Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Bunyi yang Hilang

Herman RN

Setiap hari aku lihat bapak ini di sini. Berputar-putar sepanjang jalan ini seperti orang gila. Tapi aku tahu dia tidak gila.

“Apa yang kau lakukan di sini, Pak?”

Sang Bapak hanya diam. Memandang sebentar ke arah asal suara. Ia menatapku. kemudian menggerakkan kepalanya, seolah-olah sedang mencari asal suara. Kupingnya digoyang-goyangnya dengan telunjuk.

“Pak, Bapak sedang mencari apa?” Aku kembali bertanya.

Bapak itu menatapku sesaat. Diam. Aneh, sejak tadi pagi kulihat bapak ini hanya di sini. Hilir mudik. Entah apa yang dicarinya. Kutaksir umurnya sekitar enam pulah-an. Jelas kelihatan dari guratan di wajahya yang keriput dan napasnya yang semakin ngos-ngos-an. Ya, sejak aku pergi ke kantor pagi tadi bapak ini sudah di jalan ini. Berjalan dari persimpangan jalan belok rumahku sampai ke tekongan ujung jalan itu. Lalu balik lagi. Aku tak tahu entah berapa kali kiranya bapak ini hilir mudik dari pangkal ke ujung. Dan entah berapa orang pula mungkin yang menyapanya karena menganggapnya gila.. Ahk, kukira bapak ini tidak gila. Hanya saja pasti ada sesuatu yang dicarinya. Tapi apa ya?

“Bapak sedang mencari apa?” Sapaku kembali dengan suara sedikit kubesarkan. Karena perkiraanku bapak itu sudah kurang jelas pendengarannya.

Bapak itu menatapku tajam. Sorot matanya menggambarkan kemarahan. Aku gelagapan.

“Kamu kira saya tuli?!” Suara bapak itu lebih tinggi dari suaraku.

“M…ma..maaf, bukan begitu maksud saya. Saya hanya ingin membantu Bapak.”

“Kamu yang pekak! Telingamu sudah disumbat janji-janji. Matamu sudah situtup mimpi-mimpi.”

Sesaat panas menjalari seluruh tubuhku mendengar kata-kata bapak itu, mukaku merah. Kalau saja tidak memikirkan ia orang yang sudah tua, mungkin sudah kuberikan bogem mentah sebagai makan siangnya. Aku melihat wajah bapak di kampung di wahnya, hatiku langsung luruh.

Sebagai orang yang baru pindah ke kota ini, aku harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Apa lagi di sudut kota ini adalah bekas basis konflik. Sedikit penyesalan mengenang di hati. Mengapa aku harus di tempatkan di daerah ini. Seandainya tes CPNS kemarin aku mengambil di daerah lain, pasti tak kutemui kata-kata menyakitkan ini. Akh, inilah sebab dari kebanyakan memilih peluang kelulusan. Aku tak boleh menyesal. Ini pilihanku.

“Pak, Bapak mencari sesuatu? Ada yang hilang?” Aku kembali bertanya sebab kulihat bapak itu masih menyisip rumput rumput di pinggir jalan.

“Sudah tahu, nanya lagi.”

“Maaf, Pak, apanya yang hilang?”

“Sudah kubilang, kau itu buta. Apa kau tidak melihat aku sedang mencari sesuatu? Apa kau tidak menyadari ada yang hilang dari sini? Apa kupingmu tidak mendengar? Apa matamu sudah buta?!”

“Maaf, Pak, saya tidak mengerti maksud Bapak.”

“Dasar anak muda zaman sekarang, taunya hanya mencari ke depan tanpa dapat menoleh ke belakang. Yang dipikirkan hanya uang.”

“Saya benar-benar tidak mengerti, Pak.” Ujarku sungguh-sungguh.

“Saya sedang mencari sesuatu, Nak. Sesuatu yang telah hilang dari sini.” Suara bapak itu mulai lembut melihat kesungguhanku.

“Sesuatu? Sesuatu yang hilang?”

“Ya, saya sedang mencari sesuatu yang sudah lama hilang dari tempat ini. Sudah lama saya tidak mendengarnya lagi. Saya rindu bunyi itu, Nak.”

“Bunyi?” Aku tambah bingung. Bapak itu kelitannya mengerti kalau aku kebingungan.

“Ya, Nak. Dulu di sini, di jalan ini, bunyi itu selalu berdengung. Dari jarak yang masih puluhan meter, saya sudah mendengar bunyi itu. Bunyi seperti seruney panjang tanda kematian. Kemudian bunyi itu berubah seperti angin yang keluar dari celah terjepit. Mencicit seperti suara burung hantu terjepit. Ketika itu saya melihat sebuah mobil. Mobil yang ditakuti orang-orang sini. Semua orang yang mendengar bunyi itu pasti minggir jika sedang berada di jalan ini. Kini bunyi itu telah hilang, Nak. Saya sudah mencarinya ke sana-sini.” Suara bapak itu benar-benar menampakkan keseriusan.

“Saya masih belum mengerti, Pak. Bunyi seperti apa kiranya yang bapak maksudkan?”

“Saya sedang mencari bunyi klakson.” Jawab bapak itu singkat.

“Klakson?” Aku tambah keheranan.

“Ya. Klakson mobil.”

“Klakson mobil? Bukankah setiap hari di jalan ini sering dilewati banyak mobil? Apa mobil-mobil itu tak mempunyai klakson, Pak? Kalau begitu biar kubunyikan klaksonku.” Ujarku sedikit bercanda sambil membunyikan klakson sepeda motorku.

Bapak itu malah menertawakanku. “Bukan. Bukan bunyi klakson itu. Kalau bunyi seperti itu sering saya dengar. Tapi ini lain.”

“Maksud Bapak?”

“Dasar anak muda.” Bapak itu tersenyum kecut memandangku. Aku tambah keheranan melihat tingkahnya yang rada-rada aneh itu. Tiba-tiba sebuah bus lewat sambil membuyikan klakson di persimpangan jalan.

“Nah, itu? Itu kan suara klakson mobil.” Ujarku spontan.

Bapak itu terkekeh. “Tidak sama anak muda. Itu hanya mobil biasa. Semua mobil juga bisa melakukannya. Tapi ini lain.”

“Maksud Bapak?”

“Baiklah, akan saya katakan padamu. Dengar, di sini dahulu sering dilewati mobil hitam. Atasnya kadang ditutupi terpal. Mobil itu mengangkut orang-orang yang serba hitam juga. Kadang berbaju loreng, dan menenteng senjata. Bunyi klaksonnya sangat nyaring. Dari jarak seratus meter pun saya sudah dapat mengenali bunyi klaksonnya. Kalau berhenti mobil itu sering buang angin deras. Kemarin saya sangat takut dengan bunyi itu, tapi sekarang saya merasa kehilangan.”

“Maksud bapak, mobil Tentara?” Mataku sedikit memicing. Keningku berkerut.

“Entahlah, saya tidak tahu. Yang saya tahu mobil itu membawa orang-orang bersenjata. Kemana perginya mereka? Kau tau, Anak muda? Saya hendak bertanya pada mereka, mobil apa itu, mengapa orang-orang lari ketika mobil itu datang.”

Belum sempat aku memberi komentar pertanyaannya, bapak itu telah angkat suara kembali. “Saya juga tidak mendengar lagi bunyi letusan. Dulu, di kampung ini setiap malam kami pasti mendengar bunyi letusan yang dimainkan. Dari jauh letusan itu seperti suara orang menabuh Rapa’I. Atau bahkan siang juga terkadang bunyi itu ada. Saya rindu suara-suara itu lagi, Anak muda. Saya sudah mencarinya. Apa di tempatmu ada?”

“Mengapa Bapak sangat menginginkan suara itu? Apa membuat Bapak merindukannya?” Aku mencoba basa-basi.

“Kau benar-benar muda, tidak tahu apa-apa. Bunyi itu mengandung sejarah, Anak muda. Tidak semua kampung mendapatkannya. Apa lagi di kota-kota besar seperti Ibu kota. Kau tahu, ketika suara itu sudah berada di jalan ini, semua orang menutup pintu rumahnya. Aneh bukan, ada orang yang takut dengan bunyi? Itu sangat menarik buatku. Sementara sekarang?”

Bapak itu berhenti sebentar. Ia menarik napas. Kemudian, “Sekarang hanya ada anak-anak muda yang membawa sepeda motornya seperti di kejar hantu. Suara sepeda motornya hanya bisa membuat risih pengguna jalan.Kalau dulu, mereka tak berani seperti itu. Jangankan untuk ngebut, membawa ke jalan saja sepeda motor yang bunyinya seperti guntur itu mereka tak berani. Mereka takut dengan bunyi mobil hitam itu. Saya sangat merindukan bunyi itu, Anak muda. Tolong beritahu saya, di mana saya bisa mendapatkan kembali bunyi itu?” Kulihat permohonan tulus di wajah bapak itu.

“Em…emh… Anu…”

“Sudahlah, kau pasti tak bisa menunjukkannya. Aku tahu kau sendiri tak pernah lagi mendengar bunyi-bunyi itu. Sebaiknya kau pulang saja. Teruskan pekerjaanmu. Kau masih terlalu muda. Biarkan saya saja yang mencarinya.”

“Tapi….”

“Sudahlah. Jalanmu masih panjang.”

Aku tak bisa menolak permintaan bapak itu. Entah mengapa, aku menuruti perkataannya. Aku pulang dengan hati hampa mengemban seribu tanya. Kasihan bapak itu, pikirku.

***

Keesokan harinya, Sepulang dari kantor, jalanan macet di kawasan persimpangan jalan itu. Ah, tidak biasanya jalan kecil ini macet. Rasa kesal merona di hati. Kepada seseorang yang berada di pinggir jalan aku bertanya. “Maaf, ada apa ya?”

“Ada yang ketabrak.” Jawab orang itu.

“Ketabrak? Siapa?”

“Seorang bapak-bapak.”

Sepeda motorku aku parkirkan tepi jalan. Aku menyeruak kerumunan. Kudapati seorangorang tua terkulai bersimbah darah di tengah kerumunan itu. Kerut di dahinya menyiratkan sesuatu, seperti orang yang  bertanya. Kepalanya pecah. Otak berhamburan di sekelilingnya. Bau darah langsung menusuk hidung.

Kepalaku tiba-tiba pusing. Aku menatap wajah yang dari kupingnya masih mengalir darah segar. Matanya terbelalak. Tak ada yang peduli. Semua hanya memandangnya. Oh, bibirku menganga. Bapak yang mencari bunyi? Darahku berdesir. Masih kuingat kata-katanya kemarin siang. “Aku ini sudah tua, biarkan aku yang mencari bunyi itu. Sebaiknya kamu pulang saja. Kamu terlalu muda untuk mengenal bunyi itu.”

Aku kembali melontarkan pertanyaan kepada seseorang di sampingku. “Mengapa?” hanya itu yang mampu kukeluarkan. Selebihnya tersekat di tenggorokan.

“Bapak ini tadi sedang melintasi jalan ini, tiba-tiba sebuah mobil minyak lewat. Mobil minyak itu melindasnya setelah beberapa kali membunyikan klakson bapak itu tidak juga menepi.”

Otakku berputar mendengar penjelasan orang itu. Bapak ini benar-benar tak mendengar lagi bunyi apa-apa selain bunyi yang ia idam-idamkan? Kepalaku semakin pening. Aku seperti melihat wajah ayah di kampung saat menatap wajah bapak yang tak berkutik lagi itu. Ia seakan memanggilku. Dan aku… Ah. Ada Yang menusuk-nusuk syaraf otakku. Aku hanya sempat mendengar suara serunai mobil ambulan sebelum kegelapan benar-benar menemaniku. Dan beberapa tangan memapahku. Memboyongku entah kemana. Lalu decit rem menjerit di telingaku, lalu aku tak mendengar apa-apa lagi, tak melihat apa-apa lagi. Kecuali gelap.

Aceh, Maret 2006.

Cerpen ini sudah dimuat di Koran Rakyat Aceh, 2006.

Iklan

Filed under: Cerpen

One Response

  1. ttbdolafb berkata:

    qfjOFf lvayfnpatzbl, [url=http://nssylvibefjb.com/]nssylvibefjb[/url], [link=http://nvzoxvzeevrk.com/]nvzoxvzeevrk[/link], http://wvvygdcysvkg.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: