Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Apa Pentingnya Menulis?

oleh Herman RN

“Menulis…? Susah banget!”

Setidaknya, pernyataan itu selalu muncul di setiap penulis pemula. Ungkapan serupa dengan redaksi sedikit berbeda sering saya dengar dari teman-teman saya. Kemudian, ungkapan itu berlanjut dalam beberapa pelatihan menulis yang sempat saya ikuti. Bahkan, dalam sebuah pelatihan untuk guru-guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di Balai Bahasa Banda Aceh tahun lalu—ketika itu saya sempat menjadi salah seorang pemateri—saat mereka diminta menulis, ungkapan seperti di atas masih terdengar. Selanjutnya, kalimat yang sama saya dengar pula dari mahasiswa ketika diminta mengarang sebagai sebuah tugas kuliah. “Ga tahu harus mulai dari mana,” kata mereka. Anehnya, saat sudah memulai menulis, mereka mengaku “enggan” mengakhiri, dengan dalih tak tahu cara menutup tulisannya. Sekilas memang lucu kedengaran, “Susah mengawali, sulit mengakhiri”.

Namun, begitulah kenyataannya, banyak orang berasumsi bahwa menulis itu susah, terutama bagi mereka yang baru saja memulai dunia tulis-menulis. Mungkin ini pula yang menyebabkan negara kita kemiskinan penulis regenerasi. Terbukti, hingga kini Indonesia belum memiliki “penulis dunia.” Hanya seorang Pramoedia Ananta Toer yang mempunyai nama di Internasional. Akan tetapi, di mata dunia ia lebih dikenal sebagai novelis sejarah, bukan sastrawan. Lantas, kemana masyarakat Indonesia yang diagung-agungkan kesastrawanannya?

Halnya dengan Aceh, yang sangat dikenal dunia dengan sastrawannya seperti Nuruddin Ar-Raniry, Ali Hasyimi, Chik Pante Kulu, Abdul Karim, dan lain-lain, tetapi generasi penerus sekarang malah lebih suka menghabiskan celoteh di warung kopi. Alhasil, untuk bahan dongeng di TK dan SD pun, kita meminjam dari luar.

Sebaliknya, banyak hal yang ada di sisi kita, di Aceh, bakal menjadi dongeng saat tidak ada upaya pendokumentasian. Salah satu usaha dan upaya pendokumentasian adalah dengan menulis. Menulis tentang bunyi senjata, tentang ibu yang diperkosa, tentang ayah yang pulang ke rumah dengan tanpa kepala setelah dijemput oleh orang bertopeng sebelum magrib kemarin, tentang bagaimana laut naik ke darat, tentang bagaimana ular menyelamatkan seorang kakek tua dari amuk gelombang raya, dan tentang apa saja. Saya yakin semua itu akan menjadi dongeng manakala tak didokumentasikan, yang salah satunya melalui tulisan.

Kendala Penulis Pemula Zaman Ini

Banyak alasan kita dengar mengapa kita kekurangan penulis. Salah satunya adalah merasa tidak yakin dengan hasil karyanya, meski di antara mereka (baca: penulis pemula) sebenarnya banyak tersimpan memori yang tak kalah menarik dengan penulis yang sudah jadi. Rasa percaya diri yang kurang mapan membuat mereka tidak yakin dengan diri sendiri dan hasil kerjanya. Akhirnya, mereka berhenti sebelum mencoba. Mereka merasa tulisannya masih belum sempurna. “Malu dengan penulis yang telah jadi,” katanya.

Pada prinsipnya, di dunia ini semuanya butuh proses. Tak ada kejadian tanpa melewati proses, entah proses itu yang kontinyu atau tidak. Hanya kekuasaan Tuhanlah yang tak memerlukan proses. Kun.. fayakun.

Rasa kurang percaya pada hasil karya cipta sendiri tadi telah menjerumuskan penulis pemula atau calon penulis besar yang ingin lekas memiliki nama besar, menciplak karya orang lain. Akhirnya, predikat plagiator pun tersandang di namanya. Memang, tak salah ketika kita menyukai sebuah tulisan orang, gaya dia bercerita, atau sebagainya. Akan tetapi, itu hanya sebagai pemula buat meneruskan langkah berikutnya., bukan malah menciplak sepenuhnya. Kendati kita sangat menyukai karya orang-orang yang sudah jadi semisal Andrea Hirata, Habiburrahman El Sirazy, Gola Gong, bukan berarti harus menjadi orang tersebut, yang lantas ketika merasa tak mampu seperti mereka, kemauan menulis pun hilang.

Penyebab lain yang membuat kurangnya penulis di daerah ini karena anggapan terhadap media. Tak dapat dipungkiri, koran dan majalah di zaman ini menjadi standar seseorang memiliki sifat dan sikap untuk menulis. Apalagi, di Aceh, karena penerbit buku kurang, koran kemudian dijadikan sebagai tolok ukur seseorang dianggap sebagai penulis atau bukan. Lantas, upaya-upaya menembus tulisan ke koran dianggap menjadi hal yang penting. Bahkan, sejumlah penerbit di negara ini mulai memberikan standardisasi dalam menerbitkan karya-karya orang. Kalau sudah menghiasi halaman koran-koran, barulah orang tersebut dianggap layak dibukukan karyanya.

Anggapan dasar ini kemudian membuat orang berlomba-lomba menulis di koran, terutama koran lokal yang seleksi penulisannya lebih ringan daripada koran nasional yang sudah mapan.

Seorang guru dan civitas akademik pun sekarang diminta menulis di koran. Apabila tulisannya dimuat, mereka akan mendapatkan nilai KUM yang berguna untuk menunjang kenaikan pangkat/golongan. Persoalannya adalah tidak mudah untuk ‘menembus’ koran, sekalipun koran lokal. Hal ini kemudian menjadi salah satu ‘tembok’ kepada seseorang berhenti menulis. Misalnya, sudah memberikan tulisan ke koran beberapa kali, tetapi tidak pernah dimuat sekali pun, orang tersebut akhirnya berhenti (tidak mau) menulis.

Selera Koran dan Redaktur

Agar ketakutan dan keraguan tulisan dimuat tidak menjadi ‘hantu’ yang menakutkan, perlu mengenal terlebih dahulu koran yang akan dituju. Ada baiknya memulai dari koran lokal. Tatkala beberapa kali sudah karya dimuat di koran lokal, tak ada salahnya mencoba mengirimkan karya kita ke koran nasional.

Baik koran lokal maupun koran nasional, stile koran tersebut harus menjadi perhatian. Misalkan Harian Republika; koran ini mengarah kepada tulisan agamis. Sebagai sebuah koran nasional, Republika tak ubahnya seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Seputar Indonesia, dan sejenisnya, setiap tulisan yang diberikan mestilah isu-isu berstandar nasional.

Di samping itu, selera redaktur yang menangani rubrik, dalam konteks ini, penanggung jawab deks opini/essay, juga mesti diperhatikan. Misalnya redaktur Harian Serambi Indonesia yang suka tulisan-tulisan berbau sufiis dan mitos penolakan, terutama upaya penggalian budaya tradisi, maka tulisan-tulisan yang bertemakan seperti selera redaktur tersebut akan lebih memiliki peluang dimuat daripada tema-tema umum. Demikian halnya di Harian Aceh—salah satu koran lokal terbitan Banda Aceh—opini tentang pendidikan, agama, dan upaya penolakan terhadap sebuah keterkekangan akan lebih mendapat peluang cepat dimuat.

Selain memperhatikan selera koran dan redaktur, perlu diketahui, redaktur juga akan melihat siapa diri pengirim tulisan. Karena itu, semua koran mewajibkan kepada setiap pengirim tulisan agar melampirkan biodata saat mengirimkan tulisan. Dalam hal ini, redaktur akan melihat subtansi tulisan yang ditulis dan siapa penulisnya. Misalkan, mahasiswa FKIP menulis tentang kesehatan, ini akan menjadi pertimbangan berat bagi redaktur untuk memuat tulisan tersebut. Demikian sebaliknya, mahasiswa kedokteran saat menulis tentang pertanian atau ekonomi, akan dinilai barat oleh redaktur layak atau tidak tulisan dia dimuat. Bukan berarti seorang guru hanya boleh menulis tentang guru. Akan tetapi, persoalan ini berbicaya mengenai “pemahaman”—siapa yang lebih paham seorang guru menulis tentang pendidikan dengan seorang ahli peternakan menulis tentang hal yang sama. Pasti redaktur akan lebih memilih tulisan si guru.

Hal lain yang mesti diperhatikan adalah kita sedang menulis di koran. Sebagai sebuah halaman media cetak, koran terikat dengan kolom (ruang) yang disediakan. Karena itu, ada koran yang terkadang sengaja memberikan pengumuman “menerima sumbangan tulisan…maksimal 5000-6000 karakter. Dengan demikian, usahakan mematuhi kriteria yang sudah ditetapkan oleh koran kalau memang mau tulisan cepat dimuat.

Penutup

Ketahuilah, menulis dapat menjadikan kita kaya. Simpan dulu pikiran untuk menulis buku yang fee-nya memang sangat besar. Menulis di koran saja dapat menghasilkan honor yang lumayan. Saya misalkan, koran lokal di Aceh yang masih sangat baru. Di Aceh Independen, satu opini akan dibayar sekitar Rp50.000. Jika dalam seminggu ada tulisan kita satu, selama sebulan kita akan mendapatkan tambahan uang jajan Rp200.000. Angka yang sama juga berlaku di Harian Aceh. sementara itu, di Serambi Indonesia, saat ini satu opini dihargai Rp100.000, Repulika satu tulisan sekitar Rp400-Rp500 ribu, di Kompas akan dibayar lebih dari angka itu. Silakan kalkulasikan sendiri jika ada tulisan kita dimuat 12 kali dalam setahun dengan perkiraan satu tulisan satu bulan. Kemudian, tulisan-tulisan yang sudah dimuat itu diterbitan menjadi sebuah buku. Berapa honor yang diinginkan melalui kerja sambil duduk memencet keyboard komputer?

Ah, persoalan itu jangan dulu dipikirkan. Kalau memang sudah tiba waktunya, hal itu takkan lari ke mana. Sebagai penulis pemula, baiknya mari berpikir bahwa menulis adalah bagian dari ibadah. Saya misalkan, satu tulisan kita dimuat di sebuah koran. Jika memang tulisan itu berisi ilmu, ia akan menjadi ibadah bagi si penulis. Jika diandaikan ibadah itu diberikan kepada seorang manusia, pahalanya 1%, koran yang dicetak hingga 1000 eksemplar akan memberikan ibadah kepada si penulis 1000%. Jika satu koran dibaca oleh dua orang, 1000 x 2 = 2000, pahala yang diterima berarti 2000%. Yang mesti diketahui adalah sebuah koran pemula saja, mencetak korannya sekitar 4000-5000 eksemplar. Apalagi, koran yang sudah mapan, akan mengedarakan korannya sebanyak puluhan ribu. Silakan kalkulasikan sendiri berapa pahala yang didapat jika pada koran itu ada satu, dua, atau tiga, tulisan Anda.

Herman RN, mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Unsyiah. Pengelola desk TAMADUN Harian Aceh.

Iklan

Filed under: Essay

8 Responses

  1. Jaya berkata:

    Wah, mantap kali bang Herman ini. Memang menulis itu harus dibiasakan dan bila perlu bang Herman membuat training menulis yang pesertanya anggota acehblogger.org

    ————-
    Wah, senang sekali rasanya kalau diizinkan memberikan pelatihan menulis pada blogger Aceh. Pernah saya bermimpi untuk itu, karena saya tahu, bloger punya waktu banyak dalam menulis.
    Salam hangat saya untuk bloger Aceh.

  2. hack87 berkata:

    semoga para blogger tidak berkelit lagi dengan susah buat menulis…

  3. AgamKelana berkata:

    Huh….saya termasuk dari salah satu yang masih susah menulis…harus belajar banyak dari Bang Herman dan Tgk Aulia

  4. AgamKelana berkata:

    Thanks banget ya atas inspirasi dan sharingnya..jadi tambah semangat untuk menulis

  5. evan vin berkata:

    oi bisa bikinin dialog drama utk 5 orng gak?????

  6. oscar radyan danar berkata:

    Sangat amat bermanfaat..semoga banyak dibaca, sehingga banyak pula pahalanya..

  7. khaeril berkata:

    thx! boleh kirim fotonya ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: