Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Dari Kertas ke Panggung*

oleh Herman RN**

Masih ingat dengan penyanyi berambut keribo era 80-90-an? Rambutnya, kata orang zaman sekarang, brekele. Meski demikian, lagunya telah membuat penghuni bumi di negeri ini terhenyak. Lagu tersebut adalah “Hidup ini panggung sandiwara”.

Warkah ini sengaja saya mulai dengan pertanyaan terhadap syair lagu Ahmad Albar, yakni lagu “Panggung Sandiwara” yang terkenal itu. Dari syair yang ikut ‘campur tangan’ Taufiq Ismail di dalam mencari diksinya itu, kita semakin akrab dengan kata “kehidupan ini hanya sementara,” yang di dalamnya banyak cerita dan dilema. Ada suka, ada duka, sedih dan air mata, canda, kocak, juga humoria, semua itu diucapkan Albar yang pada kenyataannya memang kita alami dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Lalu kata “sandiwara” mulai kita kenal sebagai sebuah karya sastra. Karya sastra jenis ini untuk dipertunjukkan/ dipertontonkan. Sandiwara sebenarnya berasal dari bahasa Jawa; sandi (rahasia) dan warah (penyampaian). Sandiwara berarti penyampaian (pesan) secara rahasia. Hal ini mulanya dilakoni pada masa-masa perang. Orang-orang yang pintar bersandiwara pada masa itu sama dengan intelijen perang. Lakon kepura-puraan menjadi rakyat biasa, pemulung, orang tersesat, dan sebagainya, dibawa oleh orang-orang yang membawa pesan kepada patih (raja/ panglima). Karena itu, dalam bahasa Jawa disebut dengan “sandiwara”.

Selanjutnya, istilah sandiwara semakin akrab di telinga kita saat munculnya beragam kisah/cerita di radio-radio. Sebut saja di antaranya Sandiwara Nini Pelet, Tangkuban Perahu, dan Saur Sepuh. Cerita-cerita ini kemudian ada yang dituliskan menjadi sebuah buku, dipertontonkan di panggung, ada pula yang difilmkan. Semua kisah itu, kendati dipertontonkan/ dipertunjukkan, tetap berasal dari sebuah cerita. Adanya pementasan terhadap kisah-kisah itu kemudian lebih kita kenal dengan sebutan drama atau teater.

Sampai di sini, ada yang perlu dicermati. Kata “drama” sejatinya mesti dibedakan dengan sebutan “teater”. Pembicaraan drama lebih menitikberatkan kepada naskah, teks, penokohan, dialog, dan penulis. Sementara itu, teater merupakan pertunjukkan (aplikasi) dari naskah drama. Jika pada drama ada yang disebut dengan penokohan, saat diteaterkan dikenal istilah tokoh/aktor, ia bermain dengan artistik kata, interteks, dan atas bimbingan sutradara (lihat tabel berikut).

Drama

Teater

naskah

pertunjukan

penokohan

tokoh/ aktor

teks

interteks

penulis

sutradara

Naskah merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna bentuknya apabila belum dipentaskan (pertunjukkan). Naskah disebut juga sebagai ungkapan pernyataan penulis (playwright) yang berisi nilai-nilai pengalaman umum, juga merupakan ide dasar bagi aktor. Proses pengembangan laku bersumber dari hasil studi dan analisis isi. Hal ini dapat membangkitkan daya kreatif dalam menghayati laku secara pas, melaksanakan peran dengan takaran seimbang dalam asas keutuhan, keseimbangan, serta keselarasan. Naskah sering juga disebut dengan skenario (script), terutama untuk film.

Dalam sebuah naskah, ada percakapan/dialog. Berbeda dengan percakapan dalam teks prosa yang biasanya ditulis berangkai dengan narasi, pada naskah drama, percakapan ditulis terpisah menjadi dialog per tokoh yang diharapkan memerankan ucapan tersebut. Namun demikian, dalam naskah drama tetap juga memiliki narasi. Narasi dalam naskah drama biasanya ditulis memakai tanda kurung (…) atau dimiringkan (italic). Japi Tambojang dalam “Dasar-dasar Drama Turgi” memberi istilah pada percakapan sebagai wawancang dan untuk tanda kurung disebutnya kramagung. Perlu diingat, ketika sebuah naskah sudah dipertunjukkan, barulah dikatakan dia sebagai teater.

Penokohan  merupakan karakter tokoh yang diinginkan dalam sebuah naskah. Karakter ini sama seperti karakter manusia biasa: ada kejam, sadis, baik, pendiam, gila, dan sebagainya. Karakter-karakter tersebut diharapkan dapat diperankan oleh aktor (pemain) dengan maksimal agar tercapai maksud naskah. Dalam naskah drama (juga berlaku untuk film dan sandiwara) semua watak tersebut dibagi menjadi tiga kategori, yaitu protagonis (tokoh baik) antagonis (tokoh jahat), dan tritagonis (tokoh pembantu).

Selanjutnya, Teks. Karena teks adalah sesuatu yang tampak (tertulis), pembicaraan naskah merupakan pembicaraan tentang teks/ masih di atas kertas. Ketika berbicara interteks, berarti membicarakan maksud yang tidak tampak dari sebuah teks. Interteks merupakan perilaku yang diharapkan muncul setelah melakukan interpretasi terhadap teks. Lebih mudahnya, teks merupakan unsur ekstrinsik (luar), sedangkan interteks adalah unsur intrinsik (dalam).

Penulis adalah orang yang melakukan proses kreatif yang pertama terhadap sebuah karya. Dalam hal ini kita membicarakan karya sastra drama. Jadi, penulis adalah orang yang melakukan proses kreatif menulis naskah drama. Sutradara adalah orang yang membawa naskah ke bentuk pertunjukkan. Seorang sutradara pastinya dituntut orang yang mahir melakukan interpretasi terhadap naskah, baik dari segi dialog, cerita, penokohan, sampai kepada properti panggung. Oleh karena tanggung jawabnya yang berat itu, seorang sutradara biasanya dibantu oleh asisten sutradara. Tugas sutradara mulai dari latihan sampai selesai pementasan.

Dengan demikian, berbicara tentang drama, belum lengkap jika tidak diteaterkan. Dalam pembelajaran drama di sekolah, di sinilah letak kelemahannya. Guru cenderung hanya memperkenalkan naskah drama kepada siswa, tanpa mencoba membuat siswa mengaplikasikan naskah tersebut. Ironisnya lagi, terkadang kita kurang (atau mungkin tidak) mengetahui dari mana dan bagaimana membuat naskah drama.

Naskah drama sebagai sebuah kisah lakon tetap memiliki unsur cerita, alur/plot, teman, tokoh dan penokohan, di samping unsur yang paling penting, yakni dialog. Sebagai sebuah kisah untuk dipertunjukkan, ia tak perlu terlalu panjang, karena akan dapat menimbulkan kebosanan. Kalaupun ada naskah yang panjang, pasti ia dibuat per babak demi menjaga kagaringan lakon atau cerita. Karena itu, naskah drama dikatakan ephemeral, yaitu bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama. Maka, drama tidak jauh berbeda dengan cerpen, yakni sebuah cerita yang habis dibaca sekali duduk. Dalam bahasa lain, cerpen adalah sebuah kisah yang habis dibaca dalam satu malam.

Kedua istilan ini (cerpen dan drama) kemudian dianggap sebagai jenis karya sastra bercerita. Sebagaimana diketahui, karya sastra bercerita dapat digolongkan tutur dan tulis. Cerpen dan drama mengambil peran kedua jenis karya sastra tersebut, ia dapat ditulis, sekaligus dituturkan (didialogkan).

Cerpen Menjadi Drama

Cerpen dapat digubah menjadi naskah drama yang kemudian dipentaskan adalah sebuah keniscayaan. Hanya saja, perlu diingat, dalam cerpen, dialog dipisahkan menjadi beritem-item sesuai tokoh yang mengucapkan dialog tersebut. Cara bertutur dalam cerpen pun cenderung bernarasi panjang-panjang. Sebaliknya, dalam drama, narasi tidak ditulis secara detail. Penceritaan diantar langsung oleh tokoh yang memerankan kisah dan mengucapkan dialog. Dengan demikian, saat akan mengubah cerita pendek menjadi naskah drama, yang perlu diperhatikan pertama sekali adalah persoalan pemilihan cerpen.

Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam menggubah teks cerpen menjadi naskah drama. Pertama, pilihlah cerpen yang banyak dialognya. Pilah dialog-dialog tersebut berdasarkan tokoh yang mengucapkan/ memerankannya. Tentunya pemilahan dialog ini setelah memilah terlebih dahulu masing-masing tokoh dalam cerpen dimaksud. Karena drama lebih berperan pada sastra tuturnya, dialog dalam cerpen bisa saja disesuaikan saat diucapkan. Namun, masih dalam maksud penyampaian yang sama.

Kedua, amati latar/setting dalam cerpen. Usahakan latar dan setting tidak terlalu mengganggu naskah saat dimainkan, sebab sebuah naskah drama tujuannya untuk dipentaskan. Ketiga, Pelajari kembali karakter setiap tokoh dalam cerpen. Hal ini berguna untuk membantu pembentukan penokohan pemeran dialog dalam naskah. Karakter tokoh dalam cerpen biasanya dituturkan oleh si penulis. Namun, karakter tokoh dalam drama ditentukan oleh dialog yang diucapkan oleh si tokoh.

Keempat, Telaah kembali apa-apa saja alat yang digunakan tokoh atau pendukung narasi dalam teks cerpen untuk membantu properti panggung saat naskah siap dipentaskan. Kelima, Langkah terakhir adalah tulislah kisah cerpen yang sudah dipilah dialognya tersebut ke dalam bentuk penulisan naskah drama. Beberapa narasi yang merupakan gerak si tokoh dapat ditulis dalam bentuk kramagung: dalam kurung.

Setelah selesai, naskah drama tersebut siap dipentaskan. Jangan lupa, pada prolog naskah tetap disampaikan bahwa cerita tersebut digubah dari cerpen (misalkan cerpen Perempuan Pala karya Azhari). Hal ini menjadi penting demi menjaga diri dari cap plagiat atau penyadur atau penerjemah. Semua langkah-langkah tersebut dapat dilakukan tentunya dengan pemahaman/ penelaahan terhadap teks cerpen dengan baik. Artinya, daya analisis dan interpretasi teks cerpen sangat membantu dalam proses penggubahan teks ke dalam bentuk naskah.

*Tulisan ini disampaikan dalam workshop “Mengubah Teks Cerpen Menjadi Naskah Drama” bagi siswa dan guru tingkat SMA se-Kota Banda Aceh, oleh Balai Bahasa Banda Aceh, Januari 2009.

**Herman RN, mantan pengurus Teater Nol Unsyiah dan pengasuh desk TAMADUN Harian Aceh

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. Tri Mulyani berkata:

    Saya sedang menyelesaikan skripsi dengan judul “Peningkatan Keterampilan menulis Teks Drama dengan dramatisasi cerita pendek…”

    Saya punya masalah dengan istilah ‘dramatisasi’ karena terlalu luas cakupannya karena yang saya inginkan hanya meneliti keterampilan menulis teks drama dengan cerita pendek. Kegiatan yang saya inginkan adalah cerpen dijadikan bahan agar siswa dapat mengambil ide dari cerpen yang sudah dibaca sehingga siswa dapat dengan mudah menulis teks drama.

    Saya sudah beberapa kali bimbingan dengan dosen pembimbing saya tapi beliau juga bingung dengan istilah yang saya berikan. katanya kurang pas dan beliau menyarankan untuk diganti saja padahal saya sudah terjun ke lapangan.

    Saya minta bantuannya ya mas, mencarikan istilah yang tepat. Saya harap mas mau segera membalas tanggapan saya.

    Terimakasih,
    ditunggu balasannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: