Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Karet

Haba Herman RN

Saya yakin, semua kita tahu karet. Pohon karet dapat diteras dan getahnya diambil, lalu menghasilkan uang. Karet ini pastinya akan dapat membantu perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah. Disebut karet, karena getahnya dapat membuat lengket. Karena itu pula ada nama “lem karet” yang maksudnya ‘perekat yang membuat lengket. Dari sini kemudian muncul istilah “cinta karet” yang dianalogikan sebagai cinta seseorang yang mudah lengket di mana (siapa) saja.

Namun, tahukan Anda jenis karet lainnya? Karet yang satu ini bukan persoalan lengket tidaknya, tetapi lebih kepada “kendor-tegangnya”. Misal saja, ban kendaraan. Karena terbuat dari karet, ia mudah ditarik-ulur sehingga terkadang mengendor, terkadang pula menegang. Dari sini kemudian muncuk istilah “jam karet”.

Istilah “jam karet” umumnya ada di belahan dunia mana pun. Hanya saja, di Indonesia atau di Aceh khusunya, ungkapan “jam karet” ini sangat terkenal. Karena itu, mungkin pemeo bahwa orang Aceh “pemalas” tersemat lengket dalam karakter pribadi masyarakatnya. Saya sendiri pernah mendengar seorang teman yang bekerja di sebuah LSM berkata seperti ini: “Bèk pakèk jeum Aceh beh. Rapat poh dua, jak poh pheut.” Demikian lengketnya “jam karet” bagi masyarakat Aceh sehingga sebagian orang dalam lembaganya (semisal LSM/NGO) sangat takut dengan istilah jam Aceh yang sering ‘ngaret’.

Di kantor tempat saya bekerja pun, kalau ada rapat (musyawarah), acap kali sengaja diumumkan lebih awal dari jadwal yang akan diselenggarakan. Pernah suatu kali saya datang pukul 13.00 WIB sesuai jadwal rapat yang diumumkan oleh staf admin, tetapi belum ada orang yang datang, termasuk pimpinan. Lantas, saya bertanya, “Apakah tidak jadi rapat?”. Staf tadi menjawab “Rapatnya jam 2 (baca: pukul 14.00 WIB), tetapi sengaja ditulis jam satu karena memang kawan-kawan suka datang terlambat.”

Jadwal tersebut rupanya sengaja dicepatkan karena sangat kenal watak orang Aceh yang suka datang terlambar dari jadwal yang ditentukan. Akhirnya, karena sudah kebiasaan sengaja datang terlambat dari jadwal, di mana pun hal ini diberlakukan, walaupun mulanya hanya di kantor atau lembaga sendiri.

Agakanya, peristiwa yang menimpa kampanye akbar Partai SIRA kemarin juga bagian dari kebiasaan. Oleh karena sudah terbiasa dengan “jam Aceh” atau “jam karet” tadi, kampanye dimulai terlambat setengah jam dari jadwal yang ditentukan oleh pihak KIP. Akibatnya, polisi terpaksa turun kaki membubarkan kampanye SIRA di Banda Aceh.

Kejadian ini juga menimpa kampanye Partai SIRA di daerah lain. Di Aceh Barat Daya misalnya, SIRA juga terlambat melakukan kampanye setengah jam sehingga meminta penambahan waktu. Di Sabang pun demikian. Dengan alasan salah seorang Caleg SIRA di sana belum datang pada jadwal yang telah ditetapkan, kampanye SIRA di Sabang pun terpaksa dimulai sekitar setengah jam kemudian dan ditutup pun akhirnya ‘makan’ waktu lagi sekitar dua puluh menit dari jadwal seharusnya.

Beruntung di Sabang dan Abdya atau daerah lainnya, karena keterlambatan menutup acara akbar tersebut mendapat izin dari Panwaslu setempat masing-masing. Namun, betapa aibnya di Banda Aceh. Polisi terpaksa turun membubarkan kampanye tersebut. Beginilah akibat dari sebuah kebiasaan yang tidak semestinya dibiasakan. Kendati manusia sangat mahpum arti sebuah janji sebagaimana peribahasa “Kaki bertarung emas padanannya, mulut terlanjur pun emas padanannya,” tetapi masih juga suka “duduk berkisar tegak berpaling”. Orang Padang dan Aneuk Jamee bilang begini, “Alah biso karena biaso”.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: