Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

‘Men-Sastrakan’ Guru Bahasa dan Sastra

CIMG0908Matahari tepat di kepala. Cahayanya menembus jendela kaca aula Labchool Unsyiah. Di ruang tengah aula tersebut, terdapat kursi yang ditata membentuk liter U berlapis. Sat per satu kaum ibu memasuki ruangan itu diselingi beberapa kaum laki.


Mereka adalah sejumlah guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Kota Banda Aceh dan Aceh Besar tingkat sekolah menengah. Dibanding guru lelaki, guru perempuan memang lebih mendominasi. Sedangkan di depan kursi liter U itu terdapat dua kursi yang sengaja diletakkan berposisi menghadap kursi yang banyak yang didukui dua lelaki, satu berbadan jangkung dan satu lagi berbadan kurus.

“Apa sebenarnya yang dibutuhkan guru dalam mengajarkan sastra di sekolah-sekolah?” tanya salah seorang lelaki itu. Ia adalah Mukhlis A. Hamid, dosen pengajar mata kuliah sastra di FKIP Unsyiah.

Tak ada jawabab. Ruangan itu hening sesaat, kecuali bisik-bisik antarguru. “Baiklah, kalau begitu, kita coba menjawab beberapa pertanyaan berikut ini. Jawablah dengan jujur,” imbuh Mukhlis.

Lelaki berbadan kurus yang mendampingi Mukhlis kemudian membagikan selembar kertas kepada masing-masing guru. Di kertas itu tertera dua puluh empat pertanyaan yang dibagi menjadi dua kategori besar, yakni yang sering diminta oleh guru untuk dilakukan siswa dan yang sering dilakukan oleh guru itu sendiri. Di antara pertanyaan itu adalah “Guru pernah atau tidak pernah meminta siswa menulis cerpen. Sebaliknya, apakah guru sendiri pernah menulis cerpen?”

Dari tabulasi pertanyaan itu, hasil jawaban guru ternyata mereka, para guru lebih banyak memberikan perintah kepada siswa yang belum tentu mampu dilaksanakan oleh guru sendiri. Sekejap kemudian, dari balik bibir perempuan-perempuan yang rata-rata sudah berkepala tiga itu menyungging sebaris gigi yang mulai pudar putihnya.

“Kelihatan kan, apa selama ini kelemahan guru dalam mengajarkan sastra kepada siswa?” ungkap Mukhlis menyambut tawa riang para guru selepas mencermati jawaban guru atas 24 pertanyaan.

Dosen sastra itu pun lalu menanyakan kepada guru-guru di sana, apa sebenarnya kebutuhkan guru dalam mengajarkan sastra, di mana kewalahan selama ini oleh guru dalam memahami sastra, serta bagaimana trik-trik untuk mengantisipasinya.

Diskusi sekitar sastra pun mengalir seperti matahari yang kian memuncak. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepada Mukhlis yang menjadi fasilitator utama kegiatan tersebut. Sesekali ia mempersilakan Herman RN mendiskusikan pertanyaan dan komentar para guru di ruang tersebut.

“Kendala Ibu-Bapak dalam menulis sebenarnya sederhana, yaitu jangan berpikir terlalu rumit bagaimana menulis itu. Tuliskan saja apa yang sedang kita pikirkan, tak usah memikirkan apa yang akan kita tuliskan. Niscaya tulisan akan jadi,” kata Herman yang menjadi fasilitator pendamping.

Sebelumnya, alumni FKIP Unsyiah itu sempat bercerita sekilas proses kreatifnya menulis cerpen “Ibu” yang menjadi salah satu contoh cerpen dalam diskusi tersebut. Cerpen “Ibu” yang sudah dimuat di Harian Republika setahun lalu itu, kata Herman, merupakan sebuah cerita fiksi yang idenya diambil dari sebuah puisi “Ibuku Bersayap Merah” karya Azhari.

“Maka itu, ide menulis cerpen dapat diambil dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, dan peristiwa-peristiwa sehari-hari yang dekat dengan kita,” sambung Mukhlis.

Sebelumnya, Muhklis dan Herman juga menjelaskan kepada para guru bagaimana mengajarkan membaca puisi dengan baik. Selain itu, kesempatan berdiskusi tersebut juga diperluas kepada beberapa mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah yang berhadir di sana. Edi Mizwar, Risma—mahasiswa semester akhir—dan Desi serta Zulfariani—mahasiswa angkatan muda di FKIP Unsyiah, juga diberikan kesempatan berbagi pengalaman proses kreatif membuar cerpen dan puisi kepada para guru.

Keiatan tersebut merupakan workshop “menulis, membaca, dan mengajarkan sastra” yang digelar gelanggang mahasiswa sastra indonesia (Gemasastrin) FKIP Unsyiah dalam rangka peringatan Bulan Sastra dan Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Paginya, juga digelar seminar pengajaran sastra yang diisi oleh dosen pendidikan dan dosen-dosen sastra FKIP Unsyiah.

“Ternyata sastra, jika benar-benar kita terapkan, akan dapat membuat proses pembelajaran bergairah. Model pembelajaran sastra sepertinya juga cocok diterapkan dalam pembelajaran lainnya agar kelas tidak kaku,” komentar salah seorang guru peserta acara tersebut.(gemas)

Iklan

Filed under: Feature

One Response

  1. Aulia berkata:

    inilah yang kita butuhkan untuk saat ini…
    peran pemerintah dalam beberapa tahun tentang akar budaya kayaknya semakin renggang saja 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: