Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ruweueng

Herman RN

Bloe siplôh publoe sikureueng

Lam ruweueng mita laba

Ruweueng dapat dimaknai sebagai peluang. Maka aneh kedengarannya jika ada pedagang menyebutkan setelah membeli seharga sepuluh lalu menjualnya dengan harga sembilan. Namun, itulah kearifan yang disatirkan hadih maja di atas. Menjadi kenyataan kontekstual saat ini banyak orang berdagang mencari ‘peluang’ (laba) di atas penjualan yang lebih kecil dari nilai pembelian.

Jika mengacu kepada prinsip ilmu ekonomi sesungguhnya, bahwa tindakan ekonomi itu adalah mencari laba sebesar-besarnya sehingga timbullah hukum permintaan dan hukum penawaran yang berbanding lurus dengan harga barang. Karena itu, prinsip dagang dalam ekonomi mengajarkan kita bagaimana mencari laba (untung) sebesar-besarnya sehingga menjadi lucu tatkala disebutkan harga pembelian lebih besar dari harga penjualan.

Akan tetapi, ungkapan satir hadih maja di atas bukan berarti diciptakan sesuka hati atau asbun (asal bunyi). Justru hadih maja di atas menjadi prinsip dagang ureueng Aceh pada zaman dahulu yang jika dimaknai secara harfiah memang kedengaran lucu.

Dalam konteks kampanye saat ini, hadih maja tersebut sangat tepat disematkan kepada aktivis partai politik. Lihat saja, dengan segenap modal yang mereka miliki (baik berupa uang maupun benda), para aktivis parpol—kader maupun simpatisan—sibuk ‘mencuri’ ruweueng yang tepat untuk berdagang. Terkadang, mereka harus membeli kain, cat, dan jadilah spanduk. Ada pula yang membeli kertas karton dan spidol. Kalau dilihat secara kasat mata, kain rentang dan karton yang sudah mereka coret-coret itu sungguh akan dibuang setelah selesai aksi demonstrasi. Akan tetapi, lakon yang sama terus berlaku hampir saban hari.

Bahkan, mereka terus mencari celah ruweueng yang baru. Salah satunya tatkala ada kejadian yang mengundang ‘mata’ dunia semisal pelemparan sepatu di jidat Joss Walker Bush atau seperti agresi militer tentara Yahudi terhadap rakyat Palestina.

Kejadian-kejadian besar yang diakui dunia seperti itu sudah menjadi tabiat bagi parpol untuk mencipatkan ruweueng mencari laba sebesar-besarnya. Maka diadakanlah aksi demo besar-besaran dengan menenteng poster, kain rentang, dan segala tetek bengek karton bertuliskan anti-kekerasan di tempat-tempat umum atau instansi pemerintahan. Anehnya, lokasi aksi tak berubah dari zaman ke zaman ke zaman atau dari hari ke hari. Misalnya, jika hari ini demo bencana alam banjir atau tsunami dilakukan di Simpang Lima dan kantor DPR, aksi anti-Israel pun dilakukan di tempat yang sama.

Saat aksi itu, kembali mereka haru membeli sesuatu perlengkapan dengan mengeluarkan modal, tetapi setelah itu semua perlengkapan tersebut kembali dibuang. Kalau saja spanduk dan karton-karton itu dapat bicara, mungkin mereka akan berkata, “Kamoe lagè rakét bak pisang, ‘oh ka leupah dijeumeurang, rakét bak pisang than soe hiroe lé.

Lantas, bagi aktivis demo, apakah rugi telah membuang-buang uang, waktu, suara, dan tenaga untuk aksi yang tak jelas tuntutannya itu? Sekilas mungkin dapat dikatakan rugi, karena meminta membubarkan tentara Israel kepada anggota DPR Aceh adalah sebuah kenihilan. Meminta agar anggota DPR dapat ikut merasakan penderitaan rakyat Aceh Palestina? Wah, ini permintaan lucu menurut saya, karena sejatinya sebagai sesama muslim, tanpa diminta pun, kita akan tetap merasa—paling tidak gelisah—terhadap penderitaan saudara kita sesama muslim di Timur Tengah sana.

Demikian halnya dengan permintaan agar masyarakat atau pemimpin di Aceh berdoa untuk Palestina. Sekali lagi, lucu… meminta orang berdoa, kog mesti dengan demo? Bukankah tanpa diminta pun, kita selalu berdoa kepada sesama muslim, baik di Palestina maupun di belahan bumi mana jua.

Yah.. tapi itulah sebuah realisme politik. Meskipun harus menghabiskan dana membeli kain dan karton yang kemudian dibuang lagi, ada tersimpan laba di sana, yakni sebuah gambaran bahwa partai tertentu yang melakukan aksi tersebut memiliki solidaritas. Inilah ruweueng itu dalam ungkapan “Bloe siplôh publoe sikureueng, lam ruweueng mita laba”.

Anehnya, apakah hanya partai yang demo itu saja yang memiliki solidaritas? Lantas, parpol-parpol lain yang tidak mengadakan aksi, apakah akan dianggap tidak memiliki solidaritas? Ah, kayaknya menerjemahkan bada (bahasa Aceh) menjadi goreng pisang atau pisang goreng (bahasa Indonesia) itu mengasyikkan ya…

Iklan

Filed under: Haba-haba

One Response

  1. Aulia berkata:

    itulah dunia dimana semakin hari semakin hampa adanya dengan sebuah ideologi yang ada…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: