Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

OKTAF LEBIH SEBARIS

Puisi-puisi Herman RN

Bang budi yang tak lagi di sekolah


kuhela setiap helai yang melintang pukang

mencoba meluruskan arus yang (belum) lurus

entah kicau burung

entah gemericik daun

entah gebalau kerbau

entah pula bisik angin

kebiasaan yang memitos dalam sebuah komunitas, wahai

tapi kita percaya jalan ke sorga

yang hidup dan bernapas kurasa serupa sengau menghidu redam

menengarai jauh ke lubuk yang (tak) pernah dijangkau jemari tangan

entah kau

entah aku

entah dia

entah pula sesiapa

mencari yang sudah dan tidak tahu arti

tapi masih meraba seolah nyanyi ini begitu sunyi, wahai

oktaf ini lebih sebaris, (…) atau ia belum selesai

Banda Aceh, 1 Januari 2009


MANTRA KEMATIAN

O, aku sudah melangkah ke masjid, gereja, pura, dan wihara

Tak kudapati sebuah pun kitab yang mendidik saling tusuk dan tembak

jua membunuh

Lalu kubalik lembaran qur’an, injil, taurat, dan zabur, yang katanya menyimpan ajaran kehidupan dan ajaran kematian

Semua melarang bunuh diri

Tapi mengapa di kampungku masih ada dendang saling bunuh?

O, dengarlah mantraku

Hong kemba kusipak kusalah

Salahlah mata mengambil lihat

Salahlah hidung punya hidu

Salahlah mulut miliki ucap

Salah pula telinga mendengar mau

O, kutahu tangan terlalu pendek menjangkau pekat

Kaki menyendat saat mencari tuju

Hanya kalbu yang mampu itu

Jika saling bunuh dilarang agama, saling tikam ditegah tuhan

Mengapa ada perang?

Jua bila bunuh diri tak ada perintah

mengapa pemuda dan gadis itu gantung diri?

Mengapa ada suara senapan?

“menghukum tersangka,” katanya

Apakah hukum telah dibeli dari tuhan atau ajaran kematian salah ditulis kitab

Atau Isa dan Muhammad lupa suatu ajaran

Bahwa maut kemutlakan tuhan?

O, inilah mantra itu

Sebab dari aku ajal dari tuhan

Kusebabkan segala kematian

Tertariklah nyawa dari regangnya

Tercabutlah roh dari ghaibnya

Dan.. Tuhan Bapa

Tuhan Allah

Izrail

Menganga

Subhanahuwata’ala di sini berada

Aceh, Jumat malam, 17 Juli 2008

STANSA YANG HITAM-PUTIH

yang membujur itu belum kaku

ia mendengar bisikan air yang dulu pernah meluap

yang melata itu bukan ular

ia manusia yang sepasang kakinya telah direnggut zaman

yang beriak itu bukan air

ia yang sedang mencari jati diri di atas sedekah si miskin

mengumpulkan suara, lalu menjadi batu

aku melihat kursi diperebutkan

aku menyaksikan dasi digadaikan

aku menonton iringan pidato yang tak diperlombakan

aku melirik ke arah si pembawa ember sedang menggunakan handpone

aku menjingau dari sebalik gubuk

kudengar tiga anak kecil menangis

kutatap ibunya sedang merebus batu di tungku yang tak  ada api

sungguh, memiliki korek api saja sudah terlalu mahal

sedang stansa itu masih melantun

mengalun di cerobong gereja, kuil, pura, wihara, dan mesjid

kadang di pasar, sekolah, atau tempat pengungsian

“bahwa bangsa ini harus bebas dari kemiskinan

bahwa sekolah harus gratis”

ah, stansa yang hitam-putih, kawan.

khutbah yang belum usai

Lambhuk, 2 Januari 2009


SAJAK TIKUS DAN KUCING

Tikus mendengus bau kucing

Sembunyi di bawah kolong lembab noda

Dan tertawa bahak ketika kucing datang

Karena kucing tak lagi memangsa

Ketika disuguhkan tissue warna merah jambu

Dan mereka pesta

Mandi!

Aceh, 2006

PERANG AKAN DATANG LAGI

Apa yang dapat kukatakan tentang sebuah kejujuran, Tuan?

Aku agam aku inong

Apa yang dapat kuungkap tentang naluri, Tuan?

Aceh kampungku, kelahiranku

Takut?!

Sudah mendarah daging

Meski hari ini kau elus kepalaku

Kau remas jemariku

Kecemasan itu masih pasti

Bahwa masa lalu belum berlalu

Perang itu akan datang lagi

Koeta Radja, Ramadhan 1427 H

SEORANG PENCERITA

dia membelah gurun memanjat gunung

menabur rasa di galau raung

tanpa membiar batuk tersimpan mencekik

dia tetap tersedak

tanpa bersin air hidung

bukan karena lapar atau dahaga

seperti yang ditulis Tuhan di lembar zaman

seorang pencerita melangkah diam

tak mampu menceritakan tanda-tanda

padahal dia sudah membaca

dan dia tak lagi bercerita

Aceh, tengah November 2006

SUATU PAGI

suatu hari telatku bangun pagi

kulihat di warung kopi perempuan lebih banyak dari kaum laki

kucari cut nyak ia tak menyahut

kutanya kartini ia tak menjawab

dan aku meraba kemaluanku

Lambhuk, September-November 2008

BERTEPUK DADA

Kau bertepuk dada dari atas kursi

dia mengurut dada menahan diri

kami juga bertepuk dada

tapi dalam tari seudati

yang kami lenggangkan membenah diri.

Aceh, 2006

KETIKA SANG GURU BERKATA

“saya tidak mau jadi guru”

dimana Indonesia

Jepang tersenyum

Amerika bertepuk dada

Indonesia terbatuk

Maret, 2006

KETAKUTAN ITU MASIH TERBAYANGKAN

padahal langit tak runtuh pula tidak gegar

bumi tak retak dan hujan tak ada

tapi air itu datang

membawa matahari turun ke bumi

entah dari mana

lahar panas legam menombak

padahal gunung masih diam

nanah, darah, tangis, keringat, hitam melebur

satu satu gelap

tumbang

meski sekejap tapi lumat

meski telah bertahun

ketakutan itu masih terbayangkan

April, 2006

Herman RN, lahir di Aceh Selatan 1983, Pegiat kebudayaan di Banda Aceh. Menulis cerpen, essay, dan opini di berbagai media lokal dan nasional. Ia adalah alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Puisinya diterbitkan dalam antologi bersama, “Kitab Mimpi” (Aneuk Mulieng Publishing, 2006) dan Kutaraja Banda Aceh (ASA, 2008). Alamat sekarang di Jl. Masjid, Lr. Beringin II No.1 Jeulingke, Kec. Syiah Kuala, Banda Aceh 23114. Hp. 081360109649

Iklan

Filed under: Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: