Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Dongeng Penguasa

Herman RN

Dengarlah, Teungku! Dongeng lama kembali didendangkan di gampông ini, gampông yang bakal jadi “Negeri Seribu Satu Dongeng.” Tatkala orang-orang di luar sana mengubah dongeng jadi sebuah cerita melegenda sehingga dianggap benar-benar nyata, di sini, banyak yang nyata-nyata didiamkan sehingga bakal jadi dongeng. Entahlah, mungkin karena kita sudah terbiasa dengan dongeng-dongeng ibu-bapak yang disebut para penguasa sebelum berkuasa.

Lihatlah, Teungku! Jika dulu banyak aktivis berteriak lantang memukang atas segala curang dari segenap penguasa, kini ia—aktivis-aktivis itu—malah menjadi pendongeng seperti penguasa-penguasa sebelum dirinya. Manakala dulu para aktivis tersebut—baik dalam maupun luar kampus—berteriak memekak demi rakyat dan membocorkan segala bejat penguasa ‘keparat’, kini malah ia belajar mendongeng kepada si keparat, seperti orang-orang sebelum dia.

Ingatlah, Teungku! Yang sekarang jadi penguasa duduk di kursi berbusa adalah dia yang dulunya masih muda dan vokal bicara. Bahkan, di antara mereka yang sekarang di puncak atas adalah ia yang dulunya berkapas-kapas melawan kezaliman janji penguasa yang culas. Namun, saat yang dulunya pelawan itu sudah berdiri di puncak, malah ia belajar jadi pahlawan dari janji-janji yang rawan.

“Kebenaran ada di tangan rakyat. Penguasa zalim harus dilawan,” kata dia saat masih memimpin massa berjuba-juba, dari laut hingga darat, di hutan maupun kota, hingga ke pelosok gampông yang tak kenal besi baja.

Rakyat, Teungku, percaya dengan apa yang dia kata. Maka, dipilihlah ia sebagai penguasa. Tampuk kepemimpinan akhirnya jatuh ke tangannya. Akan tetapi, apa yang terjadi setelah itu? Suara rakyat yang dulunya telah membuat ia jadi penguasa, tak lebih dari sekedar ‘bumbu’ penyedap rasa agar ia mulus di atas tiba.

Kemudian, Teungku, tentang janji yang pernah dia ucap, tak lebih dari bual atau dongeng penghibur duka. Lihatlah, rakyat masih berjuba lakukan unjuk rasa sebagai tanda keadilan belum nyata.

Ah, sudahlah tentang mereka yang sudah mengecap kursi kuasa. Teungku, saatnya mendengar, melihat, dan menyimak yang lain pula. Sudahkah Teungku mendengar janji-janji baru serupa dongeng lama yang pernah diucapkan sebelumnya? Sudahkah Teungku melihat praktik nyata dari apa yang ditulis dan dilisankan calon penguasa saat berhadapan dengan rakyat jelata? Sudahkah Teungku menyimak ayat-ayat dan hadis yang ditulis di nomor ‘pungguk’ calon penguasa sekarang?

“Kalau saya jadi…. Gampông Lamsulet ini akan saya bangun jalan, rumah ibadah akan saya perbaiki, kegiatan akan lebih banyak di gampông daripada di kota,” kata calon-calon penguasa muda yang bakal menyusul penguasa tua sekarang.

Entahkah dia sadar dengan apa yang diucapkannya itu, bahwa janji-janji tersebut pernah diutarakan oleh orang-orang sebelum dia, sebelum jadi penguasa. Janji-janji itu kemudian hanya jadi dongeng pelipur lara.

“Pilih yang muda. Yang muda yang patut dipercaya. Perubahan ada di tangan pemuda,” ucap calon-calon penguasa yang baru mengenal tulis-baca, sembari membagikan gambarnya. Di gambar itu tertera nomor ‘pungguk’ juga. Bukankah kalimat-kalimat yang sama sudah pernah diucapkan oleh penguasa-penguasa sekarang saat ia muda dulu? Alahai udeueng breueh, ék manok han löt, narit u ateuh!

“Kemajuan negeri ini hanya dapat diperoleh jika dipimpin oleh orang-orang yang berpengalaman, yang sudah banyak makan asam-garam,” sahut mantan-mantan penguasa, bahkan yang sedang berkuasa juga. Bukankah ini sekedar dongeng agar ia kembali terpilih? Alahai Apa Uda’, cukôp cangklak bak jipeugah haba!

Teungku yang berbahagia, jika demikian, kita haru memilih siapa untuk jadi penguasa? Mungkin kita harus ingat kata Indatu, orang-orang yang mesti dijadikan penguasa adalah orang yang “Ngui ban laku tubôh, pajôh ban laku atra. Jak ban laku linggang, pinggang ban laku ija.” Tentunya orang-orang seperti ini yang tak pintar bermanis bibir saat mulutnya bicara. Sudahkah orang-orang seperti itu ada di gampông Teungku dan Nyak???

Iklan

Filed under: Haba-haba

One Response

  1. tengkuputeh berkata:

    Waktu bisa merubah seseorang Pak. bahkan diri kita. Itulah sebabnya diperlukan konsistensi diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: