Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Rakét

oleh  Herman RN

‘Oh ka leupah sinyak jeumeurang

Rakét bak pisang than meguna lé

Teungku meutuwah, ini hanya sebuah warkah, sebuah kisah yang mungkin tak perlu dipetik hikmah. Namun, karena ruang ini menuntut saya mesti peuleuh hah, maka izinkan ini bah menyentuh ‘ruang sah’ Teungku, Poma, dan Ayah.

Sahdan, kisah ini fiktif yang diangkat dari sebuah gampông bernama Lamsulét. Di gampông itu, hari ini ada pemilihan pemimpin. Beberapa hari sebelum hari “H” pemilihan, sejumlah masyarakat setempat diminta untuk memenangkan salah satu calon mereka. Oya, untuk diketahui ada enam calon di gampông tersebut yang akan menjadi pemimpin. Uniknya, satu di antaranya pemimpin itu memiliki roh yang sangat luar biasa untuk memimpin. Ia dianggap pernah memiliki jasa besar di gampông tersebut karena sebelumnya berhasil mengundang kontraktor membangun jalan tembus dari gampông Lamsulét ke beberapa gampông tetangga.

Nah, calon pemimpin ini merasa sangat aib jika tak berhasil menang, karena ia diagung-agungkan sebelumnya. Maka, strategi demi strategi pun mulai disusun tim suksesnya. Salah satu strategi itu dengan cara mendekati para ketua lorong. “Kalau si Pulan tidak menang di lorong kamu, sebagai ketua lorong, kamu yang akan menerima risiko. Namun, kalau si Pulan menang, kamu akan mendapatkan imbalan,” ujar tim sukses si Pulan.

Hari yang ditunggu tiba. Proses pemilihan berlangsung aman dan tertib. Si Pulan akhirnya benar-benar mendapatkan cita-citanya. Ia menang telak dengan persentase yang sangat mengejutkan untuk semua lorong. Namun, tahukah Teungku apa imbalan yang diterima oleh kepala lorong-kepala lorong? Jangankan imbalan yang pantas seperti janji dahulu, dihirau saja tidak. Dalam acara pesta syukuran kemenangan si Pulan, ketua lorong tidak diundang sama sekali.

Begitulah si Pulan, “Telah dapat gading bertuah, terbuang tanduk kerbau sawah.” Kearifan ureueng Aceh mengatakan, “Tamsé rakét bak pisang, ‘oh ka leupah si nyak jeumeurang, rakét bak pisang than soe hiroe lé.

Dalam bahasa Pawang Dolah, seorang penghuni Gampông Lamsulét, kasus itu bisa ditamsilkan oleh kata Indatu dalam sebuah hadih maja, Awai boh bayeuk dudo boh panah, panee lom leumah sinalop kana/ Meunyoe hana ék ta timbôn tamah, panee lom leumah guna meuguna.” Entahkah kisah lama berulang lagi pada zaman serba modern ini? Pasalnya, janji yang sama juga pernah diucapkan kepada orang-orang yang memiliki ‘kuku’ di gampông-gampông saat air bah dan berkecamuk dulu. Sungguh, kata itu hanya “entahlah…”

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: