Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sajak yang Tak Selesai

Cerpen Herman RN

Hari ini aku mendatangi lagi kios penjual koran. Kuambil koran pertama. Aku membalik halaman budayanya. Kuamati sejenak, lalu koran itu kuletakkan kembali pada tempatnya. Kuambil koran lain. Kubuka rubrik budayanya. Sekejap kemudian kuletakkan lagi. Kuambil koran ketiga. Kubaca halaman budayanya sekilas, lalu kuletakkan lagi di tempat semula. Kulirik ke samping sejenak, ke arah penjaga kios. Aku tahu, dia pasti jengkel melihatku saban Minggu seperti ini.

Memang saban akhir pekan ini terjadi. Aku datangi kios penjual koran itu, kubolak-balik halaman beberapa koran, kadang sampai lima atau enam buah koran, lokal adan nasional. Lalu, kutinggalkan kembali koran-koran itu berserta penjualnya yang melepas kepergianku dengan wajah masam.

Pasalanya, aku hanya membuka halaman budaya, yang ada cerpen dan puisinya. Koran itu kuamati satu per satu. Setelah aku tahu namaku tidak ada di sana, kuletakkan kembali.

Pernah sekali aku membeli sebuah Koran di kiosnya.. Ketika itu kulihat nama teman dekatku terpampang di sana sebagai penulis puisi, setelah itu aku tak pernah lagi membeli koran.

Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan puisi. Jika Mak memberikan uang jajan kepadaku, selalu aku sisakan sedikit untuk membeli buku kumpulan puisi. Pada saat duduk di bangku sekolah lanjutan, aku mulai menulis puisi. Semula puisi-puisi itu kutuliskan di buku sekolahku. Lama-kelamaan aku mulai menulisnya di buku khusus. Sengaja kubeli sebuah buku. Buku itu kugunakan hanya untuk puisi-puisiku atau beberapa puisi orang yang aku sangat suka.

Sejak aku menemukan sebuah puisi temanku di salah satu koran di kotaku, aku mulai mngirimkan puisi-puisiku ke Koran. Namun hingga saat ini, entah berapa puisi sudah aku kirimkan, tak satu pun puisiku dimuat. Tapi, aku masih menulisnya. Sampai saat ini aku masih menulis puisi.

Sejak aku mulai suka mengirimkan puisi ke koran-koran, setiap Minggu akhirnya aku menjadi pencari koran. Ya, hanya hari Minggu. Aku datangi kios penjual koran untuk melihat apakah puisiku dimuat atau tidak. Setelah mengetahui tidak ada namaku, koran itu tak jadi kubeli, dan aku pulang sambil merutuk dalam hati. Apa kurangnya puisiku? Mengapa puisi-puisiku tidak mau dimuat? Pertanyaan seperti itu selalu melintas sepulangnya dari kios koran. Menurutku, puisiku tak kalah hebatnya dengan puisi-puisi yang dimuat di koran itu.

Sesampainya di rumah, kubalik kembali buku puisiku. Kupandangi puisi-puisiku. Tatapanku lama pada baris puisi yang sudah kukirim tiga Minggu lalu, tapi belum juga dimuat. Pasti puisi ini belum selesai. Pasti masih ada yang kurang. Demikian pikirku sehingga akhirnya kusisipi beberapa kata lagi di puisi itu. Beberapa kata kuhapus, kuganti dengan kosa kata lain. Ada juga yang kuhapus tanpa kuganti lagi kata-katanya.

Setelah selesai kutulis ulang, kubaca kembali. Lalu beberapa kosa kata kuhapus lagi, kuganti dengan kata lain. Kuhilangkan kata sifat dalam puisiku. Setelah merasa selesai, kubaca kembali, tapi aku masih merasa ada yang kurang. Oh, judulnya harus kuganti.

Hal seperti itu kulakukan berulang-ulang. Terkadang hatiku berontak  ketika ada kata yang mesti kuganti karena mempertimbangkan puisi itu harus kupadatkan. Sebab kata guruku di sekolah, “Usahakan menulis sepadat mungkin. Hindari penggunaan  kata sifat.”

Aku terus melakoni tulis, baca, hapus, lalu ganti dengan kata yang lain. Kupikir sekarang puisiku sudah sempurna. Aku mengirimkan kembali puisiku itu ke koran di kotaku. Kemudian ketika hari Minggu tiba, kudatangi lagi tukang kios penjual koran di seberang jalan rumahku. Aku masih belum mendapatkan namaku tertera di ruang puisi koran itu. Aku pulang dengan menyimpan kesal di hati. Sambil menyeberang jalan aku terus mengutuk koran-koran itu. Mengapa tak kau muat puisiku? Sekali saja, sebagai bukti sajakku telah selesai.

Sayup-sayup kudengar pekikan lantang. Bunyi itu sangat nyaring dan menusuk telinga. Aku memandang ke kanan. Sebuah bus melaju dengan cepat ke arahku. Lalu hitam. Aku mencium bau darah, tapi aku enggan membuka mata. Mataku terpicing, perih.

Perlahan tubuhku seperti melayang di udara. Sangat ringan meliuk-liuk bagai kapas. Samar-samar aku melihat puisi-puisi yang kutulis beterbangan. Puisi-puisi itu hanya diam. Kertas-kertas itu melambai ke arahku seperti ada yang ingin dikatakannya, tapi suaranya tak keluar. Aku baru ingat, puisiku belum kuberikan suara. Bunyi itu. Ya, bunyi yang kudengar sebelum pandanganku gelap tadi. Aku akan bubuhkan bunyi itu ke dalam puisiku. Jika puisiku sudah berbunyi, lengkaplah sudah. Aku tahu, selama ini puisiku belum selesai karena belum ada bunyi. Ah, akan kusisipkan sebuah bunyi dalam puisku, lalu kukirimkan lagi ke koran, batinku kemudian. Lalu, gelap menyelimuti pemandanganku.

Banda  Aceh,  2007

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: