Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Cerita Nenekku

oleh Herman RN

tatapKetika aku kecil, aku tinggal dengan neneku. Sebagai orang zaman (orang lama) nenekku sangat banyak punya cerita. Dia sering bercerita padaku ketika malam sebelum tidur. Waktu itu sebelum tidur nenekku mencari kutu di kepalaku. Seraya menyisipkan jemarinya ke sela-sela rambutku, nenek terus bercerita. Sebelum bercerita kadang dia bertanya padaku tentang cerita malam kemarin. “Kemarin malam cerita tentang apa?” begitu tanya nenek. Setelah kujelaskan sedikit cerita malam kemarin, nenek berkata, “O, kalau begitu malam ini cerita tentang….” Begitulah nenek memulai bercertia kepadaku setiap malam. Dan aku, menjadikan cerita nenek dalam gayaku bertutur saat menulis cerpen hingga aku pun dikenal oleh kawan-kawanku sebagai penulis cerpen. Menariknya lagi, dari sejumlah cerita nenek, ada yang kutulis ulang dan kuikutkan dalam lomba. Eh, ternyata semua cerita nenek yang kuikutkan dalam lomba itu menang. Rata-rata juara pertama pula.

Malam ini, usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku baru saja tiba dari Banda Aceh tadi siang, tapi malam ini aku kembali minta cerita nenek. Nenek bercerita kepadaku tentang Seekor Kodok dan tentang Putri Babi. Cerita-cerita ini sangat menarik, terutama dari segi alur sehingga aku merasa ada hal baru yang belum kudapat pada cerpen-cerpenku sekarang kudapatkan dalam dua cerita malam ini. Kisah Putri Babi, misalnya, ketika hendak melupakan nasihat bundanya. Alur yang dipakai menciptakan suspens yang sangat menarik dalam kisah zaman itu. Begitu juga dengan cerita Seekor Kodok yang beranak manusia. Dialog kodok ketika meminta perlindungan dari berbagai macam jenis tumbuhan, menimbulkan suspens unik dalam sahibul hikayat.

Adapun cerita itu, belum hendak kuceritakan di sini. Cerita itu sangat berharga di hatiku. Apalagi, setelah sekian lama aku tak pernah mendengar cerita nenek. Ah, sungguh mengasyikkan mendengar cerita nenek daripada aku membaca cerpenku sendiri. Tetunya aku merasa sangat beruntung punya nenek seperti nenekku. Oh, nenekku.

Setelah tamat dua cerita malam ini diceritakan nenek, keesokan malamnya aku lupa minta nenek bercerita, karena aku masih asyik menyalin ulang cerita malam kemarin. Malam besoknya lagi aku baru minta nenek bercerita kembali. Namun, dikarenakan malam esok itu adalah malam lebaran, nenek tak sempat bercerita. Aku sendiri pun pergi takbiran. Malam besoknya lagi, yaitu malam lebaran kedua, aku kembali minta nenek bercerita. Nenek baru saja menyebutkan judulnya, yaitu Putri Cabai. Belum sempat nenek memulai cerita, paman datang dan berkata, “Mak, malam ini tolong tidur di rumah, saya hendak ke rumah mertua.” Akhirnya nenek gagal lagi bercerita malam ini. Nenek pergi ke rumah paman karena paman dan istrinya akan berlebaran ke rumah mertuanya.

Malam lebaran ketiga aku tidak minta nenek bercerita tentang Putri Lado atau Putri Cabai, tapi aku hanya bertanya, “Nek, dari mana Nenek dapat cerita-cerita itu?”

“Dari nenekku,” jawab nenek.

“Neneknya nenek dapat dari mana?”

“Dari neneknya pula.”

Ternyata begitulah adanya. Nenekku mendapatkan cerita-cerita unik itu dari neneknya. Nenek dari nenekku dapat dari neneknya pula. Begitu seterusnya. Artinya, cerita yang kuperoleh dari nenekku adalah cerita turn-temurun keluarga kami. Dua cerita yang sudah kudapatkan dari nenek, memperoleh juara lomba. “Seekor Kerbau dan Dua Anak Manusia” dapat harapan I tingkat nasional tahun 2006 yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Jakarta. Selanjutnya, dongeng “Gadis Pencari Rebung” juara I tingkat provinsi tahun 2006. oleh dinas Kebudayaan Aceh.

Kata nenek, di samping kepadaku, cerita-cerita itu juga sudah pernah diceritakan pada anak-anaknya. Pantaslah ketika nenek bercerita tentang Putri Babi, bibi juga sesekali ikut menyela. Bahkan, terkadang bibi terkesan meluruskan cerita nenek yang terlupa (maklum, nenekku sudah sangat tua).

Sayang sekali aku tak dapat bertahan lama di kampung. Aku harus segera balik ke Banda Aceh. Di samping hendak menyelesaikan skripsi, aku juga merasa kesepian, karena di kampungku belum ada internet sehingga aku kurang teman bercerita. Hari Raya kelima, aku langsung balik ke Banda Aceh.

Karena aku merasa masih ingin mendengar cerita nenek, timbul niat di hatiku, secepatnya aku akan pulang kembali ke kampung untuk mendengar nenek bercerita. Tanpa sengaja mulutku berucap, “Ya Allah, panjangkanlah umur nenekku. Aku belum puas mendengar beliau bercerita, ya Allah.” Setelah memohon dengan amat sangat seperti itu, selepas salat aku jadi ingat. Apa hakku menahan kehendak Allah sehingga meminta dipanjangkan umur nenekku. Bukankah nenekku sudah tua sekali? Jika Allah menghendakinya sekarang adalah wajar. Mengapa pula aku memohon untuk jangan dahulu demi kepentingan pribadiku? Jangan-jangan nanti nenek tersiksa dengan bonus umur yang kuminta pada Allah. Timbul rasa bersalah dan penyesalan di hatiku setela itu, tapi akhirnya kubawa hati tenang dengan mengingat statusku sebagai manusia lemah dan selalu merasa kekurangan. Aku semakin sadar, jika sampai waktunya, semua manusia akan merasakannya. Tidak akan ada yang dapat menunda atau mempercepatnya.

Akhirnya.. “Nek, aku pasti merindukanmu. Selalu!!!” desirku.

Aceh, awal tahun 2007.

Iklan

Filed under: Memory

2 Responses

  1. fida berkata:

    nenek yang baik….. ceritnya jngan lupa diceritain lagi turunan ya… biar gak ilang.

  2. Tilita berkata:

    Ceritanya bagus.
    Aq jg punya ne2k yg pux bnyk crta.
    Selalu brcrta setiap mlm bwt aq.
    Tp skrng aq gag bisa m’ndngar crta2nya.
    Karna..Ne2k udh gag isa ngomong.
    Aq jg sngt merindukan ne2k qu n certa2x.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: