Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

CINTA

Oleh Herman RN

Salam penuh cinta serupa Tuhan ciptakan Adam dan Hawa serta jagat raya. Maaf penuh cinta pula saya ucapkan kepada pembaca, terutama masyarakat muslim di mana saja berada. Membaca cang panah kali ini dengan mengetengahkan judul “valentine”, bukan berarti apa-apa. Ini hanya sekedar mengenang sejarah tanda bukti cinta. Sungguh, saya tak maksud apa-apa.

Marilah melihat kelakar ini dengan penuh cinta sehingga tak mengundang praduga apa-apa, sebab valentine hanya sebuah kata. Sekedar melihat sejarah pembentukan sebuah nama, gelar valentine yang dinobatkan setiap tanggal 14 Februari disebut-sebut diambil dari nama seorang lelaki (ada yang menyebutnya pendeta), yang mengabdikan seutuhnya kehidupan dia kepada Tuhanya semata.

St Valentine, demikian nama lelaki itu. Ia meninggal pada 14 Februari 269 Masehi. Kemudian hari ini dipilih sebagai pelaksanaan ‘undian cinta’. Kisah lain mengatakan St Valentine sempat meninggalkan ucapan selamat tinggal kepada putri seorang narapidana yang bersahabat dengannya di akhir pesannya itu ia menuliskan, “Dari Valentinemu”.

Terlepas dari segala dongeng yang dianggap mensejarahkan itu, semua orang di penjuru dunia mengakui Hari Valentine adalah hari cinta, hari berkasih-sayang. Sementara itu, di belahan dunia yang lain, yang dikenal orang di kampung yang sangat bernama, terdamparlah sekelompok orang yang terusir dari negeri seberang.

Sesungguhnya, seperti ombak laut tsunami yang menggulung sebagian tanah Aceh dengan cinta, mungkin serupa itulah ombak laut Hindia membawa kelompok tersebut ke kampung bernama di ujung timur sana. Cinta membawa mereka terdampar di negeri itu. Namun, sang pemimpin di sana malah menebarkan benih duka di media. Kehadiran kelompok terusir dari negeri seberang tersebut dianggap sang pemimpin sebagai beban yang bertambah-tambah.

Di lain pihak, orang-orang berjibaku mencari sedekah atas nama cinta untuk sesama umat beragama. Di trotoar jalan, di lampu merah, di gedung-gedung megah, di rumah-rumah, mereka membawa kotak amal. “Sedekah tuan dan nyonya sebagai bukti cinta kepada saudara kita sesama muslim di Palestina,” ucap mereka pencari sedekah tersebut.

Tanpa bermaksud melarang mencari sedekah itu, ada yang seperti lepas dari sela-jari-jari kita, dari ingatan penguasa. Bahwa kaum terdampar di negeri bernama yang kemudian orang-orang sepakat menyebutnya dengan suku Rohingya adalah juga muslim. Mereka bertuhankan Allah swt. juga. Namun, sudahkah sedekah atas nama cinta mengalir untuk mereka?

Di media, saya membaca, pemimpin negeri bernama, tempat kelompok terusir itu terdampar, malah mengatakan (sekali lagi) kehadiran Rohingya adalah beban. Oh, valentine, kau mengaku membawa dan menitipkan cinta, tapi di sini, sedang ditabur benih luka. Di bulan ini, bulan penuh cinta seperti orang bilang, tapi di bulan ini juga ada luka bertambah-tambah dari mereka…

Ah, saya jadi ingat pesan bijak, bahwa jangan memancing sesuatu yang akan mendatangkan petaka. Lam geureupoh bèk tapeuleuh musang, lam raga pisang bèk tapeuleuh tupee. Jadi, mungkin saya harus dia saja daripada cinta berubah dendam dan luka.

Iklan

Filed under: Haba-haba

One Response

  1. AgamKelana berkata:

    Mantap Bro….cinta dan kehidupan

    dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan selalu saja kontras

    Thanks atas pencerahannya

    Ta jak u bee let tapak,
    taduk u bee let situk
    Ta gulam u beek taba
    tapajoeh ubena leet bek that brat tapaksa droe keudroe peukara nyan han eek tapike

    untuk saudara kita yang sedang mengalami musibah ….Yang penting dari sahabat2 kita baik dari ABC maupun yang dari AKLI sudah membantu dengan sekemampuan daya tenaga dan pikirang kelanjutannya tinggal daerah dan negara yang ngurus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: