Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mengalfabetkan Usia Melalui Gambar Bernaratif

Oleh Herman RN,

MAhdi Abdullah BrosurSeorang perempuan berbaju putih dan rok berwarna gelap duduk setengah jongkok sembari menyangga tangannya di lutut. Rambutnya berurai sebahu. Mata perempuan usia dewasa itu menatap sepasang sepatu di depannya, sepatu putih lusuh yang kelihatan sudah sangat tipis tapaknya. Sepintas ia seperti mengamati sesuatu dari sepatu di hadapannya, sesuatu yang sangat mendalam, sesuatu yang memiliki makna tajam untuk sebuah tatapan.

Demikian gambar salah satu lukisan Mahdi Abdullah yang dipamerkan dalam pameran tunggal seni rupa di Episentrum Uleekareng Banda Aceh, 23 Februari sampai dengan 8 Maret baru-baru ini. Lukisan cat minyak di atas canvas ukuran satu setengah meter persegi itu diberi judul “Filosofi Sepatu”.

Di sudut lain, sebuah lukisan lainnya yang diberi tema “Imagi 1” memampangkan empat lembar daun pisang, yang masing-masing memiliki warna dan ukuran berbeda. Dimulai dari sudut paling kiri, sehelai daun pisang yang masih berupa pucuknya, di sisinya sehelai daun pisang yang mulai membesar, lalu di sisi daun yang mulai membesar itu terdapat sehelai lagi yang mulai pecah-pecah dan berwarna agak kuning pertanda daun pisang itu sudah mulai tua. Terakhir, di sudut paling kanan, sehelai daun pisang yang sudah sangat tua, robekan pada helai daunnya lebih banyak dan nyaris rontok dari pelepahnya. Ini gambar lukisan kedua setelah “Filosopi Sepatu” dari belasan lukisan yang dipamerankan dalam acara pameran tunggal pelukis Aceh, Mahdi Abdullah di Galeri Episentrum Uleekareng itu.

Mengamati dua lukisan milik lelaki kelahiran Banda Aceh, 26 Juni 1960 itu jelas memperlihatkan sebuah catatan perjalanan manusia. Di sana terlihat Mahdi hendak mengatakan bahwa usia manusia semakin lama semakin menua. Pelukis mencoba memberikan tamsilan usia itu melalui empat helai daun pisang yang beridiri berdampingan, yang mana satu sama lain memiliki perbedaan warna dan ukuran sebagai simbul usia—anak-anak, remaja, dewasa, lalu tua.

Kendati usia terus berjalan dan secara kodrat alam bahwa semakin tua semakin dekat dengan maut, lewat lukisan lain, Mahdi mencoba memberikan teguran sedikit berbalik. Kematian juga dapat datang tak terduga, tak mengenal usia, jua tak menanti usia tua. Pelukis mengajak melihat kesadaran akan itu, akan apa yang telah dilakukan dan akan kemana langkah selanjutnya sehingga seorang manusia senantiasa siap dijemput maut. Lantas, dari perjalanan usia yang banyak mengandung cerita itu, ada sejumput tanya dihadirkan pelukis, “Siapa yang menjadi saksi sebuah perjalanan? Siapa teman sejati dalam sebuah perjalanan?” Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dan dijawab Mahdi melalui lukisan “Filosofi Sepatu”, yang persis di letakkan di depan pintu masuk galeri pameran tersebut. Artinya, saat orang berkunjung ke pameran itu, ketika masih berada di depan pintu, mata pengunjung akan langsung menangkap lukisan “Filosopi Sepatu”. Tentunya pengunjung akan diingatkan pada sepatunya, yang bahwa dilarang masuk memakai sepatu. Ini makna “Filosopi Sepatu” jika dilihat dari letak posisinya yang tepat di depan pintu. Namun, di sisi lain, yang dimaksud oleh “Filosopi Sepatu” adalah sebuah saksi perjalan.

Sepatu putih yang dipandang seorang perempuan muda yang saya sebutkan dalam pembuka tulisan ini merupakan kunci dari lukisan “Filosofi Sepatu”. Bahwa yang menemani dan menjadi saksi perjalanan manusia adalah kaki atau alas kaki tak dapat dipungkiri, sehingga kedudukan sepatu ditafsirkan Mahdi sebagai sebuah saksi perjalanan.

Sebagai ureueng Aceh yang beragama Islam, Mahdi yang juga bekerja sebagai redaktur ilustrasi pada Tablodi Mingguan Kontras, itu mencoba menegaskan firman Allah dalam Al-Quran yang mengatakan semua yang ada di tubuh manusia akan diminta pertanggungjawabannya. Salah satunya adalah kaki. Ke mana pun orang berjalan—ke tempat baik, maupun ke tempat buruk—kaki pasti mengetahui, di samping anggota badan lainnya. Kaki yang letaknya di bawah menjadi tukang bawa sekujur tubuh ke mana pun pergi. Mata sekedar memandang, kuping sekedar mendengar, hidung sekedar mencium, tangan sekedar meraba, tapi untuk sampai pada apa yang dilihat, di dengar, dihidu, sehingga dapat diraba, kakilah yang membawa ke sana. Karenanya, Mahdi mencoba-tafsirkan semua itu melalui “Filosofi Sepatu”. Sungguh sebuah kreativitas luar biasa ketika Mahdi berhasil mentafsirkan firman Allah ke atas sebuah lukisan.

Namun, timbul pertanyaan, mengapa harus sepatu, mengapa bukan sandal? Ada yang membuat pelukis yang baru saja memperoleh Asia Creative Art Exhibition 2008 di Tokyo, Japan, itu memilih sepatu sebagai filosofinya, bukan sandal, atau bukan sepatu yang dipasangkan dengan sandal. Analoginya adalah sandal tidak dapat menutupi seluruh belakang kaki. Artinya, ada permaian simbul di sini bahwa sepatu memiliki mata kaki, sedangkan sandal tidak. Selain itu, jika sandal kekecilan, masih dapat dipaksakan pakai di kaki. Demikian juga jika kebesaran, masih dapat digunakan. Namun, semua itu tidak berlaku pada sepatu. Jika kekecilan, sepatu tidak mungkin dipakai, karena bisa robek atau kaki yang akan kesakitan. Jika kebesaran, akan membuat susah melangkah, sebab kedodoran. Hal lain kelebihan sepatu ialah dapat menyerupai sandal bilamana bagian belakangnya dipijak. Akan tetapi, sandal, apa pun keadannya, tidak dapat menjadi sepatu. Ini yang seolah menjadikan sepatu sebagai pilihan Mahdi dalam berfilosofi mengeja perjalanan usia.

Jika sepatu adalah saksi perjalanan dan daun pisang adalah simbul usia, sudah barang tentu, umumnya lukisan-lukisan Mahdi tersebut berupa alfabetis perjalanan usia pada manusia. Untuk itu, sebagai bekal menghadapi akhir dari sebuah perjalanan, perlu persiapan. Persiapan tersebut dipertegas Mahdi lewat lukisannya yang lain, yang diberi tajuk “Menunggu”.

Pada lukisan berjudul “Menunggu”, terlihat dua orang perempuan bermukena duduk di kursi sembari menatap jauh ke depan. Gambar itu menyiratkan dua orang perempuan yang baru saja selesai salat, lantas menunggu sesuatu. Entah menunggu azan berikutnya atau menunggu suami pulang, namun dalam konteks ini, saya menyatakan mereka sedang menunggu ajalnya. Tafsiran ini guna mengeratkan penafsiran pada lukisan-lukisan lainnya, termasuk “Filosofi Sepatu” dan “Image 1”. Setelah sepatu sebagai simbol saksi perjalanan, lalu daun pisang simbol usia, maka menunggu akhir usia (mati) perlu dibekali dengan ibadah. Itu sebabnya, pada lukisan “Menunggu”, Mahdi memberi gambar dua orang perempuan bermukena sembari menatap jauh ke depan. Dalam mengalfabetkan perjalan usia, yang di dalamnya ditamsilkan Mahdi lewat saksi sepatu hingga harus menunggu, tentu memiliki lika-liku perjalanan. Lika-liku itu bisa bahagia (manis), bisa pula susah/sedih (pahit). Hal ini ditamsilkan Mahdi lewat lukisan-lukisan yang lain. Lukisan “Yang Dijepit dan Yang Menjepit” misalnya, menggambarkan susah-payah kehidupan. Kemudian “Tenda Biru” yang menyiratkan kehidupan di bawah tenda (korban konflik dan bencana alam), lukisan “Kembali” menyiratkan kehidupan masyarakat pedesaan, lukisan “Di Antara” menyiratkan perbandingan kehidupan orang kota dan orang desa—untuk lukisan ini ada makna westernisasi kultur–, dan sejumlah lukisan lainnya, yang intinya adalah perjalanan kehidupan manusia mulai menatap dunia hingga menuju kematian.

Mengamati semua itu, lukisan-lukisan Mahdi yang dipamerkan dalam pameran tunggal oleh Komunitas Tikar Pandan itu dapat ditafsirkan sebagai cerita kehidupan dalam perjalan usia manusia. Mahdi mencoba mengalfabetkan usia makhluk hidup lewat lukisan-lukisannya yang bernaratif realisme. Yang sangat penting adalah lukisan-lukisan itu tidak jauh berkisar bercerita tentang Aceh, kota kelahiran dan tempat besarnya si pelukis. Ini dapat dilihat dari naratif per lukisan, ada tenda, ada perang, ada pohon yang tumbuh gersang akibat bencana, ada rencong, dan sejenisnya, di samping lukisan-lukisan yang sudah saya sebutkan sebelumnya di awal tlisan ini. Semua itu menunjukkan keresahan pelukis mengamati negerinya sekaligus pencarian diri si pelukis dalam memaknai hidup dan kehidupan. Keresahan peluki ini dalam menapaki usia disiratkannya melalui pengerjaan visual dari cat minyak di atas canvas sehingga membentuk sebuah cerita perjalanan. Artinya, Mahdi hendak mengatakan, bercerita tidak hanya bisa melalui seni tutur atau menulis, tetapi juga seni lukis. Ini adalah hal baru di Aceh, terutama pascabencana mahadahsyat gempa dan gelombang tsunami.

Alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bergiat di Gemasastrin dan Teater Nol Unsyiah.

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: