Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Batu Palestina pun Bicara di De Helsinki

oleh Herman RN

Azan Isya baru saja berlalu. Rerintik gerimis sisa hujan lebat sebelum senja masih menggerayangi jantung Kota Banda Aceh, Sabtu (25/1) malam. Hujan yang sempat reda tatkala suara muazin magrib berkumandang kembali merinai hingga pukul sembilan malam.

Di kemerlap cahaya lampu pijar hemat watt, warung kopi “De Helsinki” di Simpang Lima Banda Aceh, malam Minggu kemarin, mulanya terlihat biasa saja, sama seperti malam-malam lain atau malam Minggu sebelumnya. Namun, beberapa saat kemudian, sekitar pukul sembilan malam lewat seperempat, sebuah layar yang biasa digunakan untuk pemantulan sinar proyektor digelar di sudut tenda sebelah selatan halaman warkop itu. Dari layar tersebut, muncul sebuah tulisan berukuran besar dengan latar hitam. “Batu pun Bisa Bicara,” demikian tulisan tersebut.

“Malam ini kita dirundung hujan. Hujan yang menjadi rahmat Tuhan sekalian alam. Namun, tak menyurutkan langkah kita untuk mampir di warung ini sembari menikmati secangkir kopi. Sedangkan di sana, di Palestina, saudara-saudara kita seiman dan seagama saban hari juga diterpa hujan. Bedanya hujan kita di sini dengan hujan di Palestina adalah mereka (rakyat Palestina) menerima hujan peluru setiap saat,” pekik seorang lelaki usia 25 tahun dengan alat pengeras suara. Kata-kata itu ia ucapkan berirama seperti pembacaan hikayat PMTOH Modern. PMTOH Modern adalah salah satu seni tutur bercerita yang dipopulerkan oleh Agus Nuramal, murid (Alm) Tgk. H. Adnan PMTOH.

Selepas mengucapkan salam dan meminta maaf–juga dengan irama PMTOH–kepada pengunjung di warung kopi tersebut, si lelaki tadi kemudian memperkenalkan acara malam itu dan sedikit identitasnya.

“Kami dari FKP, Front Kemerdekaan Palestina, malam ini mencoba menyuguhkan sebuah acara kepada pengunjung warung kopi De Helsinki. Pertunjukkan ini merupakan sebuah kenyataan yang dihadapi Muslim Palestina, sejak tahun 1973—saat Israel menyatakan kemerdekaan bangsanya—hingga sekarang. Sejak saat itu, mereka memerangi Palestina dengan peluru dan buldoser. Maka apa yang terlihat di layar ini nantinya adalah sebuah realita pada Muslim Palestina,” pekiknya.

Selepas itu, di layar tancap muncul aneka gambar, diawali dengan suara dentuman bom dan ayat-ayat Allah. Suara senjata itu muncul dari segerombolan tentara berpakaian perang. Sesaat kemudian, di layar yang sama, terlihat seorang ibu sedang memecahkan batu sebesar dua kepalan tangan. Ia memecahkan batu dengan batu. Lantas, pecahan batu-batu itu dilemparkannya ke tank-tank tentara Israel.

Gambar berikutnya, sejumlah pemuda juga sedang melemparkan bebatu kerikil ke arah tentara Israel yang bersenjata lengkap dan berpakaian anti peluru. Lemparan batu yang mirip seperti mahasiswa tawuran itu dibalas oleh tentara Israel dengan hujanan peluru dari senjata laras panjang. Dan, satu per satu pemuda yang tadi menggenggam batu rubuh ke tanah. Pekikan ashma Allah pun menggema. Cucuran darah dan air mata membahana di atas tanah.

Gambar-gambar demi gambar, baik yang bergerak maupun tidak, terus silih berganti muncul di layar tancap. Hingga akhirnya terlihat gambar seorang anak usia sekolah dasar. Anak yang seharusnya saat itu duduk bersama teman-temannya di belakang meja atau membaca buku, malah termenung di sudut sebuah bangunan. Kakinya berlipat jongkok dan kedua tangannya menyangga di dagu. Dari wajah anak itu kemudian muncul samar-samar seorang tentara berpakaian perang dengan senjata M16. Tentara itu mengejarnya dan anak tersebut berlari pontang-panting. Ia terus berlari, berlari, dan terus berlari menjauh dari tentara yang sedang mengarahkan ujung senapang ke arah anak tersebut.

Tak berapa lama kemudian, si anak yang kira-kira berumur 8 tahun itu memungut sebutir batu dari tanah. Sebutir..ya, hanya sebutir batu yang besarnya tak lebih dari kepalan tangan anak kecil. Lalu, anak tersebut berbalik ke arah tentara yang mengejarnya. Ia melemparkan batu di tangannya ke atah tentara. Kini, giliran si tentara yang lari lintang-pukang sembari merundukkan kepala menghindar dari batu yang dilemparkan si anak. Kini, giliran tentara yang berlari menjauhi si anak kecil itu. Sontak suara decak kagum dari pengunjung warung kopi De Helsinki terdengar menyaksikan adegan tersebut. Mereka kagum menyaksikan seorang anak yang usianya masih ‘biru’ berani melawan tentara Israel dengan sebutir batu. Padahal, tentara itu bersenjata mesin.

Begitulah sedikithya pertunjukkan film dokumenter “Batu pun Bisa Bicara” yang diputar di warung kopi De Helsinki, Simpang Lima, Kota Banda Aceh, malam Minggu kemarin. Pertunjukkan tersebut diadakan oleh belasan anak muda dari Banda Aceh dan Aceh Besar yang menamakan dirinya Front Kemerdekaan Palestina (FKP).

Menurut koordinator FKP, Oryza, rencana awal kegiatan malam itu dimulai pukul 20.00 WIB atau ba’da Isya. Namun, karena hujan tak kunjung reda, acara baru dapat dibuka pukul 21.20 WIB. Pertunjukan dala’e, puisi, musik, dan musikalisasi puisi, yang juga menjadi agenda malam itu pun tak jadi terlaksan.

“Apa boleh buat, pertunjukkannya sudah telat. Jadi, kami hanya dapat menampilkan pemutaran film, tanpa musik, dala’e dan puisi yang sudah kami persiapkan sebelumnya,” kata mahasiswa Fisipol Unsyiah Jurusan Ilmu Komunikasi itu.

Ia menjelaskan, kegiatan solidaritas untuk Palestina itu akan dimainkan di beberapa wilayah yang dianggap strategis dan perlu, di samping sebagai hiburan. “Minggu kemarin (17 Januari), kami ‘main’ di Pantai Lhoknga, malam ini (25 Januari), kami gelar di warung kopi De Helsinki, dan besok mungkin di tempat lain lagi. Di samping menghibur dan memberikan kabar kepada masyarakat, kami juga mengutip sumbangan ikhlas dari penonton untuk disalurkan nantinya kepada Muslim Palestina. Hanya ini yang dapat kami perbuat,” ucapnya pelan, sembari menyatakan daripada berdiam diri mendengar dan menyaksikan penderitaan Muslim Palestina, karena diam adalah pengkhianatan terhadap sesama muslim.

Dari hasil sedekah hamba Allah di warkop De Helsinki malam itu, FKP berhasil mengumpulkan dana Rp370 ribu. Sebelumnya, dalam aksi di pantai Lhoknga, tambah Oryza, mereka berhasil mengumpulkan dana sejumlah Rp13 juta. “Semua uang ini akan kami salurkan kepada rakyat muslim di Palestina,” tandas Oryza, dibenarkan beberapa temannya, Rizki, Akmal, dan Yulfan.(HA,26/1/09)

Iklan

Filed under: Feature

2 Responses

  1. Wah, lucu juga ya, soalnya di samping De Helsinki kan ada Pizza Hut, ada ajakan boikot produk Israel gak? 🙂

  2. rizki berkata:

    wah,wah,wah…
    salut dah am org aceh!

    jd pngen plg ne..
    agk nyesel2 uga ngrantau!
    ga bs ninggalin aceh..

    haha..

    mntap!!
    maju terus aceh saiiiaaankkkk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: