Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Khanduri

Oleh Herman RN

daripada juléng gèt buta, daripada geunténg gèt hana

SELESAI sudah perhelatan akbar itu, Teungku. Khanduri takziah di tanah ini telah genap pada hitungan 1825 hari. Artinya, setengah windu lebih setahun kau bersama rakyat Kampung Fansuri.

Teungku, kau dan rekan-rekanmu—maaf, aku mencoba bersopan menyebut anak buahmu dengan sebutan rekanmu—telah berbilang matahari makan dan minum di kampung ini, tepatnya menyantap hidangan khanduri raya setelah laôt raya. Adakah yang mengesankan di hatimu, Teungku.

Ah, terlalu sopan pula rupanya aku meyapa kau dengan sebutan Teungku. Padahal, aku tahu benar kau bukan penduduk asli Tanah Fansuri. Kau yang datang dari seberang tiba-tiba saja diberi kepercayaan menakhodai kapal besar di Tanah Fansuri, kapal yang menampung banyak dana takziah tentunya. Maka itu, aku bertanya, adakah yang mengesankan di hatimu setelah 16 April kemarin?

Uh, mungkin kau tak mendengar resah ini, walau ingin sekali aku—mungkin juga beberapa orang kampungku—mendengar sebaris pidato pribadimu tentang tanah ini. Andai saja kau tahu, ada yang sangat mengesankan bagi aku—mungkin juga beberapa orang kampungku—setelah kepergianmu. Sekali lagi kugunakan kata “maka itu”, sebelum mendengar kau berkesan-pesan atas nama pribadi—bukan atas nama negara dan perahu yang pernah kau nakhodai seperti pidatomu di Anjong Monmata malam kemarin—kukisahkan sedikit kesanku yang mungkin juga dirasakan beberapa orang kampungku, setelah kepergian dan pembubaran kapal-kapalmu.

Ingatkah kau Teungku, setelah khanduri akbar pascalaôt raya, banyak jalan di pelosok-pelosok kampung Fansuri berkilau. Kau pasti bilang itu berkat kerjamu. Banyak pula rumah-rumah yang berkokoh meninggalkan roboh di rata pelosok. Jumlahnya mencapai puluhan ribu dan aku sangat mafhum, kau pasti akan bilang, itu juga berkat kerjamu. Kemudian, banyak pula sejumlah peralatan tani dan nelayan yang kembali menyeronok di kampung kami, jua sejumlah buku pendidikan di pustaka-pustaka kampung ini mendapat tambahan. Kau juga pasti akan bilang, “Itu berkat saya.” Ya, seolah kau dan kapal yang kau nakhodai selama lima tahun itu telah berbuat banyak di Tanah Fansuri ini. Bahkan, beberapa wilayah di kampung tetangga Fansuri akan kaukatakan telah membangun dan terbangun berkat kau dan kapal yang kau nakhodai itu.

Namun, Teungku, pernah kau melihat berapa banyak tenda tersisa, rumah yang telah dibangun tanpa penghuni ditambah rumah-rumah yang sama sekali hanya sebatas janji? Kemudian sudahkah kau tinjau Pelabuhan Simeulue? Aku pernah dengar kau berjanji melalui media massa, akan menyelesaikan pelabuhan itu sebelum akhir tahun lalu. Kenyataannya, tali pengikat boat saja tak tersedia. Mana pula janjimu akan menenggelamkan rekanmu yang kau percayai memakai perahumu di pulau terpencil itu oleh sebab pelabuhan tak kunjung selesai?

Wah, aku tahu, kau pasti mau bilang kalau pengerjaanya akan dilanjutkan oleh raja di Tanah Fansuri ini. Begitu juga dengan rumah-rumah yang baru sebatas pondasi atau hanya sebatas janji, kau pasti akan bilang hal itu diselesaikan oleh raja kampung ini.

Nikmat niat kata-katamu, Teungku. Usai perhelatan khanduri akbar dan menghabiskan uang takziah selama 60 bulan di kampung kami, kau ‘cuci tangan’ dengan peluh rakyat negeri ini. Kaulimpahkan semuanya kepada raja negeri. Uih..uih..benar-benarlah kau seperti kutu yang bertamu di sarang kepinding.

Teungku, tak perlu kau sembunyi di belakang jala dengan menyatakan semua yang belum selesai itu karena ulah kontraktor. Rakyat tahu benar berapa uang takziah yang kau habiskan selama di negeri ini untuk sakumu sendiri. Maka itu, sebelum kisah ini panjang terjadi, dengarlah kata indatu kami: bèk meusom di likôt peulincôt, bèk meulimbôt deungoen jeue/ hana meuphôm bak kamoe carôt, lam seupôt kamoe kireuh euntreuk. Kami tahu kapal yang kau nakhodai itu bernama BRR yang sebagian menyebutnya dengan Bèk Rioh-Rioh. Maka, suatu saat akan kami kirimkan doa yang Bekerja Ribu-Ribut dalam diam, untuk kau seorang manakala kau berlepas tangan. Bagi kami, daripada juléng gèt buta, daripada geunténg gèt hana. Saleuem!(HA,18/04/09)

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: