera selalu dalam lindungan ALLah SWT.
    amien..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: