Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

UJUNG PASIR, Langganan Banjir yang Tersingkir

Oleh Herman RNujung-pasir

Gampông itu terletak di tengah suak rumbia. Nyaris sekelilingnya, kecuali sebelah utara, dipenuhi batang sagu yang sangat besar dan lebat. Pohon-pohon itu sudah menjadi kebun warga setempat dan warga gampông tetangga.

“Ujung Pasir” demikian nama gampông yang hanya memiliki rumah tak lebih dari seratus unit itu. Sebelah barat gampông tersebut, berbatasan dengan Ulee Raket dan Simpang Lhee, Kecamatan Kluet Utara, sebelah timur berbatasan dengan Geulumbuk, Kecamatan Kluet Selatan. Selanjutnya, sebelah selatan berbatasan dengan Gampông Simpang Empat, Kecamatan Kluet Utara, dan sebelah utara dibatasi oleh sungai yang di seberang sungai merupakan Gampông Pasi Merapat dan Pulau Air, Kecamatan Kluet Selatan.

Aneh memang, kendati Ujung Pasir merupakan wilayah Kecamatan Kluet Selatan, ia berada di tengah-tengah yang sangat dekat seselingkarnya dengan gampông-gampông wilayah Kecamatan Kluet Utara. Tak ayal, gampông ini akhirya terisolir dari pemerintahan kecamatannya.

Rawan Banjir

Sebagai sebuah gampông yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS), banjir sudah menjadi santapan tahunan. Dalam setahun, gampông ini sekurang-kurangnya tiga kali tetap merasakan banjir. Bahkan, pernah terjadi dalam setahun hingga tujuh kali mengalami banjir. Namun, media tak pernah mengekspos. Pasalnya itu tadi, “terisolasi”, jarang diketahui oleh orang luar bahwa di sana ada gampông, ada komunitas masyarakat.

“Bagi warga di sini, banjir sudah menjadi mainan tahunan. Rasanya aneh, kalau dalam setahun tidak ada banjir sekitar dua kali saja,” kata Badri, 30, pemuda setempat.

Dulunya, menurut dia, rumah-rumah di Ujung Pasir berupa rumah panggung. Meskipun tidak khas seperi rumah Aceh, karena daerah ini rawan banjir, masyarakat lebih senang mendirikan rumah panggung, rumah yang memiliki tangganya agar terhindar dari banjir. Namun, belakangan, entah karena pemikiran harus bebas dari ketertinggalan (rumah panggung dari kayu dikira kampungan) atau memang kayu sudah tidak ada/berkurang, rumah-rumah di sini mulai didirikan menggunakan bahan batu dan semen. Akan tetapi, sebagian kecil, rumah papan dan berbentuk panggung masih terdapat di daerah ini.

Saat banjir tiba, anak-anak sekolah di gampông ini cenderung libur. Mereka, terutama anak-anak sekolah dasar, ‘sekolah’ bersama air. Sedangkan anak-anak sekolah tingkat SMP dan SMA disibukkan dengan memilih kayu yang dihanyutkan oleh arus sungai. Tak ayal, saat air mulai surut dari banjir, remaja-remaja di gampông ini menjadi perenang kayu. Mereka mengambil kayu-kayu yang hanyut dengan berenang. Hal ini mereka lakoni dengan suka cita.

Oya, anak-anak di gampông ini, sekolahnya, kalau SD di SD Negeri Gelumbuk, Kecamatan Kluet Selatan. Sedangkan tamat SD, rata-rata melanjutkan ke SMP Kluet Utara atau MTsN (sebelumnya MTsS) Kluet Utara. SMP itu terletak di Kota Fajar, Ibukota Kecamatan Kluet Utara—sekitar 2,5 kilometer dari Ujung Pasir, dan MTsN di Gampông Simpang Empat, sekitar 1 kilometer.

Setamat dari SMP/MTsN, remaja-remaja Ujung Pasir melanjutkan kembali sekolah ke SMA Kluet Utara atau MAS Kluet Utara, yang letaknya masing-masing di Kota Fajar dan Simpang Empat. Kendati mereka sekolah di wilayah Kecamatan Kluet Utara, bukan berarti Kluet Selatan tidak memiliki sekolah lanjutan. Baik Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas, keduanya ada di wilayah Kluet Selatan. Hanya saja letaknya di pusat Ibukota Kluet Selatan, Suak Bakong, Kandang, membuat anak-anak dari Ujung Pasir enggan ke sana. Jarak dari Ujung Pasir ke pusat ibukota kecamatan tersebut mencapai sepuluh kilometer. Makanya anak-anak dari kampung ini lebih memilih sekolah ke wilayah Kluet Utara. Itu pun dengan jalan kaki. Kalaupun ada yang memakai kendaraan, sekedar sepeda, tidak ada yang menggunakan sepeda motor, apalagi mobil. Makanya, kalau musim hujan datang, kampung mereka yang rawan banjir menjadikan anak-anak daerah ini absen sekolah.

Pendidikan dan Perekonomian

Bukan hanya perkara banjir yang menjadikan anak-anak dari Ujung Pasir jarang tersentuh pendidikan, soal ekonomi juga. Pasalnya, penduduk daerah ini secara umum menggantungkan kehidupannnya dari hasil tani, seperti sawah dan ladang. Sawah dan ladang itu pun terkadang berada di wilayah Kluet Utara. Hal ini mengesankan seolah Gampông Ujung Pasir benar-benar tidak memiliki apa-apa, walau sepetak tanah sawah pun.

Padahal, masyarakat Ujung Pasir juga bersawah-ladang di gampôngnya. Namun, karena persoalan air–gampông ini tidak memiliki irigasi—masyarakat terpaksa bersawah-ladang di gampông tetangga. Umumnya warga Ujung Pasir bersawah di Gampông Simpang Empat, Kluet Utara. Sekilas memang menjadi aneh, Ujung Pasir yang dekat dengan daerah aliran sungai malah kekurangan air untuk mengalir sawahnya. Namun, inilah kenyataan yang ada, gampông tersebut tidak memiliki irigasi, beda dengan Simpang Empat atau gampông tetangganya yang lain.

Sebagian penduduk Ujung Pasir ada pula yang menghidupi keluarganya dari daun rumbia. Daun rumbia tersebut mereka anyam menjadi atap, lalu dijual kepada agen atau tauke dari luar yang datang ke kampung mereka. Di samping dijual ke luar, rumah-rumah warga setempat juga rata-rata beratapkan daun rumbia. Kalau tidak seluruhan, atap dapurnya pasti daun rumbia. Sejauh ini, tidak ada rumah yang beratapkan genteng di Ujung Pasir. Kalaupun ada yang beratapkan sebagian dengan seng, atap itu kemudian disisipi juga dengan daun rumbia.

Bagi yang memiliki kebun rumbia, mereka memetik daunnya dan dijahit sendiri menjadi atap. Sedangkan bagi yang tidak memiliki kebun rumbia, mereka akan melakukan mawah (bagi hasil) atau sekedar tueng upah. Ini pulahlah yang acapkali dilakoni anak-anak usia sekolah di sana.

Mereka—anak-anak sekolah—itu sering mencari uang jajan sekolah dari upah menjahit atap daun rumbia. Terkadang sepulang sekolah, hingga malam hari, di beberapa rumah, terlihat sejumlah anak-anak, laki dan perempuan duduk dengan sebelah kaki dilipat dan sebelahnya lagi diselonjorkan. Kemudian, tangan-tangan mereka dengan apik memasukkan rotan yang sudah dibilah dan diraut menjadi tali sebagai benang pengikat dauh rumbia hingga jadilah atap. Untuk memperkokoh atap tersebut, bagian dalam diberikan irisan bambu. Sulit ditemukan masyarakat Ujung Pasir yang tidak bisa menjahit atap dari daun rumbia, kecuali pendatang. Sebab, memang itulah mata pencarian mereka pada umumnya. Ini pula yang kemudian menjadi penghambat anak-anak untuk memperoleh sekolah dengan tenang dan nyaman seperti anak-anak di daerah lain.

Permainan dan Kebiasaan

Ada sejumlah permainan dan kebiasaan lainnya, di samping merajut atap rumbia dalam masyarakat Ujung Pasir. Sebagai masyarakat yang menetap di sebuah gampông, mereka juga memiliki permaian terdisi. Di antaranya, “Adu Gasing”.

Permainan “Adu gasing” ini bukan hanya dilakukan oleh anak-anak usia sekolah, tetapi juga kalangan dewasa dan orang tua-orang tua. Gasing-gasing yang mereka olah umumnya dari batang kopi dan batang gading, tergantung ukuran kebutuhan. Adu gasing, bukan hanya persoalan lama berputar di tanah, tetapi juga pukul memukul hingga ketahuan gasing siapa yang paling kuat. Biasanya, adu gasing ini dilakoni berkelompok, bahkan dalam kelompok yang besar, ada adu gasing antar-gampông. Dari kegiatan ini kemudian tali silaturrahmi semakin terjalin.

Selain itu, masyarakat Ujung Pasir juga memilki permaian adu layang. Layaknya daerah lain, mereka juga kerap adu layang-layang dengan masyarakat gampông lain. “Dahulunya, wilayah Ujung Pasir ini sangat luas sehingga beragam permaian dan arenanya ada di sini. Ada lapangan bola kaki, ada lapangan bola kasti, ada lapangan voli. Banyak masyarakat dari gampông lain yang bermain ke sini. Pokoknya, pada tahun 1980-1990-an, Gampông Ujung Pasir hidup. Tidak seperti sekarang, terkesan seperti gampông mati,” tutur Ali Amat, 45, suatu kali.

Menurut dia, pada tahun-tahun itu, beraneka ragam lomba sering digelar di Ujung Pasir. Warga di sini suka mengadakan kompetisi. Kalau yang lelaki, katanya, biasa kompetisi voli atau bola kaki, sedangkan yang perempuan kompetisi bola kasti. Namun, sekarang, hal itu tidak pernah didapat lagi.

“Jika kompetisi antar-mukim atau kecamatan, untuk tim bola voli dan tarik tambang, Ujung Pasir sangat dikenal waktu dulu. Tapi, jinoe hawa teuh,” tambahnya.

Seorang pemuda setempat menuturkan, karena sebagian lelaki di sini jadi tukang tarik (balok) kayu di Gunung Manggamat, menjadikan lelaki-lelaki di sini umumnya berotot-otot. “Makanya, kalau ada lomba tarik tambang se-Kecamatan Kluet Selatan, biasanya saat peringatan Tujuh Belasan (17 Agustus/Hari Proklamasi), Ujung Pasir sering menjadi juara, sebab lelaki-lelaki di sini sudah terbiasa menarik balok-balok besar di Manggamat. Sebagain jadi tukang panjat kelapa dan tukang dagang sagu (pohon rumbia-red). Mungkin karena sudah akrab dengan pekerjaan kasar dan berat itu, tarik tambang menjadi hal mudah bagi lelaki-lelaki di sini,” katanya.

Akan tetapi, seperti kata Ali Amat, segala macam permainan tradisional itu, mulai ditinggalkan warga. Menurut dia, tanah kampung yang dilanda banjir saban tahun itu sudah banyak dikikis arus sungai sehingga wilayah Ujung Pasir semakin menyempit. Akhirya, mata pencaharian berkurang dan pemuda-pemuda setempat mulai mengadu nasib ke luar daerah. Akibatnya, mereka mulai kekurangan kaum Adam sehingga tak cukup orang mempertahankan dan mentradisikan segala permainan tadi.

“Umumnya, selain sudah banyak yang menikah dan punya anak, kaum lelaki Ujung Pasir banyak pula yang merantau, sebab di gampôngnya tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Semuanya sudah diambil air setiap tahun. Rumah-rumah penduduk saja, coba lihat, sudah mulai jarang-jarang. Semua sudah diambil air,” kata Asnidar, 27, ibu rumah tangga, dua bulan lalu.

“Satu-satunya harapan warga hanya tinggal pada kebun rumbia. Masalahnya, orang-orang sekarang sudah maju, tidak mau lagi pakai atap rumbia. Sudah ada seng dan genteng. Jadi, siapa yang mau beli atap rumbia lagi. Lagi pula, kebun rumbia di sini pun juga mulai dikikis tebing aliran sungai.” Tambahnya, yang menamsilkan, kampung itu sekitar delapan atau sembilan tahun lagi akan hilang, hanya tinggal sebuah nama, jika tak ada yang mau peduli untuk membuat beronjong di Daerah Aliran Sungai (DAS) setempat.

Sungai Ujung Pasir

Samsari, mantan Geuchik Ujung Pasir, pernah menuturkan, gampông itu dahulunya sangat luas. Rumah-rumah penduduk mencapai ratusan. Namun, karena sungai yang sering meluap, tanah-tanah terkikis dan rumah-rumah hanyut sehingga saat ini hanya tercatat sekitar 60 buah rumah.

Pernah DAS sepanjang Gampông Ujung Pasir hendak diberikan beronjong, namun entah mengapa tidak jadi. Akibatnya, sampai sekarang, sedikit demi sedikit tebing sungai setempat, setiap kali datang banjir, dikikis arus sungai. Akhirnya, perkampungan Ujung Pasir pun secara perlahan dikeruk hingga mengecil. Sementara itu, tanah di seberang sungai tersebut semakin meluas dan berpasir.

Di singgung tentang bantuan bronjong, hingga sekarang, menurut masyarakat setempat, belum ada satu pihak pun memberikan bantuan—baik pemerintah maupun nonpemerintah (NGO)—yang berniat membangun bronjong di daerah aliran sungai Ujung Pasir. Kendati demikian, warga juga mengaku kalau kampungnya tetap mendapatkan bantuan, hanya saja, alakadar. Bantuan itu semacam sedekah bagi desa tertinggal (Inpres Desa Tertinggal/IDT).

“Meskipun kampung ini terisolir, masalah bantuan jangan ditanya. Kalaupun ada, sekedarnya saja. Contohnya tak usah jauh, rumah bantuan akibat gempa, entah tujuh unit yang ada dibangun. Aneh kan? Seolah orang-orang di kampung ini orang kaya semua sehingga jarang tersentuh bantuan,” ketus Idrus, pemuda setempat, yang mengaku tidak sempat menamatkan SMP karena desakan ekonomi keluarga.

Tentang sejumlah lapangan permainan yang dulunya menjadi salah satu penarik semarak gampông ini, Idrus menyebutkan, tanah-tanah lokasi permainan itu bukan hanya habis diambil banjir, tetapi juga ada yang sengaja disulap untuk didirikan bangunan.

Contohnya, lapangan bola kaki. Sebagian lapangan itu sudah disulap warga setempat menjadi lahan perkebunan. Ada yang menanam kacang panjang, jagung, dan aneka tanaman lainnya di sana.

Kemudian, lapangan voli. Sebelumnya, lapangan voli di Ujung Pasir ada dua, untuk lelaki dan perempuan. Lapangan voli lelaki terletak di belakang Mesjid Al-Ikhlas, mesjid gampông setempat, sedangkan lapangan voli perempuan berposisi sekitar lima puluh meter lebih jauh ke belakang. Saban sore pemuda dan pemudi setempat memeriahkan gampôngnya dengan teriakan di lapangan voli. Bahkan, beberapa pemuda dari gampông tetangga juga suka datang ke Ujung Pasir untuk ikut main voli.

Akan tetapi, saat gampông ini memperoleh bidan desa yang akan mengabdi di sana, rumah Poliklinik Desa (Polindes) dibangun di atas lapangan voli lelaki. Akibatnya, pindahlah para lelaki ke lapangan voli perempuan yang menakibatkan para perempuan tersingkir dari kebiasaan olahraga sore tersebut.

Dalam perjalanan waktu, tiba-tiba saja lapangan voli perempuan itu semak karena tidak pernah digunakan. Hal ini terjadi saat konflik bersenjata (tahun 2000-2003). Kala itu, teriakan dilarang menggema, gampông pun menjadi mencekam. Apalagi, bagian dalam gampong ini ada sebuah tempat bernama Paya Lhok, dijadikan tempat latihan orang-orang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Akhrinya, gampông yang dulunya meriah menjadi mencekam. Bahkan, pernah dua kali lebaran, masyarakat gampông ini hidup dalam pengungsian ke Paya Lhok. Mereka berlebaran ke semak-semak sana tanpa salat ‘id. Bagi yang mau salat ‘id waktu itu, pergi ke gampông tetangga.

Masa konflik, masyarakat biasa dan para tentara seperti lomba lari di sepanjang DAS Ujung Pasir. Ironisnya, kalau ada kontak senjata, Ujung Pasir dijadikan tempat pelarian. Peluru akhirnya berdesingan di gampông ini. Sungai Ujung Pasir pun kerap menjadi saksi. Hal yang sangat miris di sini adalah masyarakat Ujung Pasri kerap jadi korban karena daerah mereka jadi tempat pelarian.

Korban yang sekarang masih hidup meskipun sudah pernah ditembak tentara di antaranya Balewah Putra (ketika itu sebagai ketua pemuda). Dia ditembak di dada, nyaris mengenai rusuk kiri. Badannya yang kekar karena keseharian bekerja menarik balok dan memanjat kelapa tak mebuat ia tumbang ditembus timah panas. Selanjutnya, Ansari (saat itu sebagai sekretaris gampông), ditembak di betis. Dan, Safrizal (eks pelajar), kena tembakan tentara di paha kanan yang tembus nyaris mengenai kelaminnya. Mereka tiga saksi hidup dari sekian korban lainnya yang sampai sekarang usah ditanya tentang bantuan korban konflik. Mereka tak pernah menerima bantuna korban konflik seperti korban di daerah lain di Aceh.

“Kalau kita urus pun dana itu, paling dipersulit lagi administrasinya. Ya udah, kami pilih diam saja, ambil rezeki yang dikasih Allah melalui bertani saja,” ucap salah seorang dari mereka yang minta tak perlu disebut namanya.

Pascakonflik

Selepas konflik, masyarakat Ujung Pasir mencoba membenahi kembali gampôngnya. Bagi mereka yang berpendapat olahraga akan mudah mempersatukan silaturrahmi sepakat gotong royong membangun lapangan voli kembali. Lapangan voli kali ini dibuat di pinggir jalan, bukan lagi di bagian dalam gampông.

Lapangan baru itu dibangun secara swadaya oleh pemuda setempat pada tahun 2005, setelah perjanjian damai. Harapan terbuka, selama dua tahun lapangan voli tersebut berjalan lancar. Tali silaturrahmi bukan hanya terjalin sesama masyarakat setempat, pemuda-pemuda gampông sekitarnya—terutama dari Gampông Simpang Empat—suka bermain ke sana dan terjalinlah kembali silaturrahmi yang lama renggang karena konflik.

Namun, perkara terjadi. Karena tahun ini adalah tahun musim BRR menghabiskan anggaran, dibangunlah sebuah mesjid untuk Gampông Ujung Pasir oleh BRR (padahal warga masih banyak yang membutuhkan rumah, bukan mesjid). Ironisnya, Mesjid Al-Ikhlas yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu di gampông tersebut masih berdiri kokoh. Bahkan, tahun kemarin baru saja lantai mesjid itu diberikan keramik oleh sumbangan warga setempat. Akan tetapi, BRR yang sudah memberikan anggaran mendirikan mesjid di Ujung Pasir tetap menjalankan misinya.

Di sinilah perkara itu bermula. Mesjid peut sagoe timang selebar “kandang kibas” itu didirikan di atas lapangan voli yang baru dua tahun diaktifkan. Yang namanya di atas lapangan voli, sebesar itu pulalah mesjid BRR tersebut didirikan. (Bisa dibayangkan besarnya, hanya 18×9 meter, kubahnya sebesar).

Sedikit deskripsi tentang mesjid “kado” BRR tersebut: kubahnya sebesar ‘kepala kucing’ dan tidak menonjol. Jika diamati dari jauh, fentilasi di sekiling mesjid pada bagian atasnya dan dipadu dengan kubah yang sebesar ‘kepalan tangan’ tadi mengesankan bangunan BRR itu tidak mencerminkan arsitekur Islam. Anehnya lagi, kakus (WC) diletakkan di depan pintu masuk mesjid, persis di tangga masuk kiri-kanan. Ini mesjid “edan” yang pernah saya temui seumur hidup!

Yang terjadi kemudian adalah Mesjid Al-Ikhlas yang sudah lama ada di sana terbengkalai, mesjid baru itu pun jarang diisi masyarakat. Hanya saja, warga Ujung Pasir yang dominan memang bukan “anak sekolahan” tidak mengerti cara protes. Akhirnya, mereka menerima apa adanya mesjid tersebut.

Di sisi lain, pemuda-pemuda Ujung Pasir kehilangan arena permainan. Lapangan voli mereka sudah disulap jadi “mesjid ketupat” hadiah dari BRR. Lama memang Ujung Pasir mengharapkan bantuan agar terlepas dari ketertinggalan. Namun, siapa menyangka, sekali mendapatkan bantuan—dari induk semang (BRR) pula—Ujung Pasir malah harus menerima keterisolasian. Lapangan permainan tradisi mereka direnggut, mesjid mereka pun ditutup.

Herman RN, bertumpah darah di Ujung Pasir sejak 20 April 1983.

Iklan

Filed under: Feature, Memory

One Response

  1. eka berkata:

    *pertamax*

    peu haba aduen..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: