Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mutasi

oleh Herman RN

“Mutasi dalam tubuh pejabat pemerintahan adalah hal yang biasa. Hal ini demi mencari profesionalitas dalam tempat yang diberikan.”

Ungkapan itu sederhana. Kemudian ada lagi pernyataan serupa. “Mutasi dalam tubuh militer adalah hal yang biasa. Yang penting, bagaimana kita dapat menyikapi setiap pekerjaan yang dipercayakan kepada kita secara apik dan profesional.”

Ungkapan seperti itu tentunya sudah tidak asing lagi di telinga dan mata kita. Saya katakan di telinga, karena ungkapan seperti itu sudah sering kita dengar. Saya katakan di mata, karena sudah sering kita baca di media-media cetak semisal koran dan majalah.

Dapat dipastikan, setiap ada pemindahan jabatan di pemerintahan atau pergantian pejabat di tubuh Polri/TNI, kita mendengar ungkapan seperti itu dari yang melakukan pemutasian. Namun, mutasi yang kata kasarnya disebut dengan “pemindahan jabatan” atau lebih kasar lagi “pemecatan” yang terjadi pada Danramil Simpang Kramat, dua hari lalu, dipandang Dandim Aceh Utara sebagai suatu hal yang luar biasa. Betapa tidak, mutasi itu digelar atas sebuah kesalahan, bukan karena kebutuhan sehingga ungkapan di atas, yang sering kita dengar itu, kurang cocok disematkan.

Ada petuah dalam kearifan ureueng Aceh, “Buet gop bèk tapadoli, meusiki ureueng teuka.” Agaknya ungkapan ini dapat dicermati sehinga setiap orang dapat bekerja sesuai wilayah tugasnya. Istilah kerennya, sesuai “tupoksi” yang digariskan.

Teuma, pakiban meunyo han tapatéh? Sudah tentu akan terjadi sesuatu pada diri kita. Hal ini selaras pula dengan hadih maja, “Buet gop bèk tarindu, meukeumat iku han ék tahila.”

Begitulah kearifan budaya dan tradisi lama menasihati hidup manusia sebagai makhluk budaya. Lantas, dalam hal mutasi pejabat-pejabat di Aceh yang mulai langka terdengar saat ini, tentu menimbulkan pertanyaan, kok bisa?  Pasalnya, sepanjang tahun kemarin, mutasi menjadi sebuah ajang lomba di tubuh pemerintahan yang ada di Aceh, baik tingkat provinsi maupun kabupaten.

Apakah penyambutan Pemilu damai membuat tubuh pemerintahan di Aceh berdamai pula dengan mutasi? Atau jangan-jangan karena para pejabat itu sedang disibukkan dengan persiapan masing-masing untuk menang dalam Pemilu nanti agar bisa memecahkan rekor mutasi? Entahlah! Pasalnya, saat ini, kata mutasi mulai sering terdengar di kalangan militer daripada pemerintahan. Padahal, dahulunya, sebaliknya. Mungkinkah mutasi menjadi ajang kompetisi? Alah hai hom…

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: