Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Memilih

Herman RN

Besok, hari kita harus memilih dan menentukan tujuan pilihan kita. Kata pepatah “Hidup ini memang harus memilih.” Kalau boleh saya sedikit menyentil, saya hendak mengatakan “Pilihanlah yang menentukan arah hidup.”

Mengutip sebaris sajak Tengsoe Tjahjono, andai tak lesik dalam memilih tentunya kita akan mendapatkan “musang berbulu ayam” yang dalam bahasa Tjahjono, “Malam berpakaian sufi, siang berkostum pencuri, topeng-topeng bergantung pada setiap biliknya, maka berubahlah ia setiap saat.”

Karenanya, berkontemplasi sebelum memilih menjadi hal yang dianjurkan. Pasalnya, kata si Ujud, tokoh dalam sebuah cerita “Kura-kura Berjanggut” karangan Azhari, yang berjanggut itu belum tentu sufi, karena itu pula ada istilah kura-kura berjanggut.

Memilih yang sempurna memang sulit, karena tidak ada yang sempurna dalam dunia ini, selaras dengan bijak bestari yang menyebutkan “Tak ada gading yang tak retak.” Namun, mencari yang mendekatik kesempurnaan itu adalah impian setiap orang hidup. Tidak mungkin “Asèe tajôk sileuweue”, karena “Bue meubajee, asèe meusileueweue, tapuduek jih ateueh ulee, jitrom geutanyoe lam pageue.

Akibatnya, jika perihal dalam hadih maja itu dilakukan atau terlakukan, kecewalah yang dipetik dari sebuah pilihan. Dan semua kita mahfum bahwa kecewa memang selalu hadir di ujung cerita. Sebab itu pula, kearifan ureueng Aceh jauh hari telah mengingatkan “Yang utôh tayue ceumulék/ Yang lisék tayaue keunira/ Yang baca tayue ék kayee/ Yang dungee tayue jaga kuta/ Yang beu-o tayue keumimiet/ Yang meugriet tayue meumita/ Yang malém tayue beut kitab/ Yang bangsat tayue rabé guda/ Yang bagah tayue seumeujak/ Yang bijak tayue peugah haba”.

“Meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya,” begitu pepatah dalam bahasa lainnya. Namun demikian, apakah ketakutan akan pilihan membuat kita ‘harus’ tidak memilih? Semua kembali pada diri. Bahwa hidup adalah sebuah pilihan tidak mungkin dapat dihindari. Kalau bukan kita yang memilih, orang lain pasti memilih. Kemudian, pilihan orang, jika kita gunakan, biasanya membuat kita lebih merasakan lara tatkala hasil pilihan orang itu tidak sesuai dengan pilihan kita, sementara dalam kemajemukan hidup, kita haru menggunakan pilihan orang. Maka, suatu keniscayaan, kita memang harus memilih, karena kita hidup dalam negara dan dunia pilihan.

Lantas, seorang teman pernah berkata, “Golput adalah pilihan saya. Artinya saya telah memilih, yakni golput pilihan saya.” Saya tidak tahu apakah golput adalah sebuah pilihan juga dalam hidup yang menuntut kita haru memilih sehingga teman saya tadi bersikeras memilih golput. Sungguh, hom hai… tuan pasti tahu maksud saya.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: