Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Perjuangan

Herman RN

dewan-caemSabab lam bak jôk, brôk lam beusoe

Sabab sidroe ureueng brôk,

Jeut busôk ban saboh nanggroe

Ada banyak jalan menuju Roma. Hal itu diungkapkan penyair Idrus dalam sebuah sajaknya yang mebuat ia terkenal. Ungkapan singkat dan sarat filosofi itu memperlihatkan bahwa perjuangan untuk menang memiliki banyak cara dan ragam. Perkara jalan baik atau jalan licik, jalan bagus atau jalan bulus, ini yang kemudian mesti diperhatikan.

Kemarin, sejumlah orang dan kelompok partai telah berjuang menuju kursi dewan. Perjuangan menuju kursi dewan disebut-sebut menuju perjuangan demi rakyat. Mereka yang hendak duduk di kursi empuk itu semua mengaku akan memperjuangkan nasib rakyat. Namun, perjuangan yang mirip judi karena harus diundi melalui kertas suara itu pasti harus ada yang tersingkir.

Tersingkir entah berarti kalah. Saya tak hendak berasumsi demikian karena yang tersingkir belum tentu kalah. Kembali kepada filosofi Idrus, “Banyak jalan menuju Roma” menunjukkan banyak cara memperjuangkan hati rakyat. Kursi dewan bukan satu-satu keniscayaan perjuangan hati nurani umat. Maka, tatkala tersingkir dari kontes pemilihan raya 2009, mestikah calon dewan menjilat lidah perjuangannya?

Adalah Pawang Dolah, seorang calon dewan yang kemarin menunjukkan giginya akan memperjuangkan rakyat kelak kalau dia duduk di kursi empuk dewan. Akan tetapi, dalam hasil pemilihan ternyata ia tersingkirkan. Jika dulu ia berjanji akan memperjuangkan rakyat di kampungnya, yang perjuangan itu mulai ditunjukkannya dengan memberikan embel-embel berupa sembilan bahan pokok ditambah kain sarung untuk salat, kekalahan membuat ia meminta kembali segala pemberiannya. Uih, perjuangan rakyat ternyata tak lepas dari pamrih.

Bermula pamrih perjuangan rakyat itu saat ia hendak menuju kursi dewan. “Saya akan memperjuangkan rakyat. Karena itu, pilih saya. Saya akan buktikan mulai sekarang bahwa saya memperjuangkan rakyat. Ini bantuan sembako dari saya. Ada juga kain sarung untuk salat agar bapak-ibu bisa mendoakan saya dalam salat supaya menang nantinya,” begitu kata Pawang Dolah saat kampanye.

Entah sadar atau tidak, Pawang Dolah ternyata mengharapkan pamrih rakyat atas pemberian sembako dan kain sarung dimaksud. Ia yang kemudian berjanji akan membangun jalan kampungnya tembus ke pusat kecamatan menyebutkan bahwa pemberian itu juga sebagai bukti memihak kepada rakyat. Namun, kembali ia menegaskan, “Kalau saya terpilih!”

Begitulah perjuangan atas nama rakyat. Pawang Dolah yang tidak terpilih menjadi anggota dewan undur diri dari perjuangannya sekaligus mengundur niatnya membangun jalan kampung. Tak cukup sampai di situ, ia juga menarik kembali bukti-bukti perjuangannya dengan meminta balik segenap sembako yang pernah diberikannya kepada rakyat kampungnya. Ironis, Pawang Dolah mengundurkan diri dari perjuangan untuk rakyat sebelum sempat berpikir “banyak jalan menuju perjuangan rakyat” sebagaimana pernah ia pikirkan saat hendak mencalonkan diri bahwa “banyak jalan menuju anggota dewan”, termasuk memberikan bantuan kepada rakyat lebih dini dari yang diharapkan. Alahai udeueng breueh, ék manok han löt narit u ateuh. Meunan talô, ka waba kireueh?

Yang kita takutkan dari sikap Pawang Dolah ini adalah akan mencemarkan sejumlah calon dewan lainnya, yang dulu juga pernah berjanji kepada rakyat. Maka, Indatu berpesan, “Sabab lam bak jôk, brôk lam beusoe. Sabab sidroe ureueng brôk, jeut busôk ban saboh nanggroe.”(ha,13/04/09)

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: