Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Harga

Herman RN

uangTahun baru, kata teman saya berganti tahun berarti bertambah usia. Bertambah usia, rekan saya yang satu ini—ia lelaki—mengatakan berarti bertambah tantangan.

Semula saya masih bingung ‘tantangan’ yang ia maksudkan. Saya tanya, apakah bertambah tantangan maksudnya karena usia semakin bertambah dewasa yang orang kampungku bilang berarti sudah saatnya membantu orangtua? Eh, teman sekantor saya ini malah menggeleng.

“Bertambah usia memang benar berarti kita bertambah dewasa, tapi bukan pengabdian pada orangtua saja yang menjadi tantangan. Tantangan tambahan yang saya maksudkan adalah kita semakin dekat dengan kesempurnaan agama,” ujar teman saya.

Saya hanya tertawa mendengarnya. Cara dia berfilosofi bukan hal yang mengherankan lagi bagi saya. “Ya ialah, masa ya iya donk. Meunyo na panè na,” kata saya berseloro.

“Dengar, apa kau tak pernah berpikir bahwa usia kita sudah di atas dua puluh lima?” tanya teman saya lagi. Saya mengangguk mantap.

“Kau tahu? Harga emas sangat mahal sekarang. Nyaris satu juta,” kata teman saya.

Saya semakin memperbesar tawa. “Aku mengerti sekarang, kau sudah terjangkit virus nikah. Hahaha… memang sudah saatnya, Bos,” ujar saya sembari menyulut rokok.

Gelisah yang dihadapi teman saya itu tak salah. Memang, akhir-akhir ini saya sering mendengar keluhan dari kaum Adam tentang mahalnya harga emas, sedangkan menikah merupakan anjuran Rasulullah, untuk menyempurnakan separuh lagi agama. Di sisi lain, adat di Aceh, apalagi sebagian Pidie, Utara, dan Timur Aceh, mahar yang sudah ditetapkan menjadi adat daerah tersebut dipandang sangat memberatkan kaum laki.

Mungkin, karena itulah teman saya yang berasal dari Pidie ini sering mengaku gelisah. Ya, hampir setiap sore, saat kami duduk walau tanpa segelas kopi, ia tetap ‘mencokeh’ pembicaraan ke arah sana, arah menikah. Saya dapat mengerti yang ia rasakan karena saya juga lelaki. Dan, saya juga mengerti ia kebelet nikah karena tak ingin terjerumus ke arah perbuatan yang dilarang agama.

Di sebuah mailing list yang saya ikuti, beberapa waktu lalu, juga sering muncul komentar tentang mahalnya harga emas yang diakit-kaitkan dengan mahalnya ‘harga’ perempuan di zaman ini. Uh… “I công bak manggéh jimeulôt siwah, i công bak lawah umpueng seurangga, lé that sam lakoe ka habéh sosah, bak peutimang gah piké keu cinta.”

Mungkin pepatah itu cocok untuk zaman sekarang. Berganti tahun, bertambah usia, bertambah harga—termasuk harga emas—kemungkinan pula bertambah ‘harga’ perempuan. Akan tetapi, mungkin pula pertambahan ‘harga’ terhadap perempuan itu hanya ilusi, karena di zaman ini, mata uang pecahan uanga lima puluh perak memang sudah tidak ada lagi.

Entahlah, saya tidak mengajak teman saya mencari jawaban di warung kopi untuk kasus ini, karena saya tahu, di warung kopi tak ada jawaban, tapi hanya ada perkembangan masalah yang tak pernah terselesaikan.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: